in

Konsumsi Berita Hiperlokal dan Hubungan Sosial Meregang

Percepatan, ketidakpastian, dan kesementaraan, menjadi nilai berita. Merenggangkan jika relevansi mencapai titik-lenyap.

Mengapa membludaknya arus informasi di internet yang dibagikan di media sosial sering menjauhkan orang dari pergaulan sosial? Ini dia penyebabnya.

Berita Hiperlokal, bukan Citizen Journalism

Internet dipenuhi hyperlocal news, yaitu berita yang berskala lokal-kecil, misalnya: hobi tetangga kamu, tips parenting, ataupun manfaat tanaman obat yang ditemukan dari kebun sendiri. YouTube, stasiun televisi internet, dan blog adalah contoh dari media yang membawa content hyperlocal.

Situs-situs berita online, kebanyakan didasari kebutuhan untuk memberitakan sekelilingnya secara hyperlocal. Sulit membedakan pengertian “jurnalisme hiperlokal”, “jurnalisme penduduk” (citizen journalism), dan “jurnalisme web”. Tren “hyperlocal news” mengalami booming sejak subkultur media sosial berhubungan dengan media bermodal besar, seperti: ABC dan CNN. Sampai sekarang, tren mencari kabar yang paling melokal, masih menjadi janji bisnis media online lokal.

Relevansi, Titik Lenyap

Relevansi pada berita, pada zaman yang mengalami percepatan, ketakpastian, dan kesementaraan, menjadi nilai berita tertinggi. Buat apa membaca ancaman nuklir Korea Utara jika hidup tidak berhubungan dengan nuklir? Buat apa mengikuti berita korupsi kalau hidup tidak terlalu dirugikan oleh kasus korupsi itu? Begitu kira-kira apatisme tergambar saat seseorang menghadapi berita yang tak-relevan dengan hidupnya.

Menurut teori “vanishing point“, kita terhubung dengan banyak hal, namun terpisah karena keterbatasan sudut pandang, seperti berdiri di rel yang sama dan menganggap benda yang jauh itu ukurannya kecil, padahal belum tentu lebih kecil. Suatu kali jika kamu sedang berada di atas rel, ada kereta api meluncur ke arah kita, kereta api itu membesar dan akan menabrak. kamu berdiri di rel yang sama, berhubungan, namun obyek itu kelihatan kecil. Seperti itulah relasi seseorang dengan sebuah peristiwa (berita).

Mereka terhubung dalam satu jaringan internet (layaknya berdiri di atas rel yang sama), seperti bersebelahan, bisa memperoleh berita kapan saja, namun jika berita itu tidak relevan (tidak akan menabraknya) maka dia tetap melihatnya sebagai sesuatu yang kecil. Walaupun satu rel, namun karena perspektif, suatu obyek besar menjadi terlihat kecil.

Penyaring dan Personalisasi Berita

Mengapa kita berkali-kali melihat Beranda Facebook dan Twitter? Karena ingin melihat berita yang berhubungan (relevan) dengan hidup kita. Mungkin tentang pentingnya reuni, cara mengatasi atasan galak, menekuni hobi, atau mendapatkan pengetahuan baru. Berita dinilai dari sisi relevansi.

Asyiknya, orang bisa mencari lebih lanjut dari mesin pencari. Apa saja ada di sana. Seseorang melihat “rekor dunia” tanpa keterkejutan, begitu pula saat melihat jumlah angka korupsi. Tidak terlalu mengejutkan, jika tidak berhubungan dengan kita. Mesin pencari menjadi sumber pengetahuan yang terlanjur dipercaya menyediakan informasi atas hal asing, tak peduli kualitas dan obyektivitas informasi itu.

Mereka mencari, menemukan, lalu membagikan. Mereka membagikan “pengalaman hidup” dan “content terpilih dari mesin-pencari” di sebuah kuil: media sosial.

Fungsi media sosial adalah filter (penyaring) dari apapun yang didapatkan orang dari search engine, berita, dan tempat membagikan pengalaman hidup mereka. Jejaring yang memberikan kepribadian paling unggul adalah jejaring yang akan menjadi pemenang. Facebook adalah pemenangnya. Melalui Facebook, seseorang memiliki kerajaan kepribadian sendiri.

Orang menunjukkan sisi lain dirinya, bersama semua orang. Facebook menyebutnya “jaringan”, Google+ menamainya “circle” (lingkaran pertemanan). Informasi mengalami reduksi dua kali: dari realitas ke berita, dari berita ke media sosial.

Mesin Berita Baru

Media sosial juga menjadi mesin berita lokal yang telah mengalami personalisasi di tingkat desain (tampilan) maupun penyajian. Kalau kamu melihat seorang pejabat pemerintah diparodikan dalam bentuk manipulasi foto, semacam itulah personalisasi. Kalau ada berita eksploitasi alam diberi tambahan komentar sebelum di-share, itu berarti berita mengalami personalisasi. Singkatnya, informasi dari media sosial disaring dan dipertemukan dengan pengalaman seseorang.

dari Relevansi ke Sikap

Apa yang dikatakan media online perlu memperoleh pendapat orang di media sosial. Relevansi, bergeser menjadi penilaian-sikap (assesment, judgement, justification). Tidak mengherankan jika kebijakan politik maupun selera publik akhirnya didasarkan pada “opini” dan “jempol”, diserahkan kepada kuantitas, partisipatori direduksi menjadi voting. Media menjadi tempat permainan harapan politik, informasi berbalik secara alami mengendalikan pikiran, bahkan berita diidentikkan dengan realitas. Bukan lagi sekadar persepsi atas realitas.

Keserbatersediaan dan Pembalikan Nilai

Jika berita hiperlokal sudah tersedia di mana-mana, setiap waktu, namun di sisi lain kita tidak membatasi dari hal-hal global, menjalani aktivitas tradisional seperti berjanji-temu (nge-date), bekerja, dan mencapai kebahagiaan. Pada saat yang sama, orang menjadi pemilih, membatasi-diri pada jaringan atau lingkaran pertemanan yang lebih terbatas.

Manusia lain, menjadi fungsional. “Andrea berteman dengan Tomy karena Andrea ingin belajar menulis,” atau “Martha baik sebagaimana dia di Facebook, layak disarankan sebagai teman.” Di kehidupan nyata, orang-orang mudah terpisah. Di puncak teknologi internet yang konon membuat kita berdekatan, orang tak semakin memiliki banyak waktu mencerap pengalaman hidup.

Dalam sebuah stiker, tertulis sebuah kalimat yang menggambarkan keadaan ini, “Di masyarakat yang sudah menghapus semua petualangan, satu-satunya petualangan yang harus kamu lakukan adalah menghapus masyarakat itu.”

Berita apa yang sedang kamu bagikan sekarang? [dm]

What do you think?