in

Behind the Scene Rahasia Proses Menulis Kreatif

Menjawab beberapa pertanyaan dari email.

Sebagai perkenalan, bagaimana kamu menjelaskan siapa kamu?

Biasanya saya menuliskan: “Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Rembang dan Semarang”, di author info. Setidaknya, itu paling singkat.

Biarlah orang lain menyatakan “siapa” saya menurut versi mereka. Penilaian itu bisa expired, seiring perjalanan waktu. Kalau ada permintaan curriculuum vitae, sebelum seminar atau workshop, biasanya saya tolak. Lebih menyenangkan kalau orang mengenal tanpa pengantar. Mereka bisa bersikap apa adanya. Manusia selalu berubah. Saya melihat orang lain berdasarkan keputusan dan tindakan mereka, bukan dari beberapa lembar kertas.

Saya penganut “kesetaraan spesies”, bukan hanya “agama kemanusiaan”. Jadi, yang di pikiran saya tidak ada dominasi manusia. Yang ada, ekologi, di mana setiap agen punya peran masing-masing. Bahkan ruang di antara mereka, sama-sama memiliki peran menjaga keseimbangan. Bukan sebuah daftar, bukan aktor-utama, bukan timeline yang linier.

Apa yang ingin kamu lakukan dengan menulis?

Mengubah hidup sendiri.

Menulis itu hanya salah satu hal yang bisa ditekuni orang, agar hidup mereka sendiri bisa berubah. Bukan untuk mengatur orang lain. Dunia tidak bisa mencapai damai kalau orang masih diarahkan kepada satu kebenaran. Menulis itu bercerita, berbagi sudut-pandang. Yang penting, lakukan dengan serius. Sama seriusnya kalau saya bermain teater, menggambar, meneliti, atau memprogram sesuatu.

Keahlian apa yang merasa kamu miliki dalam menulis?

Kayaknya, ini pertanyaan jebakan. : ) ) Saya memiliki banyak kesenangan, yang berubah menjadi “keahlian”, kata orang. Tentu saja siapapun boleh meragukan.¬†¬†Daftarnya bisa panjang dan bisa terus bertambah.

Sebaiknya kamu tahu sendiri, bukan berdasarkan penjelasan. Sebelumnya, saya mau bercerita tentang “keahlian”. Tom Nichols menuliskan¬†Death of Expertise¬†(matinya keahlian). Ketidakpercayaan terhadap para ahli, justru meningkat di era internet. Kalau dulu, orang awam “melawan” para ahli, sekarang batasan “ahli” sangatlah kabur. Dulu orang percaya “narasi besar”, sekarang yang terjadi pertarungan narasi. Bukan baru saja terjadi. Penemuan iklan di televisi, termasuk pemakaian selebritas politisi, membuat orang terkena “bias konfirmasi” percaya kepada gagasan yang “salah”. Efek Dunning-Kruger, tahun 1999, menjelaskan bagaimana semakin orang tidak terampil, semakin sulit mengenali kesalahannya. Kurangnya metakognisi, terlihat jelas di media sosial. Pendidikan tinggi telah menjadi produk, tidak lagi memiliki lulusan ahli. Orang ramai berteriak, “Jangan terlalu percaya kepada apa yang kamu baca di Internet!”. Jurnalisme modern memberikan kesan-palsu kepada pembaca, tentang informasi. Para ahli juga bisa salah. Kesimpulan buku ini, kenali “bias kognitif”.

Saya sering meragukan keahlian seseorang ketika ia menampilkan “kontradiksi-internal” di depan publik. Bagaimana wayang kulit berubah menjadi tontonan khusus dewasa, karena di Limbukan mereka menampilkan dagelan bintang tamu yang melecehkan perempuan? Bahkan memakai ayat-ayat al-Qur’an dengan pengucapan yang tidak fasih, agar terkesan marketable?

Kalau ditanya tentang keahlian, saya akan menampilkan keahlian mendasar. Keahlian yang saya bangun seumur hidup. Daftar ini mungkin aneh, namun di masa sekarang, inilah keahlian yang sangat dicari orang. Saya memahami bagaimana mempelajari cara belajar. Suka membaca dan mengingat buku yang saya baca. Mengamati dengan mengoptimalkan indera. Berjejaring. Fokus dan menghindari gangguan. Mempelajari bahasa. Saya mempunyai strategi berpikir yang bisa diterapkan siapapun agar terhindar dari bias kognitif. Punya sistem pengambilan keputusan. Pintar bertanya setiap hari. Saya membuat panduan terbaik untuk diri-sendiri, berkaitan dengan hidup dan pekerjaan saya. Setiap hari saya menulis catatan harian.

Banyak orang menertawakan daftar itu. Padahal kalau disilangkan, bisa menghasilkan banyak sekali keahlian. Mereka membayangkan, keahlian itu bisa berbahasa Inggris, menguasai pemrograman, video editing, dst. Keahlian sering dikaitkan dengan “pekerjaan”.¬† Itu menurut saya keahlian derivatif, yang bersifat turunan.

Yang terpenting, mungkin dasar dari keahlian, yaitu: “tekad” dan “integritas”. Selanjutnya, merawat keduanya. Keahlian akan datang dengan sendirinya.

Tidak ada kegigihan (vitalitas), tanpa tekad. Sekolah jarang mengajarkan “tekad”. Mereka diminta menyelesaikan masalah, namun tekad belum dibangun, serta tidak diberikan seperti apa caranya.

Tekad seringnya tidak berada di awal, melainkan di tengah proses.

Saya sering menemukan orang-orang yang dianggap berada di grade c, alias rata-rata di sekolah, justru menjadi orang sukses dalam hidup karena mereka punya tekad di tengah jalan. Mereka ini pernah terbentur masalah, bahkan sampai hancur, ia bangkit lagi. Tidak malu menerima kegagalan. Mereka menjadi versi yang lebih baik dari dirinya sebelumnya. Orang yang memiliki tekad, bisa beradaptasi dengan baik, berjuang sampai menang.

Kesungguhan membaca, mengamati, hanyalah manifestasi dari tekad. Makanya, dalam workshop menulis, saya sering bilang, “Saya tidak percaya niat baik, apalagi pernyataan dalam bentuk kata-kata. Saya hanya melihat apa yang dilakukan orang lain.”. Bukan menganulir niat seseorang, tetapi, ini ajakan untuk menunjukkan, seperti apa bentuk dari tekadmu.

Kalau punya tekad dan integritas, keahlian bisa muncul.

Lihatlah Leonardo Da Vinci, orang yang punya 16 halaman surat kepada Raja, yang membuatnya bebas menekuni dunia pengetahuan. Leonardo jenius karena ia memiliki tekad. Pertama, kemampuan bertanya. Semua orang bertanya, anak kecil bertanya. Setelah bertanya, Leonardo mengubahnya menjadi rasa ingin tahu yang mendalam (curiosity). Leonardo membedah mayat, untuk menyusun dasar-dasar anatomi. Leonardo menggambar orang, untuk tahu apa sebenarnya “cantik” dan apa kesamaan tubuh manusia. Leonardo berani menantang (mempertanyakan) nilai-nilai lama. Dari sini, setiap belajar, Leo membuat “manual”, panduan terbaik, tentang subject yang ia pelajari, untuk dirinya sendiri. Orang lain, akhirnya bisa menggunakan perspektif Leonardo untuk belajar. Orang yang merasa tidak berbakat menggambar, bisa menjadi animator bagus kalau mengawali karirnya dengan mempelajari cara Leonardo menggambar manusia. Jadi, pertanyaan setelah punya tekad, “Kamu mewujudkan tekadmu dalam tindakan apa?”. Hanya bertanya, kalau tidak berlanjut ke “rasa ingin tahu yang mendalam”, tidak akan sampai kepada “panduan terbaik untuk diri-sendiri”.

Aneh sekali, kalau di awal mengaku suka menulis esai sastra, tetapi nggak membaca karya sastra yang bagus. Atau berada di lembaga pers, tidak mengerti bagaimana menulis berita.

Ciptakan ruang yang mendukung orang untuk menulis, maka ia akan menulis. Tekad akan terbentuk menjadi lebih kuat. Kalau ruang ini hancur, manusia di dalamnya juga akan pergi.

