in

Hubungan Kita Harus Berakhir

Kenali pemicu dan bentuk siksaan, yang membuat orang tidak berani mengakhiri hubungan.

Kenali apa saja penanda hubungan yang berubah menjadi siksaan.

Tidak Berani Berpisah?

Banyak orang tersiksa dalam hubungan sebagai kekasih atau suami-isteri. Hanya sedikit yang berani mengakhiri hubungan itu, dan lebih memilih bertahan.

Komitmen

Tepatnya, komitmen-buta. Merasa terlanjur sudah ada komitmen, sekalipun ke depan lebib pahit.

Perjalanan sudah “terlalu jauh”. Umur hubungan mereka sudah lama (walaupun “lama” itu relatif). Sudah terjadi hubungan lebih lanjut, misalnya: terlanjur menikah (dan punya anak), atau terlanjur kehilangan virginitas (“keperjakaan” atau “keperawanan”).

Pada kasus yang lebih lunak, mereka seolah-olah tak-menyerah di depan publik. Kadang mereka menjalin hubungan karena publik sudah terlanjur bertepuk-tangan, menyaksikan bagaimana mereka jadian, “terlihat mesra” di media sosial, atau penghambat historis yang membuat mereka sulit untuk putus.

Problem Ekonomi

Ekonomi mapan bisa membiarkan siksaan batin terjadi.

Kalau sedang depresi, dengan traveling, makan enak, dan shopping, kadang sedikit melegakan. Dan itu butuh uang.

Ekonomi tidak bisa diabaikan. Banyak perempuan yang menjadi isteri orang kaya, dengan kemapanan dan status sosial-finansial, banyak yang mengaku tidak bisa terlepas dari siksaan batin.

Mereka ini memiliki kepribadian ganda, antara kamar dan beranda, antara publik dan kenyataan sebenarnya.

Yang membuat mereka tidak bisa berpisah adalah kebutuhan finansial. Perempuan dengan kebutuhan seadanya, tiba-tiba berada dalam penyesuaian keadaan di lingkungan yang “berada”, dengan sederet kebutuhan, dan tidak bisa hidup seadanya.

Itu sangat manusiawi. Ekonomi menjadi landasan utama, benteng terakhir, mengapa mereka tidak bisa berpisah.

Seksualitas

Selama seksualitas masih menyenangkan, mereka tidak bisa berpisah.

Ranjang masih hangat, kemesraan masih terjadi saat berdua, walaupun di depan publik pasangan ini kacau.

Tidak ada hubungan intim tanpa peran seksualitas. Ini tidak selalu berarti hubungan fisik.

Seksualitas memiliki cakupan luas. Seksualitas bisa bersifat emosional. Intimasi sebulan sekali, perhatian rekan-kerja, bisa menciptakan sense of sexuality. Atau dalam kondisi yang lebih jelas lagi: sekalipun faktor finansial dan emosi tidak terpenuhi, pasangan ini masih melakukan hubungan seksual yang menyenangkan. Di luar itu, sebenarnya banyak siksaan batin terjadi.

Iman

“Saya dilarang protes. Saya mengalah, akan dibalas dengan kebaikan.”

Saya sering sekali mendengarkan pengakuan tentang iman sebagai pertahanan terakhir.

Iman menjadi mekanisme penyangkalan bahwa hubungan mereka buruk, karena, ada landasan bahwa kepatuhan terhadap pasangan itu jembatan menuju surga. Iman membentuk pilar-pilar delusi dan fantasi, bahwa kelak keadaan akan berubah. Selama itu terjadi, siksaan batin tetap berjalan.

Kondisi emosional yang tidak sehat adalah siksaan terberat dalam hidup.

Banyak kawan saya merasa senang bisa terlepas dari belenggu pasangan mereka. Bahkan selalu ada cara untuk menyiasati agar tidak tersiksa secara emosional, jika mereka sudah memutuskan tidak mau berpisah dari pasangannya.

Misalnya, seorang suami mencari waktu khusus untuk bersenang-senang, hangout dengan kawan-kawannya, atau menyanyi di karaoke. Mereka melepaskan belenggu sendiri, lantas kembali kepada sosok pasangan yang dalam banyak sisi mereka benci.

