Aman atau Merasa Aman?

Aman perlu prosedur pengujian yang jelas. Merasa aman hanya perlu mengabaikan kenyataan.

Aman atau Merasa Aman?

Para pemimpin kharismatik, masih sering bercerita kalau COVID-19 ini konspirasi, mereka “menyerang” pemerintah, dan mengabaikan protokol kesehatan. Mereka tidak tahu apa itu “cross infection” dan “OTG”, namun membantah dengan anggapan “hidup mati itu takdir”.

“Merasa aman” dan “aman” itu 2 hal berbeda.

Untuk “aman”, orang harus bebas dari ancaman mental dan fisik. Untuk “merasa aman”, orang harus bebas dari -persepsi- tentang potensi bahaya. “Merasa aman” lebih banyak berarti “mengabaikan” hal-hal konseptual dan mengabaikan praktik keamanan. Akurasi persepsi “merasa aman” ini bersifat insidental dan hanya berkaitan dengan perasaan.

“Merasa tidak ada penyakit” tidak berarti penyakit itu tidak ada. “Merasa Android saya aman” belum tentu sama dengan “Android saya aman”.

Keamanan harus diuji dengan metode uji-keamanan untuk memastikan kalau memang benar-benar aman.

Bergantung kepada kelompok dominan, yang memberikan dukungan dan buaian “kita baik-baik saja”, sering mengabaikan informasi yang logis tentang keamanan dan kesehatan.

Tidak usah percaya pada orang yang tidak mengerti kesehatan kalau sedang berbicara tentang kesehatan. Kesehatan, keamanan, sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Keduanya membuat orang bertahan, bekerja, dan menikmati hidup, agar terbebas dari rasa takut.

Manakah yang kamu pilih: memastikan bahwa kamu aman ataukah hanya merasa aman tanpa memastikan sendiri? [dm]