in

Hantu dalam Mesin Berita Media

Jurnalisme yang terkontaminasi pernyataan formal, bukanlah jurnalisme. Manusia harus melampaui bot berita.

Robot bisa menulis berita dan membangun data. Apa yang bisa dilakukan robot pemrograman dalam membuat berita? Apa yang menarik dari invasi algoritma dan bot dalam menyajikan berita untuk manusia modern?

Kontaminasi Jurnalisme: Hiburan dan Propaganda 

Journalisme tainted by conviction is not journalism,” kata Jonathan Green dari ABC News. Jurnalisme yang terkontaminasi pernyataan formal, bukanlah jurnalisme.

Media, memiliki tugas menginformasikan tanpa bias dan tanpa merasa paling-benar. Menyederhanakan, itulah tuntutan media sekarang. Jika jurnalisme berwujud polemik, sinis mengajukan proposisi, maka jurnalisme akan kehilangan fungsi sosial. Jurnalisme seperti itu hanya akan menjadi sajian hiburan (entertainment) atau propaganda. Lihatlah bagaimana televisi menyajikan debat atau talk show kampanye halus, pada akhirnya tidak lebih dari sekadar pilihan: hiburan atau propaganda.

Jurnalisme yang menyampaikan pernyataan formal personal, akan menjadi tak-relevan atau menjadi kalimat kematian.

Berita Singkat dan Propaganda Media Sosial

Orang tidak peduli siapa di balik sebuah media, sebaliknya, orang menginginkan content relevan, sesuai dengan apa yang dia cari, tentu saja dengan pertimbangan kecepatan dan ketepatan. Sekarang, empat paragraf sudah dianggap straight news (berita singkat), bisa tanpa foto, atau hanya konfirmasi telepon, tanpa turun lapangan. Batas antara liputan peristiwa dan investigasi, sudah kabur.

Orang mudah memberitakan-diri dengan media sosial yang memang berfungsi sebagai alat propaganda diri sendiri.

Sebuah foto, dengan sedikit caption, bisa di-share dengan cepat. Pemberitaan, kini mengalami perubahan besar sejak smartphone menjadi mesin jurnalisme.

5 Fungsi Bot Berita 

Ada pula yang tidak berwujud mesin fisik, melainkan hanya baris-baris program yang dikerjakan dari internet, namanya bot dan algorithm. Kita sering menggunakannya, saat mengakses Google.¬†Jika kamu mencari “baju merah” dan mendapatkan hasilnya, seperti itulah kerjanya.

Bot berita adalah script pemrograman untuk menyajikan data cepat dengan fungsi-fungsi khusus. Bot news (bot berita) dirancang untuk sajian berita terkini, mudah dibaca, serta valid. Misalnya: cuaca terkini, laporan keuangan sebuah perusahaan, atau data artis yang bermasalah tahun ini.

Apa yang bisa dilakukan robot pemrograman dalam membuat berita? 1. Pengujian fakta real-time. Pengujian fakta itu memakan waktu, misalnya: siapa nama lengkap narasumber? berapa jumlah penduduk Semarang tahun 1998? Pengujian fakta ini menggunakan data dari robot, namun tetap dikerjakan jurnalis. Manusia menjadi lapisan kedua, melakukan verifikasi fakta di lapangan. 2. Mengidentifikasi salah-ketik, salah-eja, dan kesalahan lain. kamu tentu sering menggunakan keampuhan Microsoft Office dan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mendeteksi kata agar tidak salah-ketik atau salah-eja. 3. Membuat kronologi (timeline) dan sajian data visual (infographic) atas suatu peristiwa. kamu tentu pernah melihat highlight Liga Champion atau data skor terkini. Bot bisa membuatkan linimasa (timeline) seperti itu dengan cepat. Tidak perlu membalik kertas atau mencari file berita sebelumnya. 4. Mendeteksi plagiarisme dan fabrikasi content. Semua dialirkan ke big data di internet, sehingga ketahuan: siapa yang mempublikasikan data ini pertama kali? sumber mana yang harus saya kutip? 5. Bot juga kelak akan disinergikan dengan drone (pesawat tanpa awak) untuk memperluas akses data. Misalnya: pada saat bencana, drone dengan kamera built-in resolusi tinggi bisa menghasilkan potret untuk disajikan kepada pembaca. Lebih aman, bisa dikendalikan dari jauh, dan hasilnya bisa langsung diakses para pemakai.

