sura-dira-jayaningrat-entrepreneur
BUKAN MENANG-KALAH. Berdasarkan kesejarahan dan arti-kata, istilah "sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti", artinya lebih dekat kepada leadership. (Photo: entrepreneur)
in

Arti “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”

Bukan tentang menang-kalah. Lebih berhubungan dengan leadership dan kemanusiaan.

Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti.

Kalimat itu menggunakan “guru-lagu” 8a 8i. Coba hitung suku-kata (silabi) kalimat itu.

Jelas itu berasal dari tembang macapat.
Kalimat itu dari Serat Witaradya, pada pupuh Kinanthi, karya Ranggawarsita.

Kemudian banyak dikembangkan dan dimodifikasi dalam pertunjukan maupun pidato, tetapi setahu saya, asalnya dari kitab itu.

sura: kendel, wani. Berani.

dira: kukuh, panggah, kendel, wani. berani.
jaya: unggul, menang.

ningrat: ning jagat. di bumi. Maksudnya “jagat” itu bumi, walaupun secara literal itu jagat raya (kosmos, alam semesta).

lebur: lebur, sirna, ajur, luluh. “Lebur”itu bukan hilang, tetapi bertransformasi ke wujud lain. Dari besi padat lalu dicairkan, itu dilebur. Dari 2 bahan menjadi satu, itu dilebur.

dening: oleh. Ini bukan hubungan kausatif. Jadi, “dening” itu bukan “dikarenakan”, bukan “disebabkan oleh”.

pangastuti: pamuji (doa), pangabekt (penghormatan sebagai tanda kesetiaan)i. Ini semacam pengabdian, konsistensi, seperti orang yang beribadah atau setia pada suatu prinsip.

Yang mau pintasan, bisa membuka kamus Jawa Kawi. Ada banyak sekali di internet dan bisa periksa artinya.

Jadi, kalau diartikan, kalimat itu bukan tentang watak angkara, juga bukan tentang kejahatan. Ini tentang keberanian di dunia yang disirnakan dalam bentuk penghormatan. Dari kuat menjadi tak-terlihat, dari kuat menjadi penghormatan, pengabdian.

Kalau maknanya, bisa bermacam-macam.

Ranggawarsita itu pakarnya bahasa Jawa. Dia poliglot (bisa beberapa bahasa). dia menyembunyikan “nama samaran” ke dalam tembangnya. Dia membuat kitab wayang, mempribumikan cerita Ramayana, Mahabarata, dan Baratayudha. Dia yang menuliskan panduan aksara Jawa dalam bentuk kitab Mardi Kawi dan dipakai para sejarahwan sampai sekarang.

Dan kalimat yang dia tuliskan, tidak mudah dicerna sekali dua kali. Artinya berlapis-lapis.

Satu hal yang menarik, walaupun Ranggawarsita berasal dari keraton, dia berani mengkritik budaya Jawa dengan tembang yang tetap membuat orang melakukan refleksi. misalnya, tentang Kalatida.

Jadi, kalimat “sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” maknanya bisa bermacam-macam. Tergantung perspektif pembacanya dan cara membacanya.

Apakah orang yang gagah berani lalu keberaniannya tidak tampak lagi, menjadi bentuk pengabdian? Apakah kekuatan di dunia yang hilang oleh doa? Ataukah tentang orang-orang kuat yang sudah berubah oleh kekuasaan?

Ada yang mengartikan “segala bentuk kejahatan akan sirna oleh kebaikan”, tetapi kalau dikembalikan arti aslinya, saya pikir tidak demikian. Coba lihat lagi arti kata-katanya satu per satu.

Yang jelas, itu kalimat bukan soal menang-kalah, bukan sekadar kejahatan dikalahkan oleh kebaikan. Lebih dekat ke arah “leadership” (kepemimpinan). Kalau kemudian kalimat ini direduksi maknanya menjadi “siap perang” atau “kebenaran pasti menang”, pasti karena tidak membaca Ranggawarsita dan tidak membuka kamus Jawa Kawi[dm]

What do you think?

3369 points
Upvote Downvote