Ada contoh kasus yang mewakili gambaran ini. Dalam workshop kepenulisan, saya sering bertanya, “Kamu suka menulis apa?”. Sebagian menjawab, mereka suka menuliskan artikel, opini, sementara sebagian lain mengaku lebih suka esai sastra. Lembaga pers, berubah dari “sekolah pers” kemudian menjadi desk yang sesuai dengan rubrik di media. Mereka diarahkan kepada jenis pekerjaan, atau kelak disebut keahlian.¬†Mintalah semua orang menuliskan “story”, ajak mereka bercerita. Mau berita, fotografi, esai, sebenarnya itu semua bercerita. Ada yang berbasis pada fakta, ada yang fiksi, tetapi semuanya bercerita. Storytelling itu dasar dari semua penulisan. Sekarang, kalau saya bertanya, “Siapa yang ahli storytelling?”, kira-kira berapa persen yang berani angkat-tangan?

Dunia menulis yang sebenarnya asyik, jangan lantas diubah menjadi “sekolah” atau “pabrik”. Ada kotak-kotak pekerjaan, alias keahlian, dengan jam belajar atau jam kerja, dengan output yang hampir merata. Dunia menulis itu luas, banyak penjelajahan terjadi.

Belajar dari Leonardo Da Vinci, saya menuliskan semacam panduan untuk menulis berita, artikel, dan memecahkan permasalahan menulis. Tujuan saya, tulisan-tulisan ini menjadi ruang agar para penulis lebih membuka-diri terhadap persoalan yang mereka alami. Agar mereka punya tekad, berikan tujuan, mintalah mengatasi masalah.

Dasar keahlian menulis yang berikutnya: integritas. Menulis itu persoalan bagaimana mengalami, melakukan “perjalanan”. Menulis itu komitmen seumur hidup. Membutuhkan penjelajahan, pendalaman, dan keterlibatan dengan dunia. Itulah yang saya sebut sebagai “perjalanan”. Tanpa integritas, seorang penulis terpisah dari realitas.

Kalau kamu belajar menulis artikel, menyampaikan perspektif, perlu ada pertanyaan, “Apakah itu hasil meneliti sendiri, terlibat sesuai subject yang kamu tuliskan, ataukah sekadar opini, sintesis dari beberapa hal? Marx, Durkheim, Weber, tidak percaya kepada agama, tetapi karya mereka selalu diulas ketika orang mempelajari sosiologi agama. Keterlibatan, mengalami, dan melakukan “perjalanan” itu sangat penting dalam menulis.

Coba tanyakan ini ketika kamu menerima informasi. Apa yang membuatmu percaya kepada suatu informasi? Bagaimana sistem pengambilan keputusan yang kamu punya? Sebagian besar tidak bisa memberikan jawaban utuh kalau saya tanyakan itu.

Saya suka berita teknologi informasi. Setiap hari saya mengikuti berita keamanan berinternet dan pemrograman. Saya punya list (daftar) di Twitter, mengikuti feed (umpan), dan forum yang bicara tentang itu. Salah satu pekerjaan saya, terkait keamanan berinternet.

Yang sangat saya suka, berita keamanan berinternet dan pemrograman itu bisa kita uji secara langsung. Ada temuan bug, vulnerability, exploit, produk baru, atau tutorial. Saya buktikan dengan laptop atau Android. Sekalipun ada media besar berkata kalau Facebook sudah tidak menambang data pemakai setelah kasus Cambridge Analytica, saya bisa buktikan bahwa pernyataan itu keliru. Apa yang saya lakukan bisa diukur dan dibuktikan.

Saya hanya percaya kepada informasi yang terbukti secara ilmiah dan bisa mengubah hidup saya. Apa artinya informasi kalau tidak bisa mengubah hidup kamu menjadi lebih baik? Mengalami agama, filsafat, seni, itu kan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik, bisa mengatasi masalah.

Atau contoh lagi, orang yang suka yoga, mengikuti feed Instagram dan mempraktekkan video yoga. Mereka ini keren karena informasi bisa mendorong mereka bertindak menjadi lebih baik, lebih produktif.

Internet sangat penuh informasi keren, asalkan kita bisa membuat prioritas pilihan (saya cari hanya dari sumber terpercaya, untuk memperbaiki pekerjaan dan hidup) dan punya integritas.

YouTube membuktikan terjadinya revolusi pembelajaran yang terbesar, tersingkat, dan belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Aplikasi Android, machine learning, artificial intelligent, pemrograman, startup, semua itu bentuk “revolusi industri” yang tanpa-akhir.

Hal yang keren dari informasi teknologi itu satu: saya terlibat di dalamnya. “Saya” adalah “konteks” dari informasi yang saya konsumsi. Bukan sebaliknya.

Berbeda kasus, kalau saya membaca berita politik, tepatnya, berita yang berdasarkan apa kata narasumber. Apakah berita selebritas, termasuk selebritas politik, itu bisa saya buktikan dan akan mengubah hidup saya?

Integritas terjadi kalau saya tidak terasing dengan aktivitas “menulis”. Kalau menuliskan artikel tentang pemakaian teknologi, tentu harus mengamati perilaku pemakai teknologi, secara langsung. Atau saya menulis review film, berarti saya harus tahu apa itu sinematografi, bagaimana editing video, dan menuliskan script film. Tanpa integritas, seorang penulis hanya menjadi “pengamat”, tidak melakukan “perjalanan”.

Istilah “journalism” itu berasal dari “journey”, perjalanan. Orang memahami budaya orang lain karena peristiwa “perjalanan” ini. Bentuknya bisa berupa berwisata, berziarah, atau berperang. Termasuk menonton film, belajar dari “bahasa” orang lain, itu perjalanan. Kalau tidak melakukan perjalanan, keahlian berakhir. Yang muncul justru intelektualitas yang sukanya meneropong dari jauh.

Ceritanya begini. Seorang guru bertanya kepada saya, “Bagaimana saya bisa membuat seorang murid, mau belajar karena kemauannya sendiri?”. Ini keluhan umum. Banyak guru menyerah, berhadapan dengan kenyataan bahwa ternyata muridnya tidak mau belajar.

Mari membalik pertanyaan itu, “Apakah kamu tahu seperti apa murid kamu di rumah? Pernahkah kamu menjalani profesi sebagaimana orang tua murid itu? Apakah kamu memikirkan pendekatan lain, sehingga menghadapinya dengan cara khusus?”.

Ketiga pertanyaan itu sebenarnya tentang mengetahui konteks, empati, dan menciptakan pendekatan sendiri. Tanpa itu, keahlian tidak terbentuk. Siswa tidak mau belajar.

Kebanyakan guru, tepatnya yang sudah menganggap profesinya sebagai puncak pencapaian dalam hidup, tidak mau seperti itu. Ke mana-mana, orang sudah memanggilnya guru. Seniman “profesional”, yang sudah punya jadwal-pertunjukan padat, rata-rata mereka angkat tangan kalau diminta menjadi petani selama seminggu, atau keluar dari dunianya sekarang, agar bisa memahami bagaimana penonton mereka.

Seperti itulah zona nyaman guru tadi, “Saya sudah menjadi guru, saya tidak perlu mengalami seperti apa rasanya beralih profesi sebentar, sebagaimana orang tua murid saya.” Guru atau seniman dalam cerita ini tidak mau melakukan “perjalanan”. Apakah mahasiswa juga seperti itu? Apakah kalau mereka sudah pakai laptop, mengendarai motor, dan mengantongi ATM, mereka mau alih-profesi sebentar?

Apakah masih disebut keahlian jika tidak terjadi keterlibatan-langsung dan tidak mengalami realitas itu?

Setiap menulis, lakukan “perjalanan”. Kalau mau menuliskan strategi marketing, jalankan marketing. Tanpa itu, yang terjadi adalah duduk di perpustakaan atau browsing di depan laptop, kemudian crafting, copy-edit, dan sudah dianggap “menulis”.

Perjalanan membuat seseorang selalu belajar, memahami dirinya sendiri #dan orang lain. Saya senang ketika manusia lain menunjukkan (secara tak-langsung) kebodohan saya.

Seorang penulis yang ngehit dan punya banyak pemuja (bukan sekadar follower), pernah bilang beberapa kali, di podium, kalau bahasa Jawa memiliki kosa-kata yang lebih banyak daripada bahasa manapun di dunia ini. Entah ia bermaksud melucu atau tidak, dan ia bukan yang pertama memicu perbincangan tersebut sebagai trending topic di media sosial, bagi saya itu ucapan di depan publik yang mendatangkan tanda-tanya besar. Mungkin ia penganut pseudo-science. Seolah-olah pengetahuan, namun sebenarnya palsu. Kelihatan berwawasan, namun tidak berdasarkan data sama sekali.

