in

Menghadapi Masalah Baru

Cara saya dan jaminan yang saya pakai, agar bisa mengatasi “masalah baru”.

Orang Jepang menganggap, “masalah” bernilai mahal. Jika masalah kecil tidak kamu atasi, maka kamu bisa berhadapan dengan masalah besar. Bagi “masalah”, “size does not matter”. Ukuran bukan masalah. Orang Jepang menguji mesin dan memikirkan antisipasi. Siapapun yang pakai mesin ini, seharusnya tidak menemukan masalah.

Orang Amerika menganggap, “masalah” bernilai mahal, karena mereka mengikuti alur waktu yang mendewakan pekerjaan. Jadwal, timeline, bagi mereka suci dan menjadi penanda eksistensi mereka sebagai manusia. Kode budaya Amerika tidak menyukai nasehat dan peraturan, namun menganggap pekerjaan sebagai jalan kebahagiaan.

Saya punya antisipasi untuk hadapi masalah baru. Bentuknya: belajar. Terutama ketika tidak sedang di tengah masalah dan tidak sedang dikejar deadline.

Saya belajar menghadapi masalah yang “pasti” terjadi (seperti: konsumen bertanya, bagaimana cara memasang gambar iklan).

Saya belajar menghadapi masalah yang “mungkin” terjadi (seperti: mereka mengajak saya bertemu untuk memberikan tutorial dan detail yang kata mereka tidak bisa dikomunikasikan melalui WhatsApp atau email).

Saya punya jawaban untuk 2 jenis masalah (yang “pasti” dan yang “mungkin”). Semuanya saya antisipasi.

Yang terberat, ketika menghadapi masalah yang “belum pernah” saya hadapi. Misalnya, pada minggu kemarin, ada Error 401. Belum pernah saya hadapi. Secara teori, saya tahu ini jemis error apa dan  bagaimana mengatasinya.

Hampir dalam setiap kasus desain web, saya sering mengalami masalah baru dalam menghadapi: manusia, code, dan desain. Saya sangat suka menghadapi masalah dalam pekerjaan. Semacam “studi kasus” dan pembelajaran yang membuat hasil pekerjaan saya berbeda. Keahlian saya terbentuk dari cara saya mengatasi masalah.

Jaminan saya bisa mengatasi itu adalah..

  • Kembali kepada “prinsip pertama”.
  • Logika.
  • Bagaimana mekanisme ini biasa bekerja?
  • Bagaimana bisa terjadi mekanisme seperti ini?
  • Sebelumnya bagaimana? dst.

“Kembali ke prinsip pertama” menjadi model mental versi saya.

Tidak ada masalah yang tidak baru, namun kita tidak pernah suka jika masalah ini mengganggu pekerjaan dan deadline kita. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.