(Credit: ScreamingFrog)
in

Memakai Screaming Frog untuk Mengalahkan Web Kompetitor

Kemarin dapat pekerjaan menganalisis suatu website. Problem yang terjadi begini: menurut pemilik web dan redaksi, “Content kami bagus..”. Andalan mereka adalah data mereka bagus dan kecepatan tayang.

“Belum tentu yang begini bagus,” kata saya. Tentu saja, mereka marah, sebelum mendengarkan penjelasan saya.

Argumentasi saya, sederhana. Pertama, setiap website memiliki 2 macam pembaca: manusia dan mesin pencari. Bagus menurut manusia, belum tentu menurut mesin pencari.

“Bagus..” kata mereka, harus jelas ukurannya apa. Benarkah pembaca mereka bilang bagus, ataukah hanya opini redaksi saja?

Dalam marketing “data-driven” (pemasaran berbasis-data), terdapat prinsip begini:

Opini melawan opini, yang menang opini yang dibayar paling tinggi. Data melawan opini, menang data. Sedangkan data melawan data, yang menang data terbaik.

Mereka belum melakukan riset profile pembaca dan masalah yang dialami pembaca mereka. Saya pernah ulas hal ini dalam workshop manajemen media online (sebagian rekaman proses, saya tuliskan di situ, termasuk cara memetakan pembaca).

Siapa bilang bikin media online itu mudah? Bukan urusan content dan membayar karyawan. Urusannya, sejak semula ada di sini:

Mengapa kamu membuat media online? Nilai apa yang kamu tawarkan kepada pembaca? Apa bedanya dengan media lain? Bagaimana kamu mengkonversi pembaca menjadi pembeli?

Kalau hanya rutin update, cepat-tayang, dan “sebagaimana yang lain”, tanpa strategi dan taktik bagus, maka hasilnya juga biasa. Ranking bisa drop. Pengunjung tidak datang kembali.

Persaingan semakin ketat. Apalagi, 21 April 2020, indexing Google bermasalah. Google core update, Mei 2020 mengalami pembaruan. Jika tidak mengikuti, sama saja dengan lomba tetapi tidak ikut technical meeting. Kalah sebelum lomba.

Kedua, search engine optimization (SEO) memiliki 3 aspek terkait: on-page, content, dan off-page.

On-page itu bagaimana code, struktur, dan penyajian postingan selalu ramah-mesin-pencari. Yang ini, solusi yang paling mudah adalah menggunakan theme dan struktur postingan yang tepat. Menata keyword, tags, dan pernak-pernik pengaturan. Butuh pembiasaan. Biasanya, saya taktik begini: ajak editor berbicara, beritahukan pentingnya SEO, kemudian berikan tutorial lengkap tentang “bentuk” dan “prosedur” posting agar memenuhi on-page SEO. Nantinya, akan berkembang ke semua awak media. Reporter, fotografer, desain grafis, dan media sosial manager. Saya memakai standar operating procedure yang lengkap dan bisa dipakai di media online.

Kalau masalah content, ini sudah sering dikuasai redaksi. Mulai dari content strategy, post planner (besok mengangkat isu apa, berita mana yang perlu di-running), sudut-pandang berita, dll. Ini kerjaan jurnalistik sekaligus SEO. Marketing di media online sebenarnya juga punya tugas memberikan data (sekali lagi, data) tentang apa yang sedang tren, apa yang bisa ngehit untuk besok, dst.

Masalah off-page, berkaitan dengan seberapa luas suatu postingan bisa diterima pembaca. Share, menjadi perbincangan, back link kuat dan berkualitas, brand awareness, serta mendatangkan pembaca.

SEO bukan pekerjaan 1 orang, bukan hanya melakukan 1 hal. Ukuran selalu diperbarui. Dan sekali lagi, SEO semakin sulit dan mahal. Memperkerjakan orang yang ahli, lebih baik daripada membuang uang untuk orang yang bukan-ahli.

Saya mendapatkan pekerjaan menganalisis, mengapa postingan yang bagus tidak berhasil ngehit dan bagaimana mengalahkan kompetitor. Pijakan saya hanya satu: data. SEO itu ilmu pengetahuan, punya ukuran jelas. Bukan asumsi, bukan opini.

Dalam menganalisis website, faktor on-page dan off-page sangat penting. Inilah yang membuat search engine membaca postingan kamu.

Saya memakai tool seperti Ahrefs, MoZ, SemRush, dan Screaming Frog. Serta beberapa script Python. Semuanya tool berbayar. Ahrefs bisa menaikkan traffic dari pengunjung Pinterest, Twitter, dan Quora, serta melihat pertanyaan yang paling sering diajukan pemakai Google, untuk keyword tertentu.

Setelah pakai Screaming Frog full version (seperti dalam screenshot di atas), berikutnya adalah memakainya untuk bekerja. Ada banyak tutorial memakai Screaming Frog. Saya suka Screaming Frog terutama dalam x-path, regex, dan crawling. Lebih dari 55 pekerjaan SEO bisa diselesaikan dengan Screaming Frog. Targetnya, ketemu kelemahan web milik client dan bagaimana mengalahkan pesaingnya.

Saya sedang mengubah circadian rhythm terutama di bulan ini. Sebisa mungkin, sebelum pagi, pekerjaan hari ini sudah selesai. Saatnya bekerja. [dm]

What do you think?

943 points
Upvote Downvote