Yang paling mengenaskan, tentu saja, mereka tidak menyadari sebenarnya terjadi siksaan dalam hubungan tersebut. Menganggapnya wajar seorang isteri atau pacar bersikap seperti itu. Norma tradisional sering menggambarkan sosok perempuan, atau lelaki, dengan karakter yang fixed (tetap). Perempuan dianggap selalu emosional, menuntut, kepo, opini-kedua, teman di belakang, dst. Lelaki dianggap sebagai pemimpin, pemegang keputusan, tegar, lebih bebas, dst.

Apakah kamu hidup demi membenarkan norma seperti ini, ataukah kamu lebih memilih mengubah hidupmu menjadi seperti yang kamu inginkan, bersama pasanganmu?

Saya pernah bertanya tentang status hubungan seseorang, dan ternyata, ia tidak tahu perbedaan antara “insting” dan “emosi”, tidak ada sistem penyelesaian konflik; hampir setiap konflik selalu selesai di 4 hal tadi: bereskan masalah keuangan, seks yang menyenangkan, kembali kepada iman, dan lanjutkan hidup. Mereka selalu memiliki pintu untuk melarikan-diri dari perbaikan, bernama normativitas tradisi.

Membiarkan siksaan terjadi, seperti dalam Mite Sisyphus, legenda dalam cerita Yunani Kuno, tentang Sisiphus yang dihukum dewa. Sisyphus harus mendorong batu ke atas, namun setiap matahari muncul, batu yang ia dorong bergulir kembali ke bawah. Sisyphus memperbaiki caranya mendorong, mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup, namun itu juga berarti membenarkan hukuman dari dewa.

Banyak orang tidak sadar dirinya berada dalam kondisi Sisyphus. Menghadapi rutinitas, memperbaiki “masa lalu” (atau kemarin), namun sebenarnya berada dalam rute yang sama. Rute yang hancur sewaktu-waktu karena masalah-masalah yang belum terselesaikan.

Jadi, kenalilah penanda, dalam melanjutkan hubungan. Deteksi mana yang tidak beres, lakukan perbaikan, agar tidak berada dalam perulangan keadaan yang menyiksa batin.

Kalau kamu sedang pacaran, sadarilah bahwa kamu hanya pacaran. Kalau sudah terlanjur menikah, lakukan perbaikan. Setelah itu, jika keadaan tak-berubah, buatlah pilihan untuk keluar dari kotak penjara.

Apa yang Terjadi Jika..

..kamu dan pasanganmu berada dalam situasi saling-menyiksa?

Lebih banyak kebohongan. Satu kebohongan, disusul dengan kebohongan lain. Waktu kamu habis hanya untuk mengatur siasat agar aman, mentoleransi secara berlebihan, apa yang tidak kamu suka dari pasanganmu.

Kamu kehilangan passion terhadap pekerjaanmu. Hidup kamu terbelah, antara rumah dan luar-rumah, setiap hari berganti identitas. Senyum manis atau tawa lepas, bukan lagi milikmu. Hobi dan karir sampingan kamu, hancur.

Mau seperti itu? Mau menjalani sampai 25 tahun ke depan untuk lebih tahan menghadapi siksaan?

Penanda Hubungan Kamu Tidak Sehat

Dendam

Derita sering berasal dari sakit-hati akibat dendam. Kamu marah, namun masalah belum terselesaikan, terjadilah dendam. Rasa dendam adalah kebencian, tidak menyelamatkan sama-sekali.

Dendam mengubah perilaku hidup kamu, tujuan hidup kamu, dan membelokkan laju aktivitas kamu ke arah kiri dan kamu bisa terjungkal dengan mudah.

Dendam ingin mengalahkan dan mengungguli, memperlihatkan dirimu, dan membutuhkan berbaris-baris daftar-periksa, bahwa musuhmu benar-benar telah hancur.

Ketika dendam sudah terjadi pada pasanganmu, ledakan bisa terjadi. Ia selingkuh, kamu membalasnya. Ia menulis status yang menyindirmu, kamu membalasnya. Penuh dendam.

Dendam membuatmu diam, menyiapkan strategi, menjalankan taktik, namun sebenarnya ada ratusan kalimat terngiang dalam pikiranmu, mengejek dirimu sendiri, dan meluap.

