in

Saya Pelajari Ini Kurang dari 24 Jam

Banyak hal bisa saya pelajari, secara otodidak. Per subject, kurang dari 24 jam.

Satu yang perlu diingat: mengkonsumsi informasi tidaklah identik dengan belajar. Membaca saja, sebagus apapun itu, tidak sama dengan belajar. Membaca hanya langkah awal dalam belajar.

Banyak hal saya pelajari secara otodidak. Sekolah tidak banyak mengajarkan hal-hal yang saya pelajari. Seperti: mengambil keputusan, mengatur waktu, menulis kreatif, cryptocurrency, negosiasi, problem solving, strategi berpikir, bagaimana cara kreatif, dll. Berita baiknya, kamu bisa pelajari semua itu, jika kamu mempelajari cara belajar.

Baru disebut “belajar” kalau kamu punya tujuan, menetapkan waktu (kapan bisa selesai), bisa mengukur hasilnya, dan kamu terapkan. Hanya “tahu”, bukanlah belajar.

Tetapkan tujuan belajar. Yang tidak terlihat, akan menjadi terlihat. Tujuan adalah petunjuk awal kamu. Tujuan sebaiknya spesifik. “Saya ingin belajar filsafat..” itu tujuan buruk karena tidak spesifik.

Kamu malas mempelajari ini? Biasa. Itu sesuatu yang alami. Semua orang suka malas.

Untuk mengatasi malas, coba jawab 4 pertanyaan berikut:

Apa yang terjadi pada diri saya di masa mendatang, jika saya tidak mempelajari ini?

Nilai kamu berantakan. Tugas kamu tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Memalukan sekali jika ada yang bertanya, kamu tidak tahu ini. Apa jawabanmu, menentukan kamu akan belajar atau tidak.

“Kapasitas belajar itu pemberian; kemampuan belajar itu skill; dan keinginan belajar itu pilihan.” (Brian Herbert)

Kalau kamu sudah merasa bisa, apakah kamu tidak ingin tahu perkembangan terbaru dari subject yang akan kamu pelajari ini?

Banyak kawan saya merasa mengerti internet, dalam pengertian bisa memakai, tetapi tidak tahu trend internet terkini. Mereka tidak tahu Web 3.0, cryptocurrency, artifisial intelligence, dll. Dengan kata lain, jangan biarkan informasi kamu out-of-date dan bertentangan dengan perkembangan terbaru.

Kalau kamu merasa kesulitan, apakah kamu tahu bahwa “selalu ada” cara terbaik dan tercepat untuk mempelajari ini?

Internet tempat sumber daya yang selalu bertambah baik, tinggal bagaimana kamu bisa menyingkirkan yang tidak-penting dan fokus pada prioritas terbaik. Mengapa tidak kamu lakukan? Setidaknya, buatlah manual untuk diri kamu sendiri.

Biasakan membuat “manual untuk diri saya sendiri”. Itu salah satu rahasia kecerdasan Leonardo Da Vinci. https://jatengtoday.com/rahasia-kecerdasan-leonardo-da-vinci-28098

Saya pernah “tersesat” ketika belajar Photoshop. Saya memasuki hal praktis yang menyesatkan.

Kesempatan apa yang akan tersedia jika saya pelajari ini?

Jawaban untuk pertanyaan ini adalah janji untuk menemukan pola baru. Menemukan “Angsa Hitam”.

Sesuatu yang belum dilihat orang lain namun kamu temukan peluang.

Cari Model Terbaik

Misalnya, kamu ingin belajar “grammar” bahasa Inggris. Coba lebih spesifik, “grammar” dalam bentuk apa? Jika kamu tentukan “grammar untuk penulisan artikel ilmiah”, cari model yang paling bisa kamu andalkan. Oxford, Cambridge, DK Publisher, memiliki panduan terbaik untuk masalah “grammar”.

Kamu harus memasuki proses. Jalan yang tidak mudah. Kamu perlu terbenam di situ, tenggelam, kelaparan, dan kepanasan dalam rute bernama proses. Dengan proses, apa yang kemarin kamu percaya sulit, ternyata mudah nantinya. Dengan proses, apa yang kamu percaya sudah kamu kuasai, ternyata kamu belum begitu mengerti. “Proses” adalah kata lain untuk “pengalaman”. Aktivitas otentik di mana kamu secara sadar “melakukan ini”, bertemu “masalah”, dan sesuatu yang belum ada di bacaan manapun.

Kuantitas Membentuk Kualitas

Kalau kamu bisa melukis dan mengatakan, “Lukisanku ini sangat bagus..”.

Tunggu dulu. Berapa kali kamu lakukan itu? Kamu bandingkan dengan lukisan kamu yang mana?

