Ilmu Motivasi dari Daniel H. Pink

Hapus asumsi klasik tentang motivasi. Daniel H. Pink punya cara melihat dan membangun motivasi di sini.

Lupakan asumsi klasik tentang motivasi. Banyak orang menipu dengan motivasi, menyampaikan dengan kata-kata, betapa ia memiliki dorongan dari dalam (niatan) dan berjanji “akan” melakukan hal ini dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya orang lain yang tertipu, misalnya dalam wawancara atau ungkapan perasaan kepada orang lain. Ia sendiri tertipu oleh “motivasi”.

Motivasi tidak sama dengan niatan. Motivasi identik dengan “dorongan”, namun di dalamnya terdapat: kewenangan, penguasaan (mastery), dan tujuan-utama. Motivasi merupakan sistem yang bisa kita uraikan.

Dengan mempelajari ilmu motivasi, kita bisa melihat, membentuk, dan memperkuat motivasi.

Buku Daniel H. Pink ini mengulas dorongan tindakan manusia.

Mau dapat ilmu motivasi? Baca buku ini. Sangat disarankan kalau ingin menguraikan konsep “motivasi”. Apa yang mendorong tindakan manusia? Apa saja yang membangun motivasi? Bagaimana cara melihat motivasi? Bagaimana cara mengukur kekuatan motivasi?

Buku Drive bisa kamu dapatkan di sini:
https://www.danpink.com/books/drive/
Catatan: Saya tidak ada afiliasi dengan Daniel H. Pink

Daniel Pink Bicara tentang Motivasi

Mari kita mulai dengan mengikuti penjelasan langsung Daniel H. Pink tentang motivasi di TED.

Source: Dan Pink bicara tentang ilmu motivasi

Daniel H. Pink dalam Drive, membahas apa yang mendorong tindakan kita. “Drive” berarti dorongan. Berbeda dari asumsi klasik tentang motivasi, yang identik dengan niatan, ternyata konsepsi “dorongan” lebih rumit. Justru dengan mengurai “drive”, kita jadi lebih mudah mengukur motivasi.

Motivasi, menurut Daniel Pink, merupakan gabungan dari “otonomi, penguasaan, dan tujuan-utama.”. Autonomy, mastery, dan purpose.

Motivasi, secara visual bisa digambarkan seperti ini:

Intisari buku Drive Daniel Pink. Dorongan (drive) merupakan pertemuan antara otonomi, penguasaan (mastery), dan tujuan. Hasrat, dedikasi, dan disiplin adalah irisan dari 3 aspek itu. (Credit: Gamify)

Otonomi (Autonomy)

Otonomi terjadi ketika seseorang diberi wewenang. Tanpa intervensi. Merasa mendapatkan misi yang harus ia selesaikan. Dan bisa ia kendalikan sepanjang waktu.

Pelatihan, disiplin, ajakan melihat “kenyataan”, bisa menjadi sesuatu yang palsu namun bermanfaat untuk jangka panjang. Tergantung cara kita memperlakukan itu.

Saya sering melihat sebuah ruangan kelas di mana orang berbicara tentang kenyataan, namun berbeda dari kenyataan. Realitas yang disimulasikan. Hasilnya, orang terkejut ketika keluar dari kelas. Atau ajakan berbisnis dengan skema penipuan, yang intinya penanaman modal dan motivasi yang kuat. Ajakan ” berani”, “kaya”, ” menang”, dan “bisa”, namun tetap di bawah intervensi dan kendali dari luar. Motivasi tidak seperti itu.

Bekerja dengan motivasi adalah lawan dari bekerja atas paksaan dan kendali dari luar. Motivasi datang dari otonomi, wewenang yang dilimpahkan, tanpa intervensi.

Intervensi membuat orang kehilangan kedaulatan. Wilayah yang terkikis. Pembicaraan tentang wewenang dan siapa yang berkuasa terus-menerus. Intervensi adalah sumber kegagalan sebelum bertanding.

Seorang leader berkata, “Keberhasilan ini bergantung kepada kemampuan kalian menjalin kekuatan. Jangan terlalu bergantung pada teks dan teori. Saya percaya padamu. Kalau membutuhkan bantuan, kabari saya.”. Seorang leader tidak berkata, “Harus begini, karena saya yang berkuasa.”.

Penguasaan (Mastery)

Kedua, mastery alias “penguasaan”. Ini bisa diukur dengan:

  • Seberapa pintar, seberapa ahli. Punya kompetensi yang tepat atau tidak. Dia “bisa” melakukan ini. Memiliki kharisma.
  • Pengalaman yang tepat. Dia pernah. Sekalipun dia pernah gagal, itu malah bagus. Dia pernah menabrak orang, sekarang dia akan lebih berhati-hati. Dia pernah kalah melawan musuhnya, sekarang waktunya membalas dan membuktikan kalau dia bisa.
  • Tugas ini tepat untuknya.
  • Dukungan yang tepat. Dia kamu support.
  • Cukup waktu. Untuk menyiasati waktu, jadwalkan dan buatlah time-track agar progress bisa ia ukur sendiri.

Kalau diringkas menjadi percakapan, seperti ini:

“Saya sudah lama memikirkan dan menimbang, kamulah orang yang memiliki kemampuan dan pengalaman untuk melakukan tugas ini. Apa yang kamu butuhkan? Jika sekarang kamu lakukan, apa saja yang akan kamu kerjakan? Agar nanti bisa saya sesuaikan dengan jadwal lain, dan bisa sinkron dengan tujuan utama kita.”