Kesabaran kamu tak terbatas? Mengapa kamu diam saja dan tidak melawan? Mana buktinya ia mencintai kamu?

Dendam memiliki puisi yang bisa membuatmu berteriak, hanya demi teriakanmu didengar. Dendam adalah pembalasan yang nilainya terbalik, untuk memghancurkan hidupmu demi tujuan kecil.

Ukur lagi, apakah kamu pendendam terhadap pasanganmu.

Dendam adalah api dalam sekam. Potensi sekaligus eksekusi, dari rasa cemburu, ancaman, dan ketidakpuasan.

“Kalau kamu lakukan itu, aku akan begini..”
“Aku bisa membalas dengan lebih kejam..”
“Aku melakukannya karena kamu pernah..”
“Jangan salahkan aku, lihatlah bagaimana dulu kamu telah..”
“Awas, kalau kamu sampai..”
“Tunggu pembalasanku. Sekarang aku diam, tetapi nanti kamu akan melihat..”

Dendam sangatlah baik, jika kamu memakai kekuatannya saja. Kamu bisa memperbaiki-diri, agar lebih baik daripada masa lalu kamu.

Dendam.mengalahkan diri-sendiri versi masa lalu, untuk lebih baik, dapat membuat orang mencapai “besok” yang lebih baik.

Banyak orang sukses karena pernah mendapatkan ejekan di masa kecil, lalu ia mengubahnya menjadi pemicu yang selalu membuatnya bersemangat.

Saya menyadari, betapa dendam itu baik untuk menunjukkan “Saya akan melakukan yang lebih baik, dari diri saya sebelumnya.”.

“Saya belum bisa menjawab pertanyaanmu sekarang, tetapi tunggulah, saya akan belajar dan membuktikan bahwa saya bisa memberikan jawaban terbaik.”
“Seminggu lagi, kita berdua akan makan di restoran mahal, agar mereka tidak menghina kita.”

Lakukan dendam, untuk kebaikan kamu dan pasanganmu, jangan untuk membalasnya.

Terbukalah, katakan baik-baik, bahwa perubahan membutuhkan tukuan jangka-panjang dan saling pengertian.

Tidak Menghormati Pasangan

Di depan dirimu. Bukan hanya di depan publik.

Orang bisa mudah menghormati orang lain, di tengah publik, di depan rekan-kerja, atau di media sosial. Tempat di mana “kehormatan” penuh topeng, di depan publik, bukanlah ukuran menghormati pasangan.

Persoalannya, bagaimana ia bersikap di depanmu, ketika sedang berdua denganmu?

Saya pernah mendengar cerita kawan saya, apa yang membuatnya menyukai pasangannya.

“Ia ingin duduk di depan jendela, mungkin untuk berpikir, atau melihat orang lewat. Ia meminta izin kepada saya, “Saya ingin duduk 10 menit tanpa melakukan apa-apa. Kamu boleh memecahkan kesunyianku, yang sebentar ini, kapan saja.”. Saya tidak mau mengganggunya. Akhirnya saya tahu, setiap selesai makan, ia ingin menyendiri. Sampai sekarang, ia selalu meminta izin itu, walaupun saya tidak memintanya. Dan saya tidak pernah mengganggu 10 menit itu. Tanpa saya bertanya apa yang ia pikirkan, nanti ia akan bercerita.

Tidak menghormati, bisa berwujud pelecehan.

Mencium-paksa di depan publik, menceritakan kemesraan (sekalipun didasarkan atas sama-sama cinta), mengomentari fisik pasangan yang menyakitkan, mengikis niat baik pasangan, menganggap rendah kemampuan pasangan, menukas pembicaraan, itu semua merupakan bentuk “tidak menghormati pasangan” yang sering terjadi.

Bahkan di depan anak, pelecehan bisa terjadi, misalnya: mem-bully pasangan sehingga citranya jatuh di mata anak. Termasuk bertengkar di depan anak-anak.

Buatlah komitmen untuk membatasi pertikaian. Jangan melakukannya di depan publik, apalagi di depan anak kecil, walaupun itu bukan anakmu. Apalagi pamer kemesraan dan melakukan pertikaian di media sosial. Caranya saja sudah nggak wajar.