Sejarah dan Kemajuan Bot Berita

Pada tahun 2004, Microsoft sudah meluncurkan news bot (robot berita), layanan agregator berita, dicobakan di Amerika, Inggris Raya, Malaysia, dan India. Raksasa media, lantas menggunakannya untuk kecanggihan penulisan berita. Forbes,¬† media yang sudah menggunakan algoritma untuk menyajikan data olah raga dan finansial, dalam bentuk narasi. Tidak ada komplain terhadap akurasi data Forbes. Misalnya, redaksi ingin menyajikan data “keuntungan koran New York Times”, dengan cepat algoritma ini menyajikan “cerita” disertai “data” serta berita terkait lainnya.

Akun twitter @nytimes_ebooks dikerjakan dengan Haiku Bot, yang bisa menuliskan haiku, puisi pendek tiga baris yang masing-masing baris terdiri dari 3-5 kata. Jika kamu melihat akun twitter berisi kutipan, melakukan retweet otomatis setiap di-mention akun lain, seperti itulah cara bot bekerja.

RoboNews pernah diberitakan situs Wired, digunakan untuk pewarta kejadian terkini pada saat badai tsunami melanda Jepang. Apa yang luput dari jangkauan reporter, sajian data terbaru, sampai prediksi cuaca, bisa disajikan secara otomatis.

Algoritma semacam ini dirintis DoubleClick dan dibeli Google tahun 2008, menyempurnakan kesaktiannya sebagai mesin pencari, dan kelak juga dikembangkan Narrative Science sebagai mesin berita yang dibayar jutaan pemakai. 15 tahun mendatang, mesin berita akan lebih banyak dikerjakan bot seperti ini, dengan taksiran persentasi mencapai 90%.

Abad Statistik, Terra Incognita

Apa yang menarik dari invasi algoritma dan bot dalam menyajikan berita untuk manusia modern?

Pada abad ke-20, manusia sibuk menemukan mesin. Mereka menjelajahi pengetahuan: bagaimana caranya terbang, mendengarkan suara orang dari kejauhan dan menontonnya, serta menyimpan kenangan itu. Manusia modern lantas mendalami teknologi penerbangan, gelombang radio dan televisi, dan komputer.

Setelahnya mesin-mesin ditemukan, manusia menghadapi ilmu pengetahuan yang semakin sulit, karena, semuanya sudah ditemukan. Ilmuwan perlu menyempurnakannya terus menerus. Studi tentang “manusia”, sudah selesai, kata Michel Foucault.

Menurut Cam Davidson-Pilon, problem manusia sekarang adalah problem statistik. Statistik selalu berkaitan dengan “data” dan “kawasan yang belum dikenal” (terra incognita). Setiap membuat penelitian baru, selalu ada pertanyaan: siapakah yang pernah meneliti kawasan penilitian (field research) ini sebelumnya?

Membaca sekian ratus data tentang alasan orang memilih baju, orang membutuhkan sajian data terkini: alasan apa yang paling masuk akal? Tentu saja, pemilahan tercepat adalah data statistik. Tentu saja, penyaji data tercepat adalah robot. Bukan lagi manusia. Jika kamu menjalin hubungan, lalu mengalami kendala ejakulasi dini, tentu kamu butuh pendapat ahli, tepatnya, sebuah tulisan yang baik, atau data valid. Apa yang tidak sedang kamu ketahui (saat mengambil keputusan) adalah kawasan tak-dikenal.

Data tersebut ditentukan rating. Data ini dikerjakan sebagai big data, tersimpan di cloud (server besar di internet), dan diedarkan kepada siapapun yang bisa mengaksesnya. Ini berarti: sebuah tulisan kecil kamu di Indonesia, jika bisa mendapatkan kepercayaan (melalui sharing content dan comment), bisa mempengaruhi keputusan seksual ratusan pasangan di Amerika.

Bot tidak menggantikan peran penulis-manusia. Bot membutuhkan kecerdasan buatan dan data terpercaya. Jika tulisan kamu tidak menggunakan data terpercaya, tidak bisa mempengaruhi keputusan orang lain. Atau bukan tidak mungkin, tiba-tiba ada keputusan yang mempengaruhi hidup kamu, karena penentu keputusan menggunakan statistik salah.

Bot berita adalah hantu dalam mesin berita media yang akan membayangi pengambilan keputusan manusia, sendirian ataupun sebuah negara. [dm]

What do you think?