in

Belajar Menulis Artikel dari Aristotle

Memahami ethos, logos, dan pathos untuk menulis online.

Menerapkan ethos, logos, dan pathos dari Aristotle ke dalam proses menulis artikel.

Pada Abad V SM di Yunani Kuno, ada sekumpulan anak hip berjubah dan bersandal, yang dikenal sebagai Sophis. Mereka suka berbicara, mengajari orang berdebat, adu argumen, melakukan persuasi (bujukan) untuk mempengaruhi opini dan kepercayaan orang lain.

Sophis menggunakan metode “retorika” (rhetoric). Ini seni memakai bahasa yang bertujuan membujuk.

Tidak seperti copywriting di dunia blog SEO. Sophist sangat terkenal (profesional yang dapat bayaran bagus), yang tahu cara mengesankan dan membujuk audien. Metode retorika para sophis ini sedikit emosional, penuh bunga-bunga, dan kadang kekurangan bukti.

Aristotle (orang Indonesia menyebutnya Aristoteles), “melawan” para pembujuk itu dengan metode yang lebih keren. Bukan pendapat mereka, yang menjadi fokus Aristotle, melainkan metode mereka.

Aristotle memiliki metode agak berbeda dalam retorika dan persuasi. Menurut Aristotle, para Shopist menggunakan retorika untuk memanipulasi pikiran orang lain dengan fokus terlalu berat kepada emosi, padahal semestinya mereka lebih fokus pada penyajian fakta.

Menurut Aristotle, ada cara yang lebih baik dalam membujuk orang, tanpa banyak puisi dan bahasa indah. Aristotle punya aturan sendiri dalam persuasi.

Ethos

Tunjukkan moral kamu dengan penuh cinta.

Memiliki moral bagus dan karakter tangguh, tidaklah cukup. Kamu harus menetapkan moral ini kepada audien kamu. Betapapun bagus moralmu, kamu tidak menarik perhatian orang lain jika tidak mengkomunikasikan moral itu.

Bagaimana menerapkan ini dalam tulisanmu?

  • Bagikan pengalaman pribadi kamu. Agar audien kamu tahu, apa yang kamu tuliskan berdasarkan pengalaman kamu.
  • Hindari bahasa yang tak-bisa diakses orang lain. Gunakan bahasa biasa, mudah dipahami. Jangan katakan dengan peristilahan teknis, jika tidak diperlukan.
  • Tunjukkan kamu memiliki keinginan tulus untuk menolong orang lain.
  • Buktikan, kamu tahu apa yang kamu katakan.
  • Perlihatkan, kamu ahli dan berpengetahuan, terkait subject yang sedang kamu tulis.

Google menyukai EAT. Expertise, Authority, Trustworthiness. Keahlian, Penguasaan, dan Kepercayaan. Ini sejalan dengan apa kata Aristotle tentang ethos.

Logos

Katakan. Berikan bukti. Bukan kata kosong.

“Logos” artinya..  Kata. Sabda. Buah pikiran, hasil menalar, secara rasional dan obyektif. Logos bisa berupa ide yang dikomunikasikan dengan kata dan tulisan, atau tidak. Dalam logos terdapat kekuasaan ilahi, hukum alam universal. Logos identik dengan ide yang dimampatkan menjadi “kata”.

Menerapkan prinsip “logos” dalam tulisan:

  • Hindari ambiguitas. Tukar apa yang kamu bicarakan dengan detail, nilai, dan hasil.
  • Hindari hiperbola. Katakan apa yang bisa kamu berikan, jangan melebihi harapan.
  • Berikan bukti. Screenshot. Referensi. Hasil riset. Update informasi terbaru.

Pathos

Buat pembaca merasakan emosi.

Pathos menyentuh emosi, asalkan ada ethos dan logos. Pathos tidak bisa sendirian.

Buat pemicu pathos dalam tulisan, untuk menyentuh emosi pembaca, dengan ini:

  • Gunakan cerita. Deskriptif. Gambarkan secara natural. Gunakan contoh terdekat.
  • Ajukan pertanyaan. Masalah yang membuat mereka tidak bisa tidur.
  • Tulis dengan bahasamu sendiri. Hindari klise. Bangun suspense, dapatkan perhatian dari audience/reader.
  • Ajak mereka bertindak dan mengambil keputusan.

Orang tidak terbujuk hanya dengan kata atau tulisan rasional. Bujuk mereka dengan membantu mengatasi masalah. [dm]

What do you think?

Sebelum Saya Memberikan Solusi

Mengapa Saya Berhenti Main AdSense