in

Memilih Mi Instan

Ketika sedang berbelanja untuk membeli mi instan, saya memikirkan ini.

Terlalu banyak saus tomat, terlalu banyak mie instan. Begitulah, ketika kamu merasa punya banyak ide, namun tidak bisa menerapkan. Terlalu rata. Hanya percikan. Sampai akhirnya terlupakan, tenggelam aebatas perbincangan dan angan-angan.

Ini seperti berbelanja di mall. Melihat deretan mi instan di rak yang sama, peralatan mandi memenuhi rak yang sama. Sampai kita “memilih” mana yang mau kita bawa pulang.

“Berpikir” untuk membentuk ide yang masih mentah, seperti berbelanja mi instan. Tindakan memilih. Membuat keputusan. Dan “bertaruh” bahwa ini enak, harus saya beli. “Berpikir” seperti seni menyajikan makanan itu. Pada awalnya, semua terlihat datar, rasa, di bawah “bahan” ynag hampir sama. Tinggal bagaimana kita menyelesaikan masalah dengan mengolah ide itu.

Masalahnya bukan pada “waktu”, kesempatan, atau modal. Masalah pekerjaan kita, terjadi sejak awal, ada pada “seni berpikir” dan “menciptakqn nilai”.

Berita baiknya, seperti memasak, menyelesaikan pekerjaan [pasti] ada ilmunya, seninya.

“Get things done” (menyelesaikan sesuatu) ada seninya. Tentang sifat ide, mengerjakan ide, dan menjualnya dengan harga mahal, ada ilmunya. Bagaimana mengenal masalah, mengatasi hambatan, dan melakukan sesuatu, semua itu ada seninya.

Kalau belum kamu pelajari itu, cara kamu memperlakukan ide akan berhenti pada penundaan. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Tempat yang Menakutkan

Skema Kejahatan di Serial “Blacklist”