Tidak menghormati, berpotensi membuat seseorang kehilangan spirit, merasa tak-berguna, dan tidak mau melakukan apa yang kamu inginkan, bahkan untuk dirinya sendiri. Tidak menghormati adalah bentuk ketidakpercayaan yang disengaja, untuk menghancurkan pasangan.

Sekali kamu secara tidak secara tulus menghormati pasanganmu, saat berdua, maka yang akan kamu terima hanyalah ilusi sikap hormat di depan publik. Dan pasanganmu akan mencari lingkungan yang lebih menghargai dirinya. Bertengkar parah di kamar, di luar senyum-senyum, atau curhat kepada orang lain.

Tidak menghormati pasamgan, sering terjadi karena mulut dan tindakan orang itu, lebih cepat bekerja dibandingkan dengan pikiran,.akhirnya, kata-kata (dan tindakan) yang sering keluar, cenderung kasar dan negatif.

Bagaimana kalau mencari kalimat alternatif? Mulailah mengubah ekspresimu menjadi lebih positif.

“Jemput aku sekarang” ataukah “Nanti aku selesai jam 3 sore, aku tunggu di depan kantor”? “Pokoknya kamu harus bisa” ataukah “Apa yang boleh aku bantu agar kamu selesai tepat waktu?”?

Mengubah kalimat, dapat membuat suasana menjadi berbeda. Dalam keadaan senggang, berusalah saling-mendengarkan. Mengubah kalimat, memberikan jeda untuk berpikir matang, sebelum tekan enter di chat, sebelum bertindak.

Tidak menghormati pasangan adalah cara tercepat mengikis niat-baik pasanganmu, jalan bebas-hambatan bagi pasanganmu untuk melarikan-diri darimu.

“Melecehkan” bukanlah bagian dari mencintai. Melecehkan adalah nama lain bagi “tidak-menghormati”.

Kelelahan seseorang bisa terhapus jika kamu memujinya di depan orang lain, tanpa niatan menyuruhnya melakukan sesuatu di balik itu. Perlakukan penghormatan dengan tulus dan sewajarnya, membuat orang tergerak.

Kalau masih rumit, gunakan ketiga kata ini dengan tepat keoada pasanganmu: “terima kasih”, “tolong*, dan “maaf”.

Tidak Terbuka

Bedakan antara “jujur” dan “terbuka”.

Tidak-terbuka, lebih kejam daripada kebohongan.

Jujur hanya menjawab pertanyaan sesuai fakta. Jujur bisa menyembunyikan hal lain, yang tidak ditanyakan. Terbuka, lebih penting daripada jujur.

Terbuka itu menceritakan sesuatu, sebagaimana adanya. Tanpa mendapatkan pertanyaan, bersikap terbuka mendorongmu bercerita, menyebutkan hal-hal yang menurutmu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan, yang akan mengkhawatirkan pasanganmu.

Ketika pasanganmu bertanya, “Apakah kemarin kamu bertemu mantanmu?”, jujur akan menjawab, “Iya.”. Jawabanmu jujur dan benar, namun tidak terbuka, jika ada bagian penting tlyang perlu diketahui pasanganmu, tidak kamu ceritakan.

Sedangkan sikap terbuka, bukan sekadar untuk menjawab pertanyaan. Terbuka tidak dirancang untuk menghadapi pertanyaan.

Terbuka, terjadi tanpa rasa takut. Tanpa ditanya, akan bercerita. Terbuka membutuhkan keberanian, menghadapi kemungkinan bernama: marah.

Terbuka itu menyakitkan hanya bagi pikiran yang tidak biasa melihat kenyataan.

“Tadi pagi, secara tidak sengaja, aku berpapasan dengan mantanku, di restoran. Ia menyapa dan mengajakku makan siang, tetapi aku bilang tidak bisa. Selain akan membuatmu marah, aku sudah berkomitmen tidak akan bertemu mantanku dan akan bilang kalau ada apa-apa. Karena kamu percaya kepadaku, aku akan menjaga kepercayaanmu.”.

Kalau sudah bersikap terbuka, janganlah menginterogasi pasanganmu. Berikan kepercayaan, berikan apresiasi yang layak.