Kembali ke masalah “bahasa” yang saya ceritakan tadi. Orang tahu, tidak ada bahasa yang berdiri sendiri. Bahasa punya akar, terjalin dan berkembang dengan bahasa lain. Bahasa Jawa juga demikian. Ada kosakata yang berasal dari bahasa Kawi, China, Arab, Belanda, bahasa dari suku lain, dst. Ini kalau kita berbicara tentang bahasa Jawa sekarang. Semua bahasa seperti itu, kecuali bahasanya sudah punah alias tidak berkembang lagi. Kalau ada akses internet, ada banyak kamus Jawa yang bisa kamu baca.

Bahasa Jawa itu tidak punya kosakata yang lebih banyak daripada bahasa Inggris. Bagaimana kalau kita buktikan?

Kamus paling tebal di dunia dan paling serius dikerjakan itu New Oxford English Dictionary on Historical Principle. Itu project paling penyusunan kamus paling gila. 2,4 juta kata didata dari litereatur yang memakai kata itu. Oxford menyebarkan pengumuman, untuk mengumpulkan kata yang telah-sedang digunakan penduduk Inggris, bahkan mereka boleh berkontribusi, menjelaskan. Tim penyusun kamus itu, kemudian memeriksa. Kamus bahasa Inggris paling tebal ini dikerjakan 1892-1922. Misalnya kata “art” (ini masih di abjad “a”), itu dipakai pertama kali, di karya siapa? Artinya bagaimana? Jadi, kamus ini bukan apa kata tim, tetapi apa kata sejarah dan literatur. Dan

Kamus Oxford modern selalu menambah kosakata baru, seiring perkembangan zaman. Saya bisa sebutkan banyak sekali kosakata yang konseptual, dari bahasa Inggris, yang tidak ditemukan di bahasa Jawa. Sama halnya, kosakata Jawa juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki bahasa lain. Semua bahasa seperti itu. Semua bahasa memiliki kosakata unik. Semua bahasa itu berkembang. Berasal dari persilangan beberapa budaya.

Apa yang terjadi kalau seseorang yang katanya pakar itu bilang, kalau bahasa Jawa memiliki kosakata paling kaya di dunia? Saya melihatnya sebagai dagelan. Jadi, tidak ada bukti ia melakukan “perjalanan” literatur, karena kamus yang saya kutip tadi, yang sangat tebal itu, terlewatkan dari pengamatan.

Kalau punya komitmen menulis, pasti ada komitmen terhadap bahasa. Ini keahlian yang dibentuk seumur hidup.

Sampai sekarang saya suka bahasa. Saya akan ceritakan bagaimana saya mengalami bahasa yang berkembang.

Ketika masih SD, saya sudah bisa menulis aksara Jawa. Ada pelajaran “Bahasa Jawa” di sekolah, ibu saya memberikan pelajaran khusus tentang bahasa dan aksara Jawa. Saya masih ingat, ketika masih kecil, hampir setiap hari saya mendapatkan pertanyaan tentang sejarah, musik, bahasa, dan matematika. Kalau ke rumah kakek, saya diuji dengan peristilahan dan tulisan yang sulit sekali. Tentara Republik, di masa penjajahan Belanda, juga memakai tulisan Jawa yang sudah dimodifikasi, ketika kirim pesan di tengah peperangan. Ini enkripsi yang sulit dipecahkan tentara Belanda. Yang mau saya ceritakan, saya mengalami keterkejutan ketika belajar sejarah Jawa. “Kamu harus belajar menulis aksara Jawa, karena kamu belum bisa.” kata kawan saya.

Kemudian saya belajar menulis aksara Jawa lagi. Ternyata, apa yang saya pelajari selama ini sejak SD itu pedoman Sriwedari, yang disederhanakan. Jadi, kenalnya 20 huruf yang populer disebut hanacaraka dengan mitos Aji Saka dan mistifikasi kesaktian di balik hanacaraka itu. Padahal tidak demikian. Bagaimana bisa ada “cerita” tentang 20 huruf Jawa, kalau kenyataannya bukan hanya 20?¬†Begitulah jadinya kalau tidak pernah melakukan perjalanan literatur. Berhenti di tempat. Tidak mempertanyakan bagaimana terbentuknya aksara Jawa itu.

Huruf Jawa yang “sebagaimana adanya”, menurut pedoman buku Mardi Kawi (dari Ranggawarsita) yang saya anut, yang lebih kuno dan orisinal, punya 33 konsonan dan 16 vokal. Ada beberapa aksara yang nyaris tidak pernah digunakan sekarang. Kalau mau belajar, bisa. Sangat terbuka bagi siapapun, karena pengetahuan itu milik semua orang. Nantinya kalau mengerti aksara Jawa, jadi bisa membaca banyak sekali kitab Jawa.

Kalau mau belajar menulis aksara Jawa, bisa bergabung dengan group Facebook Sinau Aksara Jawa. Mereka ini sudah bikin keyboard berbahasa Jawa, dalam bentuk aplikasi Android, dan sering berbagi literatur. Sepenuhnya ilmiah. Banyak orang, tidak bisa menuliskan “Isyana Saraswati” atau “Masha lan Sang Beruang” dalam tulisan Jawa. Kami kalau chat di group juga masih pakai aksara Jawa pedoman Mardi Kawi dengan keyboard Ramayana.

Belajar aksara Jawa lagi, adalah contoh kasus, bagaimana keahlian menulis itu bisa dibuka dari belajar berbahasa. Saya tidak bilang “..menguasai bahasa asing”, karena itu terlalu rasis.

Setelah belajar lagi, saya bilang kepada kawan saya, “Kalau kakek saya hidup, saya akan ajarkan menulis aksara Jawa Kawi.”.

Kakek sudah lama wafat, tidak ada kepentingan lagi dengan dunia, tetapi kalimat tadi berasal dari rasa terima kasih saya, karena ia mengantarkan saya kepada pintu pengetahuan sejarah Jawa. Saya bilang begitu, kepada orang-orang yang sekarang sedang membaca tulisan ini. Untuk memastikan kepada diri saya sendiri, bahwa apa yang sekarang saya tempuh, harus memperbaiki pengetahuan sebelumnya.

Kalau tidak terjadi perbaikan, buat apa dianggap pengetahuan?

Budaya Jawa (dari aksara Jawa) bukanlah dogma, bukan nilai-nilai yang dipaksakan. Sudah semestinya, sebagai orang Jawa, saya ikut memperbaiki pengetahuan di dalamnya, tanpa bersikap rasis dengan menceritakan supremasi budaya Jawa di atas suku lain. Pengetahuan itu untuk kemanusiaan dan semua spesies. Saya mengikuti Elon Musk, percaya bahwa tanpa perbaikan, berarti saya menghambat evolusi saya sendiri.

Maka saya heran, bagaimana bisa orang di podium yang berceramah tentang agama, kebangsaan, dan keindonesiaan, ternyata menebarkan pseudosains, bersikap rasis, dan masih diviralkan di media sosial?

Saya belajar bahasa Perancis dari Duolingo dan beberapa aplikasi lain, termasuk dari YouTube, tidak sampai 3 bulan. Itu hanya pengantar, agar selanjutnya saya bisa melanjutkan belajar sendiri. Sampai sekarang saja, saya masih sering terkejut kalau ada kosakata lokal, yang sempat terdengar lagi, karena sudah jarang digunakan dalam percakapan.

Jadi begini. Hindari peristilahan yang rasis seperti “pengetahuan sejati”, “yang paling benar”, dst. karena ini hanyalah pengetahuan, yang terus mengalami perkembangan. Orang bisa belajar sendiri, namun sebelumnya ia perlu memiliki bekal dasar.

Apa dasar pengetahuan ini? Mengapa saya harus belajar?

Setelah menetapkan tekad dan integritas, belajar itu mudah dan menyenangkan. Tinggal bagaimana merawatnya.

Andalan dalam merawat pengetahuan adalah rutinitas harian. Saya punya rutinitas harian, namun bukan pengulangan (loop). Tidak harus dikerjakan pada jam sekian. Rutinitas itu adalah membuat pertanyaan setiap hari, yang harus saya jawab hari itu. Kalau kamu mau kreatif, selesaikanlah masalah. Get things done. Tentu dengan cara yang lebih baik daripada cara kamu kemarin. Kalau belum ketemu solusinya, setidaknya kamu punya masalah yang layak diselesaikan.

Pertanyaan ini bisa apa saja. Pertanyaan ini yang memacu skill (kemampuan). Jadi, setiap hari, saya memastikan, skill saya bertambah, atau bertambah baik. Minimal punya masalah baru, itu sudah keren. Yang penting, kalau mau kreatif: selesaikan masalah.

Berjejaring juga menjadi kemampuan andalan kalau mau menulis. Jangan pernah lama tinggal di suatu lingkaran pertemanan. Cobalah hal-hal baru, perluas jangkauan, dan belajar dari orang yang ahli. Tanpa berjejaring (networking), menulis menjadi pekerjaan membosankan. Jangan membatasi diri berprofesi sebagai penulis, karena kalau sudah fixed kamu tidak lagi dinamis. Kembangkan keahlian.

