in

Konsultasi yang Tidak Gratis

Alasan panjang mengapa saya buka konsultasi gratis, padahal sebenarnya bisa mahal.

Kalau memakai layanan desain web saya, ada fitur bawaan: “konsultasi gratis 27/7 melalui WhatsApp atau email.”.

Bukan jebakan betmen, bukan pemanis-buatan, bukan nilai plus. Itu salah satu fitur andalan dari layanan desain web saya.

Saya punya komitmen membantu orang yang ingin punya website, agar mudah dan lancar.

Waktu mereka berharga, sering sekali mereka kurang pede, atau ingin membandingkan layanan saya dengan layanan di tempat lain, terkena masalah teknis, mau mencari referensi lain, dll.
Semua itu bisa saya atasi dengan satu kata: “konsultasi”.

Chat bisa dibaca-nanti, bisa saya sisipkan gambar, memuat link, dan bisa diarsipkan. Jauh lebih efisien daripada Call atau Video Call yang sering saya tolak.

Saya menghadapi pertanyaan, dengan membuat FAQ (frequently asked questions), seperti: Bagaimana cara login? Bagaimana cara ganti password? Hal-hal mendasar yang sering mereka tanyakan. Tinggal edit sedikit, saya bisa menjawab pertanyaan. Atau memberikan saran.

Sebenarnya, konsultasi tidaklah gratis, jika kita melihat persiapan konsultasi. Dalam hal ini, melihat apa yang sebenarnya saya siapkan.

Jauh sebelum saya membuka konsultasi gratis, saya belajar. Setiap hari saya belajar, melakukan eksperimen, mencoba plugin yang sedang ngehit di website yang secara khusus saya pakai sebagai sand box. Saya berani memastikan ini work atau tidak, ini seperti kata review atau tidak, dengan satu cara: membaca code, mencoba, dan memastikan kualitas dari produk atau layanan yang saya tawarkan. Kalau dihitung, ini biaya yang besar.

Dalam bisnis desain web maupun pembuatan aplikasi, harus ada biaya belajar. Harus ada kemampuan menjadi “showrunner” (penyaji pertunjukan) ketika berbicara dengan [calon] pelanggan.

Google dan Twitter hanya menyediakan menu pertolongan. Pemakai Facebook lebih suka bertanya kepada orang lain kalau akun mereka bermasalah, daripada membaca menu pertolongan. Kenyataan, baik Google, Twitter, dan Facebook, punya banyak manusia dan rancangan untuk bicara kepada pelanggan mereka.

Konsultasi adalah..

  • Hasil belajar.
  • Conversation.
  • Feed back.
  • Cerita untuk pelanggan.
  • Sentuhan manusiawi.
  • Customer service dalam bentuk lain.
  • Menjawab komplain.
  • Mengubah negativitas menjadi optimisme.
  • Penguatan jaringan.
  • Iklan terselubung.
  • Detail fitur.
  • Tindakan.
  • Layanan lebih.
  • Mendengarkan cerita client tentang masalah dan mimpi mereka.
  • Ruang tamu yang selalu terbuka, di sini dan di sana.
  • Keramahan ketika bertemu.
  • Discount dan “harga teman”.
  • Pemicu agar saya selalu belajar.
  • Perbaikan kualitas produk dan layanan.
  • Menunjukkan “mengapa” saya mengerjakan ini untuk kamu.
  • Nilai yang sedang kamu perjuangkan — bahwa ternyata menangani website itu tidak mudah.

Jika mereka bisa melihat “mengapa” dan “bagaimana” saya membuat layanan desain web ini, mereka akan bersikap loyal dan menyarankan layanan ini kepada orang lain. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.