Kuantitas adalah jalan sesungguhnya dari kualitas. Kuantitas adalah nama lain untuk “kebiasaan”, “rutinitas”, dan “ritual”, yang berhubungan dengan proses kreatif kamu. Setelah 100 kali menulis artikel, saya baru menemukan jalan kreatif saya. Setelah selalu tertekan dengan situasi di sekitar yang tidak tenang sama sekali, saya bisa menulis dan gangguan itu nggak berpengaruh sama sekali, karena saya bertaruh dengan diri sendiri demi “kuantitas”.

Belajar setiap jam 9-10 pagi adalah kuantitas, karena ada “setiap” di dalamnya.

Setiap ada artikel, pikiran saya secara otomatis bertanya, “Artikel ini menjawab masalah apa?” adalah “reaksi otomatis” yang membuat kuantitas saya lebih kualitatif. Saya membentuk kualitas dengan cara seperti itu: seberapa banyak dan reaksi otomatis.

Cari umpan balik dan perspektif luar, secepat mungkin.

Suara mayoritas itu buruk dalam belajar. Belum tentu benar. Ketika semua orang menyukai “emotional intelligence”, saya mencari “sisi gelap” dari topik bernama “emotional intelligence”. Bertanya dari sisi negatif itu bagus.

Meminta iblis untuk ambil bagian sebagai penguji pengetahuanmu itu bagus.

Kamu bisa belajar banyak hal secara otodidak, namun tanpa mencari umpan balik dari “orang lain”, hanya akan membuatmu di luar jalur. Selalu pikirkan.. Apa yang belum saya bisa dari topik ini? Bagaimana kalau tidak seperti ini?

Pewaktu Pomodoro

Gunakan prinsip Pareto 20/80. Gunakan pewaktu Pomodoro. 20% waktu awal bisa mencapai 80% hasil. Kamu perlu break. Pecah topik yang kamu pelajari menjadi beberapa tahapan kecil. Gunakan pewaktu dan targetkan tahapan kecil itu bisa kamu selesaikan dengan cepat. Percayakah, bahwa mempelajari “present tense” dalam grammar bahasa Inggris, bisa kamu lakukan dalam 30 menit? Begitu pula tenses yang lain. Soal berikutnya adalah mengasah dan memperdalam rumus dan contoh yang sudah kamu bisa. Timer bisa membuat kamu lebih fokus dan tertarget.

Hasil “sekarang” akan kelihatan “sekarang”.

Kamu bisa melihat rute lain, kalau tahu peta. Rute adalah 1 metode. Dari titik ini ke sana. Peta, berisi banyak rute. Cari rute lain. Sampai kamu temukan cara tercepat. Eksperimen, coba lagi, sampai kamu temukan cara sendiri untuk mempelajari “ini”.

Hentikan Multitasking

Ketika sedang belajar, hapuslah gangguan. Singkirkan sampah visual dan audio dari proses belajar sekarang. Kamu tidak bisa belajar sambil frustasi. Ketika kamu sedang belajar, “lupakan tujuan”. Singkirkan “harapan orang lain”. Saya sering memperbaiki laptop atau website orang. Jika masalah yang saya hadapi baru, saya butuh fokus.

Tahu apa yang sering dikatakan klien? Mereka berharap. Mereka menceritakan kronologi yang tidak relevan, nggak ada hubungannya dengan masalah yang saya hadapi. Mereka menceritakan konflik kantor, menceritakan keinginan agar masalah ini segera tuntas.

Abaikan semua itu. Masalah teknis adalah masalah teknis.

Ketika kamu sedang mempelajari “cara membuat logo”, pacar kamu tidak berguna jika hanya meminta perhatian. Abaikan selama 2 jam kamu belajar. Facebook itu bagus, tetapi tidak bagus ketika notifikasi aplikasi itu hanya menjadi gangguan. Belajar memecahkan rekor kamu sendiri itu bagus, dengan bantuan aplikasi, tetapi ketika aplikasi itu sudah mendikte dengan prestasi semu, seperti: “Selamat, target kamu hari ini kurang 2 menit lagi” dan menampilkan notifikasi agar kamu mematuhi aplikasi itu, berarti ia menjadi gangguan.

Dokumentasi

Tempatkan intisari hasil pelajaran kamu, dalam dokumen tersendiri. Saya menamai dokumen seperti ini “one-liner”. Sebaris demi sebaris adalah intisari. Saya pernah membaca puluhan artikel premium tentang negosiasi. Kita tahu, “negosiasi” tidak diajarkan di sekolah. Setiap selesai membaca artikel, saya tuliskan sebaris demi sebaris. Itu yang saya jadikan sebagai dokumen premium versi saya. [dm]

What do you think?

Kalian, Anak Muda, Tidak Akan Mengerti – Blood Father

Menaikkan Traffic Tanpa Aplikasi