Saya suka membaca dan menulis. Termasuk Kalau suka, berarti saya juga suka menyelesaikan masalah-masalah di dalam hobi itu. Problem menulis itu kebanyakan justru bukan teknik penulisan. Membaca buku, belajar langsung kepada ahlinya, mempelajari filsafat, kemanusiaan, sejarah, itu bagian dari menulis.

Ringkasnya, dasar keahlian dalam menulis itu tekad dan integritas. Keduanya biasanya terjadi dan terlihat di tengah proses belajar dan mempelajari sesuatu. Berbahasa, membaca, berjejaring, memiliki rutinitas kreatif, itu juga keahlian. Jangan bayangkan keahlian sebagai “penguasaan” subject tertentu. Dunia sudah berubah. Saya akan ditertawakan orang banyak kalau menyatakan saya ahli bahasa Inggris. Tidak. Itu cara mendefinisikan keahlian yang kuno sekali, akhirnya terjebak pada profesionalitas, dan tidak dinamis sama sekali. Saya hanyalah orang yang selalu belajar. Tidak disebut keahlian jika terpisah dari realitas.

Buku jenis apa saja yang sering kamu baca?

Saya suka membaca buku-buku teknologi informasi, start-up, hacking, pengembangan media, psikologi modern, sejarah, pendidikan, bisnis, marketing, metodologi riset, how to, sastra, kemampuan berbahasa, filsafat, posmodernisme, poskolonialisme, do it yourself, drawing, seni, desain, dan masih banyak lagi. Saya tidak membatasi diri pada suatu bidang. Dunia itu menyenangkan kalau mau belajar setiap hari.

Berapa jam sehari melakukan riset untuk menulis?

Minimal 8 jam. Itu rRiset sungguhan. Bukan berarti 1 hari 1 riset. Saya punya permasalahan, metodologi, dan pengujian yang jelas.

Saya suka memperhatikan detail, memiliki banyak hobi, sering berkomunikasi dengan orang lain, dan saya alami dengan tingkat keseriusan sama. Kebanyakan, berhubungan dengan menulis. Setiap hari, saya menuliskan catatan harian, berisi rapid log dan kejadian yang saya alami.

Bagaimana kamu memperlakukan “proses” dalam menulis?

Bedakan antara “menulis” dan “penulisan”. Kalau “menulis”, itu lebih luas dan mendalam, prosesnya. Kalau “penulisan”, itu persoalan “teknis” bagaimana menerjemahkan gagasan menjadi tulisan. Yang “teknis” ini sering diajarkan dalam workshop penulisan.

Saya suka permasalahan teknis. Bagaimana menjelaskan “bagaimana”? Bagaimana membuat sudut-pandang yang menarik? Bagaimana teknik storytelling? Bagaimana menulis artikel utama?

Proses “menulis” itu bisa 8 jam sehari, seperti ketika mengumpulkan catatan, meneliti, dan menjawab “pertanyaan” hari ini. Untuk “penulisan”, bisa hanya 30 menit, kalau kamu selesai dengan urusan teknis.

Ada satu kata yang saya sukai dalam “perjalanan”, yaitu “serendipity”. Kejutan di luar dugaan.

Pemicu saya dalam proses adalah pertanyaan. Mau kreatif? Buatlah pertanyaan menantang, kemudian selesaikan. Beberapa pertanyaan, seperti ini.¬†Adakah cerita-rakyat asli Jawa yang mendunia? Bagaimana hubungan menstruasi dengan peradaban manusia? Geografi macam apa yang cenderung menghasilkan anak jenius? Mengapa agama diceritakan seperti mitologi? Sejak kapan “menit” itu ada dalam jam analog? Saya menuliskan semua itu dalam artikel. Saya menantang pembacaan baru atas novel Arok Dedes Pramoedya Ananta Toer. Saya memakai “tanda minus” dan “koma” secara ketat, dengan “cara saya”.

Singkatnya, baik dalam “menulis” maupun “penulisan”, sebenarnya tidak ada rumusan tertentu, karena proses menulis itu bukanlah loop (pengulangan). Proses saya berpijak pada pertanyaan menantang. Pendekatan saya bisa selalu berbeda.

Saya menolak rumusan obyektivikasi. Ini sering diajarkan di sekolah: apa obyeknya, bagaimana teorinya, kemudian analisis obyek tadi dengan teori. Hasilnya, jelas pembusukan. Tidak menemukan hal baru. Hanya menjadi ajang pembuktian dan pembenaran berlaku atau tidaknya suatu teori.

Saya tidak suka “proses” yang nggak jelas mau ke mana dan seperti apa mengukur kemajuan proses itu. Mengapa orang begitu percaya pada kekuatan “proses”? Mereka bilang, “..yang penting proses.” atau “nikmati.prosesnya..”. Kadang, ini menjadi dalih, kalau kualitas hasil mereka buruk.

Jangan menilai proses (yang baik) demi menyelamatkan hasil (yang buruk). Keduanya bukan hal terpisah. Orang bilang “proses kreatif”, artinya, ini penamaan yang terlalu global. Kreatif dalam hal apa, tentu prosesnya berlainan. Bisa jadi, prosesnya benar-benar eksperimental.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang guru di sekolah yang katanya mengedepankan kreativitas. Saya bertanya, “Bagaimana praktek kreatif di kelas ini, dalam pelajaran menggambar?”. Guru ini bilang, “Sekolah kami punya banyak fasilitas untuk pelajaran menggambar, mengajak anak-anak mengikuti kurikulum yang kami gabungkan dari beberapa sekolah alam.”.

Nah, ini masalah! Mindset sekolah, masih convergent. Percaya ada yang berhasil, kemudian menggabungkan yang dianggap terbaik, lalu diterapkan. Ini kan sama dengan bikin kotak. Menggabungkan beberapa metode kreatif, apa bedanya dengan metode tradisional? Bagaimana anak bisa kreatif menggambar kalau gurunya kejar-tayang untuk menerapkan kombinasi dari beberapa kurikulum sekolah alam? Katanya, anak dibebaskan menjadi dirinya sendiri, tetapi di tengah jalan, guru di sekolah itu bilang, “Bukan diri yang itu..”.

Sama halnya, bikin lomba “anak kreatif”, tetapi mereka latihan menyanyi, membaca puisi, menggambar, dengan perspektif orang dewasa, sebagaimana maunya panitia, guru, dan pelatih dari luar.

Kreatif itu kalau menemukan masalah baru atau berhasil menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik.

Lebih parah lagi, seorang mahasiswa filsafat, pernah komplain kepada saya. Katanya, kurikulum di jurusan filsafat itu dimodifikasi dari suatu sekolah tinggi filsafat. Pada sisi lain, kebanyakan mahasiswa, tidak berhasil mempelajari filsafat. Terlalu banyak yang harus mereka pelajari, dan membuang lebih banyak. Dosen mereka, kalau diberi kesempatan sebulan, atau katakanlah 10 kali pertemuan, tidak bisa memberikan pembekalan agar mahasiswa bisa mempelajari filsafat sendiri. Tahu kenapa? Mereka tidak diberi pelajaran bernama “mempelajari cara belajar” (to learn how to study). Jadi, kalau tidak tahu bagaimana mempelajari cara belajar, jangan harap mereka bisa belajar filsafat sendiri.

Kalau tidak mempunyai strategi berpikir, tidak mempunyai kebijakan memperlakukan informasi, dan tidak mempunyai “sistem pengambilan keputusan”, seseorang tidak akan bisa belajar sendiri. Otodidak itu tidak mudah, namun mengandalkan otoritas keilmuan suatu lembaga pendidikan itu juga hanya mimpi.

Semua orang harus merdeka sebagai manusia, dan memanusiakan manusia. Itulah tujuan pendidikan. Intinya, “being human“.

Mestinya, setiap pengajar memberikan bekal metodologi, begini caranya belajar filsafat, ini skema besarnya, ini asistensi versi saya tentang beberapa referensi yang saya tahu.

Untuk membaca buku seperti Being and Time Heidegger, History of Sexuality Foucault, Birth of Tragedy Nietzsche, Muqaddimah Ibn Khaldun, itu membutuhkan pengantar. Apa panduan kamu dalam membaca buku? Bagaimana cara kamu belajar sendiri?

Kalau mahasiswa tahu batas mimpinya dan diberi cara membaca peta, mereka tidak akan tersesat. Sekalipun tanpa membawa kompas, mereka jadi kenal arah dari bintang dan lumut di pohon, membuat peta sendiri.

