in

Dangdut Koplo Live (Diskotik Publik dan Mobilisasi Politik)

Pembauran pelbagai genre musik. Popularitasnya “tidak” ditopang televisi nasional dan kontes pencari bintang. Sering menjadi media mobilisasi politik.

Hampir di setiap acara besar, pemandangan panggung dangdut koplo dengan suara sound melengking, ditemukan ribuan orang berkerumun, berjoget dan menikmati perayaan. Kadang diadakan di lapangan, tempat wisata, rumah seseorang, atau ruang outdoor lain. Acara sedekah bumi, sunatan, nikahan, sampai mobilisasi massa menjelang pilkada, semuanya menyukai dangdut koplo.

Bermusik di jalur dangdut koplo tidak semudah dugaan orang. Penyanyi dan pemusik dangdut koplo memang pilihan, tidak ada yang karbitan, apalagi dibesarkan media. Bukan rahasia lagi kalau banyak gitaris mantan juara parade dan festival rock beralih profesi menjadi gitaris dangdut. Bukan karena dulunya raja dangdut Rhoma Irama dulunya gitaris-vokalis di jalur rock, namun karena aransemen lagu dangdut koplo banyak yang dibentuk dari pelbagai genre musik.

Silakan search di YouTube, betapa dangdut koplo menjadi arus-utama (mainstream) yang menyatukan ragam genre musik: lagu pop lama, dangdut alusan, slow rock, lagu barat, sampai lagu ngamen, bisa dihadirkan-kembali dalam bentuk dangdut koplo. Lagu pop lama “Karmilla” dari Farid Harja yang populer di tahun 1980-an, mendapat beat rock setelah di-koplo-kan, dangdut Nur Halimah dan Ida Layla bisa dibawakan sambil goyang, lagu “Sweet Child O’Mine” Guns ‘N Roses, alunan slow rock “Rela”, “Gambaran Cinta” Inka Christie berubah beat menjadi rock progressive.

“Koplo” menjadi kata-kerja dahsyat yang menyatukan aliran musik apapun. Melalui panggung dangdut koplo juga, lagu yang tadinya hanya dikenal di jalanan, dinyanyikan para pengamen, menjadi populer di pentas dangdut live. Sampai dalam rekaman video pementasan, kadang tidak disebutkan judul lagunya, melainkan diberi sistem penomoran: “Ngamen 1” sampai “Ngamen 9”. Entah apa yang terjadi jika lagu-lagu anonymous ini memasuki major label berhadapan dengan isu hak-cipta (copyright).

Paling menarik ketika dangdut koplo dengan ritme ketipung, drum, serta lengkingan dan distorsi gitarnya mampu membawakan lagu-lagu Jawa tradisional (misalnya: “Perahu Layar” ciptaan Ki Narto Sabdo), mengingat titi-nada gamelan Jawa (yang dulu mengiringi lagu ini) dan do-re-mi gitar elektrik di dangdut koplo itu berbeda. Kemeriahan yang dihasilkan juga menakjubkan.

Menonton dangdut menjadi sarana hiburan, clubbing (ngumpul bareng teman) satu genk, mereka bergoyang dengan pembagian wilayah sendiri-sendiri. Tidak jarang pula, mereka bergoyang sambil mengkonsumsi alkohol, membentuk lingkaran agar tidak dimasuki yang bukan sekawan, dan sering terjadi tawuran ketika dua wilayah yang sedang menikmati musik ini “bersentuhan”.

Dangdut koplo menjadi ruang terbuka yang fungsinya sama dengan diskotik, tempat orang melepas kepenatan, menggunakan “dress code” (pakaian yang disepakati untuk menghadiri acara), serta menikmati kebebasan sesaat.

Dangdut koplo memiliki medan sendiri: YouTube, video dokumentasi, serta video bajakan tentu saja.

Dangdut koplo biasanya dipentaskan sebagai “tanggapan”, istilah untuk menghadirkan hiburan kepada publik dari seseorang atau lembaga yang punya “gawe” (hajat). Orang Asia suka perayaan, suka berkumpul, mengadakan selamatan, atau menyelenggarakan event seni.

Kehadiran multimedia digital video dan compact disc (CD) ikut mendokumentasi acara dangdut koplo, didukung smartphone yang mudah mengunggah video klip berdurasi 5-10 menit ke internet. Pihak yang punya hajat, biasanya mencantumkan acara, meng-copy dokumentasi itu menjadi beberapa puluh atau ratus,  sedangkan pemakai smartphone dan internet menyebarkannya lebih masif.

Sebuah video Monata dan Palapa, bisa mendapatkan view (dilihat orang) dari angka ribuan sampai juta.

Tidak harus melewati industri rekaman “major label” atau melewati ajang kontes pendongkrak popularitas, dangdut koplo menjadi kawah “candradimuka” ditemukannya selebritas seperti Ratna Antika dan Shodiq Monata.

Ratna Antika Monata disukai karena dia punya “gaya”, suaranya tidak berubah saat bernyanyi sambil lonjak-lonjak, dan bisa mengendalikan penonton yang sedang berantem. Seorang aranjer bernama Shodiq, diakui vokal dan kepintarannya menggubah lagu. Penonton memilihnya, bukan media televisi atau ajang kontes pemilihan bintang.

Tidak mengherankan, ada sebuah lembaga legislatif di sebuah kabupaten yang rajin menanggap dangdut koplo untuk menaikkan pencitraan kedekatannya dengan publik di setiap purnabakti. Tidak mengherankan pula, di tengah kritik gencar terhadap ekses negatif dangdut koplo (yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan), banyak politikus dan partai politik yang menggunakan dangdut koplo sebagai vote getter untuk meraih suara dalam pemilihan. Bahkan dangdut koplo sering muncul sebagai “charity” pada saat terjadi bencana alam.

Politik menyukai mobilisasi massa pada saat orang-orang merindukan ruang publik yang bisa menampung gairah mereka meluapkan ketegangan melalui musik. [dm]

What do you think?