in

Mengingat tanpa Algoritma

Memperkuat ingatan dengan mempelajari algoritma.

Setelah berhadapan dengan fakta, termasuk setelah membaca buku, sering kesulitan memprosesnya menjadi tulisan baru. Saya pernah. Saya bisa mengatasinya.

Problemnya, jika dalam bentuk pertanyaan, seperti ini:

  • Mengapa saya tidak ingat buku-buku yang telah saya baca?
  • Bagaimana caranya mendapatkan “pertanyaan baru” untuk menuliskan artikel?
  • .. bahkan saya keliru mencatat, sehingga apa yang saya baca-ulang isinya kesalahan.
  • Saya selalu kacau kalau membaca berita-berita sekarang, nggak jelas antara fake-news, hoax, ataukah fakta.

Kemudian dia kebingungan dengan apa yang terjadi padanya, dan sekitarnya.

Saya tidak kebingungan sama sekali.

Bukan rahasia, kalau banyak mahasiswa yang tidak menguasai ilmu logika. Terjadi logical fallacy (kesalahan berlogika) yang menyeret pembicaraan kecil, antara dua orang, atau di dalam forum, menjadi perdebatan panjang.

Berpikir logis, bukan sekadar bagaimana menalar dengan baik, tetapi juga tentang pengambilan keputusan (decision making), efisiensi waktu, dan memahami realitas.

Contoh logical fallacy yang sering terjadi, berbentuk “ad hominem“.

Detailnya ada pada tabel “logical fallacy.

Misalnya:

5,4,6,7,3,8,9,2,.. berapa berikutnya?

Logika dan 99% orang menjawab: 10. Jawaban ini “benar”.

Saya perjelas:

(5) 4 (6) (7) 3 (8) (9) 2 (10)(11) 1

Sekarang, pertanyaan lain. Ada 2 baris. Apa yang terjadi jika ini:

2,5,8,0

3,6,9,..

Apa setelah 9? Banyak orang gagal di pertanyaan ini. Seperti pola yang gagal. 99% orang menjawabnya dengan angka. Apa jawabanmu?

Tidak bisa menebak?

Ada yang mengisi angka 1. Alasanya, 2 ke 3 (baris atas ke baris bawah) selisih 1.

Ada juga yang mengisi # (alasan: itu deret angka vertikal di nomor telepon).

Algoritma bisa mengenalinya. Algoritma bisa mengerjakan sampai tingkat tersulit. Kadang dengan 2 jawaban berbeda, seperti di atas.

Kamu percaya atau tidak, rumus tetap berjalan. Masing-masing jenis persoalan, berbeda.

Persoalan yang bisa diulang adalah gagasan yang berulang. Kalau kamu punya satu metode ampuh untuk menyelesaikan satu jenis persoalan, berarti kamu bisa menyelesaikan 1000 persoalan, asalkan jenisnya sama.

Mari melihat, betapa banyaknya #kesamaan foto makanan di Instagram.

Misalnya: foto segelas kopi di pagi hari dan snack di sampingnya. Ada jutaan? Lebih?

Orang mencari “kopi semarang”. Mencari satu jarum di tumpukan jerami, atau satu batu di dasar lautan, di antara jutaan (atau lebih) persamaan. Apa yang digunakan?

Algoritma.

Tanpa algoritma, ribuan buku koleksi sebuah perpustakaan, tidak akan bisa diakses dengan cepat. Tiket tidak bisa diidentifikasi kepalsuannya. Senyum koruptor dan senyum gadis manis, tidak bisa dibedakan.

Kelenturan algoritma, kecerdasannya, bisa diperbaiki. Menjadi semakin baik.

Logika berhenti, mendapat kecaman dari Nietzsche, karena dia tidak mengenal kelenturan algoritma. Tidak mengenal database, food tourism, dan Google search.

Tanpa algoritma, pikiran manusia tidak pintar membuat klasifikasi.

algoritma selalu bertanya: bagaimana input (data) ini harus diperlakukan? bagaimana cara dia menjawab permintaan?

Itu sebabnya, algoritma mirip opini. Kadang kejam, kadang salah dalam mengambil keputusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, jika saya sudah membaca, data ini mau saya apakan? Hanya tersimpan di pikiran (kelak lupa) ataukah diklasifikasikan agar bisa digunakan siapapun? Kalau ada orang bertanya tentang apa yang sudah saya baca, bagaimana saya menjawabnya?

Cobalah belajar algoritma, bukan hanya logika. Cara kamu mengingat akan berbeda. Lebih cepat, lebih bermanfaat. [dm]

What do you think?