Sama halnya menggambar. Cara memakai pensil, bisa kamu ajarkan dalam 30 menit,sedangkan teknik mengarsir ada 70 lebih. Sedangkan bagaimana menggambar, butuh waktu seumur hidup. Belajar bahasa, belajar leadership, semuanya memakai prinsip dasar sama, yaitu: referensi bukanlah apa-apa kalau kamu tidak tahu cara memperlakukan informasi.

Banyak membaca buku tidak membuatmu menjadi pintar. Yang bosa bikin pintar kalau buku yang kamu baca memang berkualitas dan kamu bisa mengingatnya.

Seperti apa bentuknya? Bentuknya seperti ini: saya mendapatkan buku-buku dan majalah baru, saya harus bisa kelola dengan baik, dan angka retain (tetap-mengingat isinya) harus tinggi. Itu sebabnya saya sampaikan selalu tentang bagaimana membaca buku agar tetap ingat isinya. Ini hanya satu contoh bagaimana seorang pembelajar, memiliki kebijakan memperlakukan data.

Yang saya lihat, metodologi masih sama: datang, mendengarkan ceramah, diberi penugasan, periksa, berikan penilaian, dan ujian. Itupun baru di dalam kelas.

Saya pernah mengajukan pertanyaan mendasar kepada beberapa kawan, yang suka menulis. Pertanyaan ini berkaitan dengan proses kreatif. Pertanyaan yang akhirnya saya jawab sendiri, di website saya.

Ini pertanyaan yang saya ajukan.

Bagaimana strategi berpikir kamu? Jika kamu mendapatkan gagasan, atau mengalami kemacetan, dengan cara bagaimana kamu mengatasi masalah itu? Apa standar yang kamu pakai untuk menilai suatu tulisan itu bagus atau buruk? Bagaimana sistem pengambilan keputusan kamu?

Orang bilang, itu pertanyaan sulit, bahkan sebagian besar tidak pernah memikirkan itu.

Bagaimana mungkin, orang bilang tentang proses kreatif, tetapi tidak mempertanyakan masalah-masalah itu?

Ini yang sering terjadi. Suatu tulisan, dilihat sebagai hasil, justru oleh penulisnya sendiri. Ada orang menulis artikel, misalnya, tidak punya standar kualitas. Dia nggak bisa mempertanggungjawabkan karya. Mereka “learning by product“, mempelajari berdasarkan apa yang mereka lihat dari produk lain. Melihat di website terkenal ada bentuk artikel begini, ia buat sebagaimana artikel itu. Ayo, buat seperti ini, agar viral. Pengulangan. Ingin menjadi-sebagaimana-orang-lain.

Orang tidak bisa kamu sulap menjadi kreatif dengan suatu kurikulum atau mendatangkan pengajar top. Tidak bisa dengan memberi semangat. Bekali mereka dengan “bagaimana caranya”, berikan contoh, dan bantu mereka jika bermasalah.

Jadi kalau suatu workshop.menulis hanya bicara banyak tentang “penulisan”, itu suatu kemunduran. Beri mereka perspektif dan tunjukkan atmosfer “menulis” itu seperti apa.

Kamu sekarang ini concern di dunia apa? Oh, kamu suka seni. Dia sudah punya bekal, entah hobi atau pekerjaan, untuk menulis. Menulis bukan penyeragaman. Bukan aktivitas yang terpisah dari dunia penulis itu.

Saya berikan contoh yang lebih mengenaskan, bagaimana suatu disiplin yang ditekuni seseorang, tidak tampak dalam tulisan mereka, hanya karena ingin meniru keberhasilan orang-lain.

Saya kenal seorang dosen statistik, yang satunya lagi, doktor filsafat. Saya bertanya tentang “korelasi” antara pemakaian kata tertentu dan tingkat view, dari postingan. “Bagaimana cara kamu menuliskan judul yang menarik?”. Kedua orang ini menjawab hampir sama, seperti ini, “Menurut penelitian, judul yang menarik itu kalau diberi angka, diberi pertanyaan -bagaimana- atau -mengapa-, dan yang memancing -emosi- pembaca.”. Kemudian ia tunjukkan jumlah view tinggi dari beberapa postingan yang dianggapnya pakai rumus itu.¬†Yang mengenaskan, kedua orang ini bilang, kalau ia membaca itu dari suatu artikel yang punya data statistik.

Angka ini berasal dari rata-rata. Yang seolah-olah terbukti, dengan pamer jumlah view. Padahal pertanyaan saya tentang korelasi.

Kedua orang ini “memakai produk pemikiran di artikel” (yang membual dengan pseudoscience, tentang keterkaitan suatu kata dengan jumlah view) di bidang yang sebenarnya mereka kuasai (penelitian berbasis statistik dan filsafat).

Keduanya memilih menggunakan angka rata-rata yang seolah-olah terbukti. Bukan memakai rumus korelasi Pearson.

Inilah problemnya. Orang menulis hanya dengan mempelajari produk. Seperti orang bikin cover lagu-lagu terkenal, dari orang-orang yang punya banyak view dan subscriber di YouTube, tetapi nggak ngerti apa itu skala nada, apa itu editing. Jadinya, rata. Hampir sama. Mereka pilih pintasan.

Dan tidak ada pintasan yang seampuh iklan. Kalau kamu punya uang U$D 500-5K, kamu bisa bikin propaganda di Google. Bukan rahasia.

Media besar bisa salah. Media dengan viewer tinggi, bisa melakukan kebodohan di depan publik. Redaktur bukan hacker dan tidak tahu bagaimana men-tracking koneksi dan port terbuka, hanya karena Facebook bang sudah tidak melakukan data mining, redaktur tadi menuliskan apa kata Facebook. Dan orang percaya.

Saya melihat produk lain, namun dengan pengujian.

Proses saya tidak punya formula. Proses saya adalah “adaptasi dan improvisasi”. Bergantung kepada apa yang harus saya tuliskan.

Sekali lagi, bedakan antara “menulis” dengan “penulisan”. Selama ini, workshop sibuk dengan bagaimana merangkai kata, editing, membuat judul, dst. Itu lebih banyak ke “penulisan” (proses menuliskan gagasan), bukan “menulis” (sebagai jalan hidup).

Proses itu persoalan “membangun gagasan atau masalah baru” dan “mengalahkan inspirasi”. Proses bagi saya berarti bagaimana menghadang agar jangan sampai saya bertemu kebutuhan “mencari inspirasi”. Sungguh mengherankan, orang bilang tidak bisa menulis karena “belum dapat inspirasi”. Faktanya, mereka tidak membangun gagasan sama sekali. Kalau ia macet ketika membuat plot cerpen, ada teknik untuk itu. Mereka tidak mau membaca, tidak mau jalan-jalan, ketemunya dengan orang itu-itu melulu. Caranya melihat laut juga selalu sama. Jadi, wajar kalau ketemunya masalah “belum dapat inspirasi” melulu.

Saya berikan satu contoh, bagaimana metode saya “mencegah” datangnya masalah “belum dapat inspirasi”. Tentang storytelling. Orang mempraktekkan storytelling, dalam banyak hal: berdiskusi, ngobrol di kafe, chat, mendongeng, presentasi, dll. Saya harus pelajari storytelling.

Seperti biasa, saya bertanya, “Bagaimana orang-orang berhasil melakukan presentasi?”. Saya tuliskan pertanyaan ini di catatan harian. Hari itu saya mencari jawaban. Bagaimana Steve Jobs dan Elon Musk, termasuk dalam daftar. Saya harus tahu bagaimana formula mereka dalam bercerita. Setelah itu, saya buat pengujian. Betapa banyak di sekitar saya orang bercerita. Saya ikut bercerita, dengan metode yang sudah saya pelajari. Kemudian saya buka komunitas di mana saya bisa download buku.

Saya mendapatkan buku 100 Things Every Designer Needs to Know about People dan 100 Things Every Presenter Needs to Know About People. Hasilnya, harus berupa “manual” bagi diri-sendiri. Saya ringkas, saya tambahkan catatan seperlunya, kemudian saya pakai.

Kalau kamu berpikir menulis adalah beberapa tahapan prosedural untuk menghasilkan tulisan, maka kamu tidak akan menjadi penulis yang diperhitungkan, terutama oleh profesional lain. Menanyakan “Bagaimana prosesnya..”, lebih sering berarti menanyakan “penulisan”, bukan “menulis,”.

Awalan atau ritual apa yang biasa kamu lakukan sebelum menulis?

Bertanya.