Yang sangat rendah adalah berbohong. Satu kebohongan, akan menyulut kebohongan lain..Kebohongan seperti api yang menjalar. Kebohongan membuat orang menipu dirinya sendiri, dan orang lain. Kebohongan memberikan masukan palsu, menipu pikiran-sendiri, sampai akhirnya cara pikiranmu menerima kenyataan, akan mau menerima kepalsuan. Kebihongan membuat siksaan dianggap sebagai ujian. Kebohongan menganggap wajar kegilaan.

Secara fisik, otak seorang pembohong memiliki perubahan struktur permanen dan pelan-pelan diri tidak bisa membedakan dunia dalam fantasi-kebohongan dan dunia yang sebagaimana adanya.

Kebohongan mengubah “derita” menjadi “bahagia” demi kepuasan orang lain. Kebohongan mengubah tugas yang belum selesai menjadi “sudah saya cetak, tetapi ketinggalan di rumah”. Kebohongan menumpuk hal-hal mendesak, yang membuatmu kerepotan, karena tidak kamu anggap penting. Kebohongan hanyalah pintu-keluar sementara dari penyelesaian masalah. Kebohongan adalah tabungan masalah di masa depan. Kebohongan mengubah 100 menjadi 1000 dan berakhir dengan “nol”.

Tidak Percaya

Kalau “tidak percaya” kepada pasangan, terjadi dalam bentuk “ingin memberikan yang terbaik” atau “khawatir”, asalkan tidak berlebihan, itu masih bisa diterima pasangan.

“Aku tidak percaya kalau kamu belum lapar” itu baik kalau memang kamu tahu kebiasaan pasanganmu. “Aku tidak percaya kamu tidak butuh jaket” itu baik kalau maksudmu menjaganya dari dingin.

Jangan “tidak percaya” dalam hal “mencoba” hal-hal yang tidak berbahaya dan dalam peran masing-masing. Percayalah, jika ia mau belajar.

Berikan ruang kesalahan. Biarkan ia belajar dengan pengalaman. Percaya kepada pasangan berarti percaya kepada peranmu kepada tindakan yang sedang ia lakukan. Berikan saran, namun jangan menyalahkan perannya sebagai kawan belajar anakmu.

Salah di tengah belajar, itu biasa. Terutama dalam pelajaran kehidupan, ketika seseorang ingin memahami orang lain.

Percaya bisa berarti memberikan kesempatan, rela melihat perubahan.

Seorang ibu, bisa bersabar terhadap rewelnya seorang anak, atau ruang yang selalu berantakan. Anak itu menceritakan kepada kawannya, betapa ibunya sangat penyabar.

Mengapa sulit membiarkan pasanganmu sesekali bersalah?

Kamu tidak sedang shopping ketika mencintai seseorang. Kalau shopping, kamu bisa komplain jika barang tidak sesuai spesifikasi, namun kamu menghadapi manusia, yang memiliki emosi, perasaan. Dan cinta itu pertumbuhan, perubahan.

Percayalah, kalau ia lebih tahu pekerjaannya.

Sekalipun ia pergi dengan orang lain, untuk urusan bekerja, atau berperan sebagai Romeo bagi Juliet di atas panggung, jika itu bagian dari pekerjaannya, berilah kepercayaan.

Tidak ada peran baik yang langsung baik sejak awal. Tidak ada peran baik, tanpa kepercayaan. Keadaan buruk bisa menjadi baik, jika ada komitmen bersama, dan didasari dengan 1 hal: percaya.

Sengaja Membuat Jarak

Hubungan, secara emosional menjadi lebih buruk, jika sapah-satu secara sengaja membuat jarak.

Bentuknya, bukan hanya jarak geografis. Yang berakibat: lebih sulit, berubah semakin sendiri-sendiri, lebih lama menanggapi, dan lebih buruk daripada kebiasaan lama, itulah jarak.

Mengecualikan status WhatsApp karena sedang marah kepada pasangan. Tidak segera membalas pesan. Tidak punya waktu karena tidak memprioritaskan waktu untuknya. Menunda pertemuan padahal sebenarnya tidak ada jadwal mendesak, dst. Semua itu membuatmu semakin berjarak.

Bentuknya, sengaja berjauhan secara fisik, menghindari komunikasi, dan meniadakan intimasi.

