picsum for sakjose

Belajar Bicara

Harus bisa berbicara, bukan berarti harus sering berbicara.

Sebagian besar orang, sering bikin pagar. Bicara dengan kawan dekat, karena hanya kawan dekat ini yang memahami cara kita berbicara. Bahkan mencari orang yang bisa menerjemahkan ide kita menjadi tulisan yang terstruktur, rapi, dan layak dibaca publik.

Mereka bisa bicara setiap saat, namun membatasi dirinya ke zona-nyaman bernama bukan-public-speaking.

Yang mengherankan, sebagian dari orang-orang ini, bisa menulis dengan baik. Banyak yang bukan orator-andal memiliki kemampuan menulis bagus.

Singkatnya, ketidakmampuan berbicara, berujung pada biaya mahal.

Menganggap kemampuan ini hanya bawaan segelintir orang, atau “gift” (bakat), lebih mahal lagi harganya. Akhirnya, seumur hidup, mereka menjadi “penonton” yang mengagumi cara orang melakukan orasi.

Pengajian disukai, kalau lucu. Pidato politik disukai, kalau berapi-api. Setiap saat, kita bisa berbicara, namun ketika memeriksa cara kita berbicara, terlalu banyak kelemahan: struktur argumen lemah, pemilihan diksi banyak yang tidak tepat, tidak memahami emosi lawan-bicara, dst.

Kita sejak awal tahu, “bicara itu seni”. Ada ukuran dan ilmu di balik bicara. Dan ketika kita tidak mau mendalami kemampuan “berbicara”, maka harga mahal datang: mempekerjakan orang, atau, menjadi penonton.

Sebaiknya, pelajari cara kita berbicara. Setiap saat kita berbicara, terpaksa berbicara, diajak berbicara, harus berbicara. Itu artinya, harus bisa berbicara.

Setiap saat akan menjadi kesempatan dan setiap orang akan “berbalik” menjadi orang yang mendengarkan.

Dan jika kita berbicara sebaik kita menulis, maka menulis akan “semudah” dan “secepat” kita berbicara. [dm]