Descartes bertanya di depan lilin, “Apa yang tidak bisa diragukan?”. Semua penemu, mengawali perjalanan dengan suatu pertanyaan. Itulah yang membuatmu tidak perlu menunggu inspirasi datang. Pertanyaan adalah masalah. Pengarah. Jembatan untuk mengevaluasi. Mencatat perkembangan. Pertanyaan adalah dasar dari perjalanan. Pertanyaan juga saran refleksi paling efisien. Kamu tahu batas-pandang, kamu tahu besok akan melakukan apa. Awali dan akhiri dengan pertanyaan.

Buatlah pertanyaan yang menantang. Ini bisa kamu lakukan di tengah, tidak harus di awal. Jangan bayangkan bikin makalah. Itu penugasan, yang sudah jelas teorinya, dan bisa diperkirakan seperti apa hasilnya. Pertanyaan menantang itu bebas. Kalau ini pertanyaan yang sering diajukan, buatlah jawaban yang paling memuaskan.

Bagaimana kamu mengatasi kejenuhan ketika menulis?

Kalau berpikir sering melelahkanmu, latih cara kamu berpikir. Termasuk cara kamu memperlakukan data, kata, itu bisa mengasyikkan, asalkan kamu tahu cara kamu berpikir. Kreatif bukanlah masalah kalau tahu kapan harus berpikir kreatif.

Orang yang tidak merdeka, nggak mau mengatasi masalah. Mereka menghindar dari masalah, menyalahkan keadaan.

Saya punya daftar pengamatan. Ini sebenarnya tentang mengoptimalkan indera. Saya beri label “Mendengar”, berarti hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana mendengarkan. Pernah menonton film Frequencies (2013) dan August Rush (2014)? Setelah menonton, saya masukkan metode mendengarkan di film itu, ke dalam daftar, di bawah label “Mendengar”. Manusia memiliki lebih dari 200 indera. Ada namanya, bisa diasah, dan sangat bagus untuk mengamati dan mengalami aktivitas sehari-hari.

Kelas 3 SD saya sudah bisa membaca notasi catur. Sampai sekarang, saya bisa bermain catur-buta. Sekalipun tanpa papan dan buah catur, saya bisa mengulang permainan dalam pikiran. Saya sudah menyelesaikan ribuan kombinasi dan masih suka melihat pembukaan dan varian para pecatur dunia.

Saya jenuh ketika mengalami 3 hal: 1. Menjalani pekerjaan dengan hasil yang bisa diprediksi. 2. Menyelesaikan sesuatu dengan cara yang hampir sama; dan 3. Tidak ada hal baru, alias pengulangan. Kalau kondisinya seperti itu, saya memilih diam atau melakukan aktivitas lain.

Hitler tidak bisa mengatasi selembar kertas kosong. Hitler butuh penjara dan asisten, hanya agar bisa menuliskan buku.

Saya belajar drawing dari kawan saya. keliling fotocopy, saya mencari kertas bekas, yang baliknya masih kosong. Saya kerjakan tugas yang ia berikan. Mulai bikin kepala, sketsa, body anatomy, gerak, dan teknik mengarsir.

Jadi, saya sering bertanya, “Daftar apa yang kamu punya untuk mengatasi kejenuhan?”. Kalau belum, saya sarankan, buatlah agar bisa kamu pakai sebelum kejenuhan datang.

Apakah kamu menuliskan buku?

Beberapa.

Saya menuliskan buku Menulis Cerita Fiksi, Menulis Artikel, buku kumpulan artikel, dan beberapa kumpulan puisi. Nanti akan saya pasang di sini. Setiap hari saya menulis, biasanya saya berikan dulu kepada beberapa kawan di WhatsApp. Kalau yang panjang dan menurut saya bagus, baru saya pasang di web.

Saya tidak mau terbitkan buku saya dalam bentuk buku cetak. Saya melarang kawan-kawan saya mencetak, itupun mereka sering diam-diam mencetak. Saya bagikan file buku itu agar bisa dibaca. Ini semacam penerbitan underground, non-komersial.

Waktu yang paling produktif untuk menulis, biasanya kapan, atau saat bagaimana?

Tidak ada waktu atau situasi khusus.

Bisa kapan saja. Saya bisa menulis ketika di bis, bahkan kebanyakan tulisan saya dibuat di tengah perjalanan, dengan Android.

Saya terlatih menulis di dalam tekanan, harus bisa mengatasi situasi yang tak menyenangkan.

Lakukan kultivasi, agar proses penulisan bisa cepat. Bentuknya, kalau ada ide, sebaris dua baris, saya catat. Bukan saya statuskan. Pastikan, tidak ada hambatan “perangkat” (aplikasi, metode) dan “piranti” (peralatan). Hemingway memikirkan apa yang mau ia tuliskan, ketika sedang berkelahi, memasak, dan melihat laut. Begitu punya kesempatan duduk, penulisan lebih cepat.

Kalau sedang tidak kejar-tayang, masih jauh dari deadline, cobalah melatih stamina, fokus, dan teknik menulis kamu.

Rutinitas tanpa deadline bisa membuat kamu lebih kreatif.

Jadikan rutinitas menulis sebagai “ritual”.

Sistem apa yang kamu pakai dalam proses kreatif?

Saya memakai.”strategi.berpikir” dan panduan yang saya tulis untuk diri-sendiri, dalam kasus yang berbeda-beda.

Saya punya template untuk tulisan. Misalnya, mau menuliskan artikel utama (corner article), saya pakai template artikel utama. Kalau bertemu kasus berbeda, saya perbaiki template itu.

Apakah kamu menulis setiap hari?

Tentu.

Saya punya buku harian berbentuk kertas dan dari aplikasi Diaro di Android, yang sinkron dengan Cloud. Tidak setiap hari saya menerbitkan artikel. Target saya bukan kepada kuantitas, melainkan kualitas.

Menurutmu, kreatif itu apa?

Menciptakan sesuatu.

Bisa berupa cara yang lebih baik, masalah baru, atau sesuatu yang baru. Kreatif bukanlah puncak berpikir. Itu hanya salah satu metode berpikir.

Siapa penulis favorit kamu?

Tidak punya.

Terlalu banyak kalau saya sebutkan. Masing-masing memiliki peran sendiri-sendiri, dalam proses kreatif saya. Terlalu panjang kalau diuraikan di sini.

Quote apa yang paling kamu sukai?

Saya punya banyak sekali quote. Saya suka ini. “Know your enemy” (ketahui musuhmu), dari Art of War Tsun Zu. Satunya lagi, “Be paranoid. Question reality” (Waspada. Pertanyakan kenyataan), dari Hacker’s Manifesto. Dan satu lagi, doa dari pendahulu saya, turun-temurun, “Sehat dan manfaat”. Itu semacam mantera agar aspek fisik dan sosial selalu terjaga, kepada pribadi dan lingkungan hidup selalu terjalin hubungan baik.

Musik apa yang biasanya menemani kamu ketika menulis?

Biasanya kalau sedang menulis, saya tidak mendengarkan lagu.

Kalau break 10 menit, baru saya dengarkan musik.

Saya membuat playlist di Spotify dan Joox. Bukan dari YouTube. Saya suka musik black metal, rock, blues, dan tentu saja musik klasik. Yang dimainkan dengan gitar, piano, atau violin. Gamelan Jawa,.musik Norseland, musik baru yang diputar di Prambors atau Channel V, saya sangat suka. Dangdut koplo Adella dan New Pallapa saya suka.

Bagaimana cerita singkat kamu, mulai belajar menulis sampai sekarang?

Saya ceritakan versi singkatnya saja.

Sejak dulu saya suka membaca. Kalau nggak suka membaca, saya pasti kesulitan menulis. Ketika masih kecil, pagi saya masuk SD, sore sekolah madrasah diniyah. Di madrasah ini, ketemu kawan dari SD lain, jadi kalau istirahat sering bercerita seru. Jumat libur, di Kawedanan ada mobil Perpustakaan Keliling, yang menyediakan bacaan komik, novel, dan teknologi terapan.

Saya punya kawan yang berlangganan Intisari, Tempo, dan Hai. Saya baca 3 majalah itu setiap minggu, sampai kelas 2 SMA. Kondisi ketiga majalah ini, nggak seperti sekarang.

Kalau balik dari sekolah SMA, saya ke Taman Bacaan “Pemuda”, di Rembang. Persewaan buku. Saya suka komik dan novel.

Kemudian ada seorang kawan, yang diterima di perguruan tinggi, mewariskan koleksi Majalah Horison. Saya belajar tentang sejarah sastra Indonesia (tentu saja versi Horison), menulis puisi, dan cerpen. Kemudian saya masuk ke suatu pesantren modern. Mata saya terbuka. Saya baca buku terus dan sering kena pelanggaran disiplin. Ingatan terbaik dari sana, saya menjadi lebih suka baca buku.