Carilah, di mana rasa sakit itu berasal. Apakah kesalahan dari masa lalu yang belum kamu sadari? Atau perbedaan selera? Tanyakan, bicarakan.

Perempuan (maupun lelaki), biasanya memiliki kamus tersendiri. Kamu perlu memproses kalimat dari perspektif mereka, agar bisa memahami maksud mereka.

“Tinggalkan aku sendiri,” dari seorang perempuan, biasanya berarti “Perhatikan aku..”. “Aku baik-baik saja”, bisa berarti, “Perhatikan aku..”. “Semoga kamu bahagia dengannya..” mungkin berarti, “Kamu tidak akan bahagia dengan orang lain selain diriku.”. : ) )

Berjarak atau tidak, hanya kamu dan pasanganmu yang tahu. Sekalipun kamu masih memakai cincin pernikahan, atau masih rajin memasang foto kamu berdua dengannya di Facebook, jarak tetaplah jarak.

Orang lain pasti melihatnya. Jika kasusnya ada orang-ketiga, jarak sengaja diciptakan orang-ketiga.

Hubungan jarak jauh, dari perkenalan yang memang secara fisik sudah berjarak, bisa tetap terjalin intim dan baik-baik saja. Asalkan tidak ada pemblokiran komunikasi dan tetap ingin saling terhubung.

Beberapa kawan saya, masih mesra dengan pasangannya, sekalipun hubungan mereka jarak-jauh. LDR (long-distance relationship) tidaklah masalah, asalkan komunikasi lancar, tetap ada pertemuan rutin, saling percaya, dan tidak memblokir kesempatan baik.

Ada kawan saya yang bertemu pasangannya seminggu-sekali, karena alasan pekerjaan. Ada yang tinggal di rumah berlainan, namun tetap menghadiri acara bersama, sering bersama anak mrreka, dan anaknya jarang bertemu bapaknya. Mereka melakukan ini karena kesepakatan sejak-awal. Budaya mereka berbeda dan sama-sama pembosan jika setiap hari bertemu. Bahkan anak mereka bercerita pengalaman seru dengan kedua orang tuanya, tahu kebiasaan dan detail kedua orang tuanya.

Menuntut Pembuktian

“Pembuktian” selalu dekat dengan keraguan, timbal-balik (meminta balasan), dan akal-sehat. Ketiganya, tidak identik dengan cinta sama sekali.

Indikasi yang mengkhawatirkan, kalau sudah ada pernyataan atau permintaan, “Buktikan bahwa kamu mencintaiku, dengan melompat ke dalam sumur.”.

Menuntut pembuktian, sering berasal dari keraguan. Atau paradigma bahwa cinta itu berdasarkan prinsip “take and give“. Memberi-menerima. Saling-balas-kebaikan. Konsep yang dipinjam dari dunia perdagangan. Quid pro quo, ngasih ini dapat itu.

Menuntut pembuktian adalah bentuk dari mengatur pasangan sesuai dengan peraturanmu.

“Kalau kamu memang mencintaiku, berhentilah merokok.”
“Kalau kamu mencintaiku, jangan lakukan hobimu.”
“Mana yang lebih kamu cintai, kawan-kawanmu atau aku?”
“Kalau kamu memang mau melakukan apapun untukku, melompatlah masuk ke dalam api unggun itu.”

Hubungan menjadi tak-sehat, ketika menuntut pembuktian. Cinta tidak membutuhkan banyak syarat.

Terobsesi kepada Orang Lain

Menjadi “orang lain” adalah cara termudah memberikan hidupmu untuk.orang lain.

Yang bukan diri kamu, atau pasangan kamu, itulah “orang lain”.

Terobsesi kepada orang lain, terjadi berdasarkan kekaguman, kebencian, atau imajinasi.

Kagum kepada idola, bisa membuat seseorang mengatur pasangannya agar mirip 11-12 dengan idolanya.

Kamu tidak bisa meng-copy atau mengkoreksi pasanganmu, dengan kepribadian orang lain. Kamu tidak bisa memaksa anakmu menjadi seperti siswa teladan jika itu bukan dirinya sendiri.

