in

Mendeteksi Kebohongan

Cara saya mendeteksi kebohongan yang membuat orang lain tidak bisa menghindar.

Kebanyakan orang adalah: penyaji data, pencerita, atau pembohong.

Pada dasarnya, semua orang cenderung memilih berbohong sebagai mekanisme pertahanan-diri (self-defence mechanism).

Pembohong lebih sering menganggap kebohongan bukan kebohongan, harus dilakukan, atau tidak menyadari kalau ia sedang berbohong.

Berapa umurmu? Apa yang paling kamu kejar dalam hidup? Siapa yang paling kamu cinta di dunia ini? Apapun jawabanmu pada pertanyaan, yang membutuhkan analisis panjang itu, hasilnya 99% kebohongan.

Hampir semua orang pembohong. Tidak merasa berbohong. Atau harus berbohong demi kebaikan. Ketika ada pertanyaan, “Ini warna apa?”, mungkin kamu menjawab “magenta”, tetapi dari sudut pandang hex code rgb, mungkin kamu salah. Apalagi pada pertanyaan kualitatif, seperti, “Apakah rakyat di negara ini sudah makmur?”, mungkin semua jawaban bisa dianggap salah. Seorang ibu, bisa jadi harus “berbohong” demi keselamatan anaknya yang minta mainan berbahaya. “Apakah kamu baik-baik saja?”, termasuk jenis pertanyaan yang tidak spesifik dan berpotensi mendapatkan jawaban bohong, karena kualitas “baik-baik saja” itu sangat rumit.

Dalam interogasi, wawancara, melihat pernyataan orang lain, kita membutuhkan metode untuk mendeteksi kebohongan. Bukan untuk mengadili orang lain, tetapi bisa kita pakai untuk meraba sedekat apa pernyataan orang itu dengan fakta yang sedang berjalan.

Saya membuat daftar, yang bisa kamu pakai untuk mendeteksi kebohongan seseorang.

Kamu tidak bisa mendeteksi kebohongan hanya dengan bahasa tubuh. Orang yang tidak pernah masuk ke kantor polisi, misalnya, akan keder ketika menghadapi pertanyaan.
Jangan percaya konsep “mind reader”. Dari mana datangnya “mind reader”? Konsep ini menganggap, seseorang bisa membaca pikiran orang lain, berdasarkan: bahasa tubuh, pilihan kata, dan pengalaman yang dimiliki pembaca pikiran, dikaitkan dengan preferensi personalitas orang yang diteorikan oleh psikologi dan agama. Kalau preferensi personalitas yang dipakai salah, sudah pasti pembacaannya salah. Contoh: “rambut lurus-kaku” diartikan orangnya sulit diubah pendapatnya; jari-jari gemetaran diartikan berbohong; menyukai bentuk lingkaran berarti orangnya menyukai integritas.

Gunakan pengukur berikut ini, dalam mendeteksi kebohongan:

  1. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Tidak langsung menjawab, memberikan jeda. Kadang menyampaikan alasan, sedang melakukan ini dan itu.
  2. Tidak detail, tidak memberikan informasi khusus. Banyak bicara, berani bicara, tetapi terkait hal-hal biasa.
  3. Sering secara eksplisit (terbuka) menyatakan bahwa dia jujur. Misalnya, “Masak sih, saya berbohong..”,atau “Saya itu nggak pernah berbohong.”
  4. Lambat dalam menjelaskan sesuatu. Sengaja membuat jeda untuk “mengarang” pernyataan.
  5. Menjawab secara formal. Misalnya: “Saya bekerja seperti biasanya. Tidak ada yang mencurigakan.”.
  6. Menjawab dengan detail, sesuatu yang tidak berkaitan dengan pertanyaan utama. Misalnya, kamu bertanya tentang “Tadi malam di mana?”. Ini pertanyaan tentang tempat.Ia menjawab, “Tadi malam, saya nonton bola. Pertandingannya seru sekali. Pertama saya menjagokan Inggris, karena Inggris mainnya bagus. Ternyata..”.
  7. Penjelasannya terpotong-potong. Bedakan antara jujur dan terbuka. Jujur itu benar-sebagian, tetapi tidak menampilkan gambar-besar. Misalnya, seorang lelaki beli rokok di luar, kemudian bermain game selama 2 jam di warung kopi. Istrinya yang galak, bertanya, “Dari beli rokok.”. Dia jujur, tetapi tidak menjelaskan peristiwa bermain game selama 2 jam di warung kopi, yang mungkin tidak disukai istrinya.
  8. Tidak kronologis. Jika fakta yang ia sampaikan kita kumpulkan kemudian kita buat timeline, hasilnya kacau.
  9. Suka jika topik pembicaraan beralih, atau sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
  10. Sulit menjawab pertanyaan spontan. Itu sebabnya, memberi cecaran pertanyaan spontan, akan membuat pembohong segera beralih.
  11. Setelah menjawab pertanyaan, ia berkedip. Lihat di kehidupan nyata dan film, setiap selesai menjawab kemudian berkedip, biasanya terjadi kebohongan.
  12. Ketika menjawab pertanyaan sederhana, bola mata bergerak ke kanan. Otak kanan biasa untuk melakukan kalkulasi rasional. Pertanyaan tentang apa makanan kesukaan kita, tidak perlu dipikirkan panjang, karena setiap hari kita makan.

Daftar di atas, tidak mutlak. Ingat: bahasa tubuh tidak bisa menjadi pedoman. Seseorang yang dibentak dan dicengkeram, atau seseorang yang belum pernah mendatangi ruang interogasi, sudah wajar kalau terbata-bata dan takut.

Cara paling ampuh adalah “clustering”. Pewawancara memiliki “pertanyaan inti” yang ia sembunyikan, kemudian memberikan pertanyaan secara acak. Kelompokkan jawabannya. Adakah yang bertentangan? Adakah yang tidak logis dari penjelasan orang yang ditanya? Dengan cara seperti ini, orang akan ketahuan berbohong atau tidak.

Dan lebih banyak berlatih. Orang sekitarmu kebanyakan pembohong. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.