Saya masuk IAIN Walisongo Semarang di Fakultas Ushuluddin, karena di situ perpustakaannya paling bagus dan ada jurusan Aqidah Filsafat. Saya bebas mempelajari terbentuknya akaran agama, sejarah agama, dll. Orang lain yang tidak setuju, silakan saja, asalkan ia membaca filsafat, saya bersedia berdiskusi. Setiap hari saya baca buku, nonton film, belajar komputer, dan berteater.

Setelah itu, saya kenal internet (tahun 1999), awalnya untuk mengikuti milis dan berkomunikasi melalui email. Waktu itu masih pakai IE dan Netscape Navigator, chat di Yahoo! Messenger. Saya download buku-buku. Sampai sekarang.

Meskipun saya tahu apa itu puisi, tetapi baru serius menulis puisi tahun 1999. Sebelumnya itu, dan sampai sekarang, saya menuliskan naskah teater. Semakin ke sini, semakin melihat banyak persilangan, ternyata kreatif itu sebaiknya tanpa sekat. Saya masih menulis di web tempat saya bekerja, selain di web pribadi.

Bagaimana cara kamu mengatasi writer’s block?

Saya tidak terlalu ingat, kapan saya terkena writer’s block.

Tips saya mudah. Menulis itu ilmu pengetahuan, ada ilmunya. Nggak punya ide? Pelajari bagaimana sebuah ide terbentuk. Tidak tahu caranya fokus? Fokus itu skill, bisa dilatih, ada metode yang bisa kamu pilih. Jadi, kalau ketemu writer’s block, coba pahami akar masalahnya, karena writer’s block itu ada banyak sekali kasusnya.

Siapa atau apa yang menjadi “muse” kamu dalam menulis?

Diri saya sendiri di masa mendatang.

Tantangan apa saja yang pernah kamu alami dalam penulisan?

Saya sering gagal. Saya suka ketika menyadari betapa kegagalan itu membuat saya lebih mengenal diri sendiri. Saya malah sering bilang ke kawan-kawan, “Problem kamu lebih keren dari masalah saya ketika menulis. Dulu saya lebih parah..”. Saya mau terbuka menceritakan kegagalan. Dulu saya buka kamus 7 kali ketika membaca teks filsafat. Sekarang, saya berani protes, “Subtitle film ini kurang tepat.”.

Beberapa pertanyaan, tidak bisa saya jawab dalam sehari, karena itu pertanyaan yang sukar.

Kegagalan, saya pakai untuk melihat kelemahan saya. Itu sangat menyenangkan.

Kebanyakan orang, hanya mengoptimasi.masa lalu mereka. Saya hindari itu. Saya menyukai kebaruan dan perbaikan.

Punya kesukaan selain menulis?

Banyak sekali.

Sebaiknya, jangan pisahkan antara menulis dengan bukan-menulis. Saya tidak suka kalau “menulis” itu dipisahkan dari hal lain. Saya sendiri nggak pernah menganggap satu hobi, lebih penting dari hobi lain. Saya serius semua mengerjakan itu.

Saya menulis dan menyutradarai pementasan teater. Saya mengadakan workshop menulis, setiap bulan, kadang fotografi dan videografi. Sendirian, nggak pakai lembaga apa-apa. Kalau saya suka digital marketing dan SEO, itu berhubungan dengan menulis, nggak? Sebenarnya sangat berhubungan.

Piranti dan perangkat apa yang kamu pakai dalam menulis?

Saya punya daftarnya.

Biasanya, saya terapkan metode begini: Apa konsepnya? Apa kebutuhanmu? Bisa diselesaikan dengan apa? Misalnya, konsep saya adalah kecepatan, efisiensi, dan akurasi, dalam menyelesaikan tugas. Kebutuhan saya, ingin bisa mengubaj ucapan, kalau sedang punya ide dan tidak mau mengetik, menjadi teks. Saya cari aplikasi Android yang bisa mengubah speech menjadi text. Masalah selesai. Jangan sampai saya terkena hambatan alat.

Saya memakai Mac Book 13 Pro, untuk menulis di laptop, desain web, dan pemrograman. Laptop yang lain lagi, pakai Operatinh System Windows 10 update 19H1. Sedangkan untuk Android, saya memakai Mi 6X. Banyak pekerjaan saya selesaikan dengan Android. Kalau mau pakai Linux, saya jalankan Termux di Android. Ketiganya, enak dipakai untuk menulis. Saya lebih sering simpan data online. Selain itu, saya memakai flashdisk 32GB untuk data, 16GB untuk Live USB Kali Linux 2020 karena saya butuhkan untuk hacking. Saya jarang buka laptop.

Apa saja peristiwa dalam hidup kamu, yang sangat mengganggu, namun berhasil kamu atasi, terkait proses menulis?

Saya sering berselisih paham tentang bekerja jarak-jauh. Misalnya, saya di kafe, untuk menulis. Bukan cari koneksi WiFi. Pada awalnya, orang di sekitar, yang kenal saya, jarang sekali yang punya pengertian tentang apa yang saya kerjakan. Saya menunda apa-apa, sampai pekerjaan saya selesai.

Yang paling tidak menyenangkan, ketika menceritakan apa yang saya kerjakan, banyak yang membandingkan dengan teman mereka, atau menanyakan sesuatu yang mereka bayangkan menyenangkan kalau bisa saya jawab, seperti, “Apakah kamu bisa membuka Facebook orang lain? Bisakah kamu mencuro uang dari rekening orang tanpa ketahuan? Apakah komputer bisa menebak angka yang akan keluar nanti malam?”. Mereka tidak mau mendengarkan penjelasan saya.

Ceritakan contoh kasus yang menurutmu kurang menarik dalam mengatasi suatu masalah dalam menulis.

Mendatangi seminar dan bedah buku.

Seringnya, seminar dan bedah buku itu sama dengan mendemgarkan podcast. Lebih buruknya, tidak semua orang bisa memperoleh jawaban. Jauh dari memuaskan. Saya lebih menyarankan webinar. Lebih interaktif, berkelanjutan, dan nggak terbatas. Masih bisa sama-sama dikomersialkan.

Mengikuti bedah buku itu nggak asyik kalau kamu nggak bisa lihat sample chapter. Acara sudah bias, terbebas dari “komentar negatif”. Bedah buku itu mirip iklan.

Mendasarkan kualitas pada jumlah view, like, dan share, itu juga kasus yang nggak menarik. Orang meniru bentuk, bukan lagi memperkaya khazanah. Akhirnya, yang nggak sastra dianggap sastra, hanya karena karya itu populer.

Kegilaan apa yang pernah kamu jalani dalam proses menulis kreatif?

Mungkin ini kegilaan, namun jangan kamu jadikan sebagai tahapan. Kegilaan itu alami, suatu keadaan bawaan, nantinya kalau kamu sudah naik posisi, keadaan bawaan akan berganti.

Saya pernah mampir ke suatu kelas, waktu itu pelajaran filsafat modern. Saya masuk begitu saja, lalu meminta kapur dan mrnghapus aap yang ada di papan-tulis, sambil mengatakan kalau saya mau menjelaskan pendekatan untuk mempelajari filsafat barat..Saya mrmbuat skrma, sambil berbicara, dan kawan-kawan di kelas (yang bukan kelas saya) menyimak sambil senyum-senyum. Setelah selesai, saya berikan lagi kelasnya. Dosen itu bilang,”Terima kasih..”. Besoknya saya dapat nilai A+.

Saya pernah setiap hari menonton film di bioskop. Atrium 21 dan Studio 21, sekarang sudah tidak ada, dulu tempat saya menonton film. Sampai sekarang, hampir setiap hari saya menonton film atau serial.

Seperti apa literatur yang ada di perpustakaanmu?

Jarang sekali yang menanyakan ini. Saya punya koleksi buku kertas dan ebook. Ini yang perlu dicatat: saya lebih suka ebook.

Saya perlu membuat pembandingan singkat. Buku kertas itu makan tempat. Bahan bakunya dari kayu, proses membuatnya mahal. Kalau berupa terjemahan maka buku kertas itu sering terlambat dalam hitungan bulan sampai tahun, serta nggak “asli”. Selama membaca, kita tidak bisa scanning dengan cepat. Tidak bisa cross-reference dengan cepat. Proses katalogisasi lama. Jangkauan pembaca lebih sedikit. Buku kertas tidak bisa didengarkan.

ebook diciptakan dengan nilai plus dari semua yang saya sebutkan tadi.