Kebencian kepada orang lain, juga bisa menjadi obsesi. Sering terjadi, ketika seseorang pernah tersakiti di masa lalu, oleh mantannya, ia cenderung membuat “daftar dalam” (blaclist) dalam pikirannya, apa saja yang tidak akan ia lakukan. Hanya agar ia tidak ingat mantan itu. Atau melarang pasangan menjalankan hobi yang pernah ia jalankan, hanya karena cemburu.

Kebencian ini sama halnya dengan memelihara mantan dalam hubunganmu dengan pasanganmu sekarang.

“Aku tidak suka kalau kamu mendengarkan musik ini.”
“Jangan buatkan tugasku, karena dulu mantanku sering membuatkan tugas.”
“Biar aku yang bayar, karena aku benci kalau cowok yang bayar.”

Untuk mengatasinya, hiduplah dengan apa yang terjadi kepadamu sekarang. Bukan kamu di masa lalu.

Apa yang membuat orang tidak bisa move-on, itu karena ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, yang pernah salah mengambil keputusan, di masa lalu.

Terobsesi kepada orang lain, berdasarkan imajinasi, lebih berbahaya. Kamu punya imajinasi berupa kepribadian ideal, lalu kamu menuntut pasanganmu harus seperti apa yang kamu inginkan.

Bersikaplah realistis. Wajar menuntut pribadi ideal, namun berubah tidaklah secepat berubahnya pikiran. Biarkan orang menjadi dirinya sendiri. Daripada membayangkan yang terlalu tinggi, pertimbangkan untuk memperbaiki apa yang ada, secara bertahap, dan bersama.

“Pokoknya, besok kamu harus berubah. Titik!”.

Berpikir seperti ini, meminta perubahan terjadi besok, sangatlah tidak realistis.

Contoh paling mudah terobsesi kepada orang lain itu ketika seorang lelaki terobsesi kepada body atau pose ideal yang pernah ia tonton di film. Percayalah, membentuk body ideal itu nggak bisa terjadi dalam 1 bulan. Body ideal bisa kamu bentuk hanya dengan makanan sehat, hidup sehat, dan berolahraga..

Perilaku Kecanduan

Perilaku adiktif, atau perilaku yang sudah dalam tingkatan kecanduan.

Sekeliling kita, penuh orang kecanduan. Ada yang kecanduan nge-game pubg, kecanduan traveling, kecanduan mem-bully orang, kecanduan nonton YouTube, dll.

Kecanduan itu kalau durasinya jika ditotal sangat tinggi (dari 24 jam), kamu tidak bisa menjalani harimu tanpanya, merugikan dirimu secara fisik, dan kamu tidak pernah bosan melakukan tindakan ini.

Fokus energi kamu terlihat dalam “blocking time” yang kamu pakai. Seberapa lama, itulah pertanyaannya. Kalau orang bilang suka menulis tetapi hanya meluangkan 30 menit browsing dan membaca, berarti jumlah itu terlalu sedikit jika dihitung dari 16 jam ia melek dalam sehari. Seberapa lama setiap hari, itulah fokus energi hidupmu.

“Kecanduan” berubah menjadi perbudakan, jika kamu melakukannya bukan atas dasar suka, tetapi sudah berdasarkan ketakutan.

Untuk menurunkan perilaku adiktif, keluarlah dari zona nyaman. Cobalah rutinitas lain, mungkin ada yang lebih menarik.

Mengenali penanda hubungan “bermasalah” itu penting. Bukan untuk memutuskan berpisah atau tidak, melainkan untuk memperbaiki hubungan.

Kenali masalah. Kamu tidak perlu terlibat terlalu lama dalam perang yang salah. Lanjutkan hidupmu. Mungkin kebahagiaanmu bukan dengan pasanganmu yang sekarang.K

Cara Move-on

Kalau hubunganmu telah berakhir, cara move-on itu mudah. Maafkan dirimu sendiri yang pernah salah dalam mengambil keputusan. Sadari bahwa diri kamu yang kemarin, tidak bisa mengatur diri kamu yang sekarang. Lanjutkan hidupmu, dunia dan waktu masih terbentang luas. “Akal sehat selalu kalah melawan kenangan,” terjadi kalau kamu tidak percaya besok kamu bisa menciptakan kenangan yang lebih baik. [dm]

What do you think?

960 points
Upvote Downvote

6 Comments