Literatur di perpustakaan saya, selalu bertambah baru setiap minggu. Saya dapat update majalah terbaru, seperti: National Geographic, Times, New Scientist, the Economist, Inc., New Yorker, Wired, dll. Buku-buku “bestsellers” dari Amazon dan New York Times, untuk genre sastra, saya juga selalu dapatkan. Ada lagi buku-buku sejarah dari KITLV. Saya dapat buku nggak hanya dari LibGen, Open Culture, dan jaringan ebookfi (dan server mirror), tetapi juga dari kolektor ebook yang sudah lama punya andil di literatur internet.

Semua buku itu seminggu sekali saya masukkan ke folder dengan sistem penamaan yang rapi, sesuai standar dunia pustaka.

Yang sedang saya baca, saya taruh copy-an di folder tersendiri dan di Android. Saya buat backup di HDD dan Degoo. Kapasitas 100GB kalau pakai format .epub (per buku biasanya 1.5-5MB) sudah muat banyak sekali. Kalau ada buku bagus, dan belum ada versi ebook, saya sempatkan memotret dari Android, saya buat versi digitalnya. Dengan cara seperti ini, koleksi bisa bertambah dan bisa di-share ke komunitas.

Tidak semua ebook bebas copy. Saya tidak mau itu. Tidak semuanya bisa didapatkan dengan mudah. Koleksi disertasi yang langka, atau hanya bisa diakses dari Deep Web, tidak akan saya pinjamkan. Atau misalnya koleksi novel peraih Nobel Sastra, tidak saya bagikan.

Banyak orang yang hanya copy, baca nanti, sekadar sebagai koleksi. Kalau ketahuan sudah copy lama namun nggak dibaca, saya batasi. Besok tidak akan saya share buku lagi. Orang macam ini tidak membuat informasi menjadi bermanfaat.

Kalau ada yang minta mencarikan buku ini, atau tentang tema ini, saya nggak carikan. Saya bukan pelayan, bukan penyedia perpustakaan untuk publik. Apalagi untuk kepentingan tugas makalah atau kuliah. Saya tidak mau menyelesaikan agenda dan masalah buku orang lain.

Tidak semua buku selesai saya baca secara skimming, karena banyaknya. Yang di Telegram, sekitar 700 buku, itu buku “most wanted”, sudah selesai saya baca. Itu saya upload tahun 2018. Tahun 2019 hanya upload beberapa buku. Untuk majalah, saya hanya baca laporan utama dan beberapa rubrik favorit.

Semua informasi di perpustakaan saya, bermanfaat untuk tulisan saya.

Hal yang saya sukai dari perbincangan, kalau ada hal baru. Dunia ini bergerak dan mengalami kebaruan. Saya merasakan itu, salah satunya dari apa yang saya baca.

Kalau kawan saya bertanya, saya jawab seringkas mungkin, sebagai pengantar, agar ia mencari jawabannya sendiri. Saya kemudian berkata, “Itu ada bukunya..”. Saya menyebutkan judulnya, chapter yang bisa mereka baca (terkait pertanyaan itu). Kalau memang menarik, saya share bukunya.

Apa yang membuatmu tidak disukai kawan-kawanmu, terkait dengan menulis?

Kalau saya mengajukan pertanyaan sulit. Kalau saya sedang fokus, dan tidak mempedulikan sekeliling. Kalau saya menyanggah persepsi lama yang mereka percaya. Memang, itu menyakitkan, namun sebenarnya saya yang lebih dulu terkejut ketika persepsi lama saya terbukti salah.

Siapa guru menulis dalam kehidupan nyata yang menginspirasi proses kreatifmu?

Banyak genre. Tidak ada yang secara khusus membimbing saya.

Hobi apa yang menurutmu mendukung proses menulis?

Mendukung itu berawal dari hubungan. Yang menghubungkan itu pikiran saya. Semua hobi yang masih mengandalkan pikiran. Ego, emosi, itu menurut saya masih pakai pikiran. Semua hobi, bisa berkaitan dengan menulis, asalkan saya masih memakai “integrasi” antara menulis dengan hidup saya.

Siapa penulis yang ingin kamu temui?

Imam Syafi’i. Jalaluddin al-Suyuthi. Penyusun kamus Oxford. Ranggawarsita. Nietzsche. Elon Musk. O’Reily. Banyak sekali. Bertemu mereka bukanlah keinginan utama saya. Membuat ilmu mereka hidup dan mengubah hidup saya, lebih menjadi prioritas saya. Atau mungkin kelak mereka bisa saya temui dalam bentuk Artificial Intelligence.

Kredo apa yang menurutmu bisa berlaku setiap hari?

Hidup bisa berubah. Sehat dan manfaat.

Hal terburuk apa yang bisa terjadi dalam kepenulisan kamu?

Saya bisa berhenti sama sekali. Saya serius menulis, namun menulis bukanlah segalanya. Jalaluddin Rumi berpuisi demi kebahagiaan para tamunya. Ada sebuah cerita, tentang seorang murid dan gurunya. Murid ini sangat mengjormati gurunya, merasa ialah penuntun hidupnya. Suatu hari, gurunya meninggalkan dirinya, begiru saja. Muridnya mengejar, bertanya, kesalahan apa yanh telah ia lakukan sehingga gurunya ini pergi begitu saja. Gurunya menjawab, “Aku tidak mau menjadi pengjalang pertemuan antara kamu dan Tuhan.”. Metode adalah metode. Jalan adalah jalan..Ilmu adalah ilmu. Menulis adalah menulis.

Pencapaian apa yang menurutmu telah atau sedang terjadi dalam hidupmu?

Bahasa “pencapaian” itu terlalu kota. : ) )

Saya lebih baik daripada saya yang kemarin. Saya lebih banyak membaca, lebih banyak menulis, lebih sering menikmati hidup, lebih banyak kawan, dan lebih malu menghadapi kenyataan di mana saya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang-orang yang lebih banyak mengubah dunia.

Apa yang akan terjadi padamu, 5 tahun mendatang?

Kalau ini pertanyaan tentang target, saya punya jawabannya. Kalau pertanyaan tentang apa yang akan terjadi, saya tidak tahu. Terlalu banyak variable, perhitungan, kemungkinan, peluang. Bahkan saya tidak tahu apa yang akan terjadi 10 detik lagi.

Hal rahasia apa yang belum pernah kamu sampaikan kepada publik, tentang karya dan hidupmu?

Saya merahasiakan kehidupan pribadi saya.

Seperti apa ruang yang kamu pakai untuk menulis?

Saya sering berpindah. Ruang menulis di rumah saya, sebuah kursi, tempat saya menaruh laptop, dekat charger. Selebihnya, saya pakai Android.

Kamu punya tips menulis di tengah perjalanan?

Pastikan peralatan kamu tanpa-masalah. Siapkan antisipasi Pastikan kamu sudah charge laptop dan Android 99%. Bawa power bank. Bawa roti dan aqua, untuk kondisi darurat. Kamu harus punya tempat singgah kalau kemalaman.

Kalau dokumen kamu online, buat salinan offline, khusus fil dokumen yang sedang kamu kerjakan. Kalau nggak ada sinyal internet, no problem.

Kalau bekerja sebagai tim, rajinlah berkomunikasi, kabarkan perkembangan.

Saya biasa menulis ketika naik bis atau kereta api. Kalau bawa motor, saya taruh barang-barang di jok. Bisa mampir di kawan saya, sambil menulis. Saya sudah biasa mobile. Kawan-kawan yang tahu saya, tidak bertanya, “Kamu sekarang sedang di mana? Acara apa?”.

Pekerjaan apa, selain menulis, yang pernah kamu jalani?

Kalau penelitian, analisis informasi, browsing, desain web untuk media online, dan pemrograman termasuk menulis, maka pekerjaan saya berhubungan dengan menulis.

Kamu sedang mengerjakan apa sekarang?

Menjalani pekerjaan biasa di desain web, keamanan data, membuat rancangan media baru, pemenangan politik, digital marketing, workshop keliling, menonton acara seni, dan jalan-jalan. Untuk kontak langsung terkait pekerjaan, bisa kirim melalui email tamanmerah@gmail.com.

Di mana orang bisa membaca tulisanmu?

Kalau tulisan untuk publik, bisa dibaca di sini. Untuk status, twit, dan aktivitas lain, bisa dilihat di profile media sosial saya.

Bagaimana kalau saya punya pertanyaan selain menulis?

Asalkan saya bisa menjawab dan boleh dipublikasikan, pasti saya jawab dan pasang di sini sebagai update. Boleh pertanyaan selain tentang menulis. [dm]

What do you think?

3357 points
Upvote Downvote