Tujuan-Utama (Purpose)

Ada “tujuan utama”. Tujuan harus ada. Main-main bisa menjadi tujuan. Belajar, tanpa terbebani hasil, sering lebih berhasil dan menemukan sesuatu, asalkan tidak sedang dikejar deadline.
Tujuan bisa untuk diri-sendiri. Ia ingin mendapatkan jaminan kesejahteraan. Untuk organisasi, partai, tim, atau membuktikan sesuatu. Tidak masalah.

Orang tidak melihat tujuan, tetapi hasil. Motivasi urusan kamu dengan dirimu sendiri. Sistem untuk mencapai tujuan, lebih penting daripada memperkuat motivasi. Seorang profesional tidak pernah bangga dengan hasil yang ia capai, karena ia sudah memprediksi dan menimbang kemungkinan baik-buruk.

“Apapun motivasi kamu, saya tidak ada masalah. Di sini semua orang bersatu dan memiliki satu harapan: akan ada perubahan di masa depan. Dengan sekali melangkah, tujuan akan sejalan dengan organisasi, partai, tim, dan diri-kamu sendiri. Kebanggan saya adalah kalau kamu bangga menyelesaikan tujuanmu.”

Sekali lagi, motivasi bukanlah “niat yang kuat”. Apa yang kita sebut “dorongan”, merupakan irisan dari otonomi, penguasaan, dan tujuan-utama.

Bentuk Motivasi

Motivasi, memiliki bentuk.  Tanpa bentuk, motivasi tidak bisa terlihat.

Bentuk motivasi, berupa:

  • Tantangan. “Saya belum pernah lakukan ini. Bertemu lawan yang sukar. Semua orang berpikir saya akan kalah. Motivasi saya bukan kalah-menang tetapi mencapai tantangan baru.”.
  • Pengembangan. “Saya sudah pernah. Saya akan lebih menjadi ahli kalau bisa menemukan cara baru yang lebih cepat.”.
  • Keluar dari masalah. “Ini masalah yang membuat saya tidak bisa tidur. Saya harus tuntaskan, agar tidak pernah bertemu masalah seperti ini lagi.”.
  • Kesenangan.
  • Melengkapi kebutuhan diri, fisik maupun mental.

Setiap akan melakukan sesuatu, pertimbangkan seperti apa bentuknya. Jika tidak masuk dalam 5 bentuk di atas, kita kesulitan melihat “motivasi” di balik tindakan itu.

Kalau menjadi percakapan, akan semacam ini:

“Ini adalah tantangan bagi kita. Untuk lebih berkembang dan mengakar sampai ke bawah. Kalau kita berhasil, masalah kita akan teratasi. Kita masih memiliki langkah jangka panjang. Kita akan lebih dekat daripada kita sekarang. Saya akan lebih memerlukan kamu daripada yang sekarang dan itu harus diawali dengan satu keberhasilan yang sekarang. Kita bisa menang.”

yang Membuat Orang Termotivasi..

Apa yang membuat orang termotivasi? Pertanyaan ini menjadi “motivasi” buku Drive yang ditulis Daniel H. Pink

Tentukan cara yang tepat agar motivasi bisa terbangun.

Motivasi terbangun dengan hal-hal berikut:

  • Hubungan baik. Mencintai anak, itu hubungan baik. Partnership yang terawat, itu hubungan baik.
  • Dialog. Bicara baik-baik, dengan empati, mau saling-mendengar. Motivasi sering terlihat ketika dialog terjadi. Pertikaian sering terjadi karena orang tidak melihat motivasi orang lain. Dengan catatan, sekali lagi, bukan “melihat niat-baik”, tetapi melihat “bentuk” motivasi.
  • Budaya. Aspek budaya sangat luas. Bagaimana orang beragama, bahasa, peradatan, literasi, itu bagian dari budaya. Budaya selalu terbentuk-ulang, beradaptasi, dan tidak terjadi dengan sendirinya. “Berprestasi” bisa menjadi budaya. “Membaca” bisa menjadi budaya. Budaya tidak harus diterapkan untuk orang banyak. Seseorang bisa memiliki budaya sendiri, untuk dirinya sendiri. Terbiasa mengkonsumsi makanan sehat, tidak mau menerima bantuan, berusaha mandiri, itu bisa menjadi budaya “seseorang”.
  • dan Keamanan. Alias tidak ada resiko. Orang menghindari resiko keuangan, resiko keselamatan fisik.

Mengukur Kekuatan Motivasi

Kamu perlu tahu cara mengukur kekuatan motivasi, agar bisa membaca “niat” seseorang. Termasuk mengukur, seberapa kuat dorongan kamu dalam melakukan sesuatu.

Saya selalu memakai ukuran untuk melihat motivasi seseorang. Saya tidak percaya pada kata-kata dan bahasa, apalagi dalam percakapan dan wawancara,

  • Tidak ada kebergantungan terhadap insentif. Ada insentif, itu bagus, namun jangan selalu demi insentif. Coba sesekali tanpa insentif, apakah tetap berjalan dengan baik?
  • Menyukai tantangan. Berikan “kekuasaan” kecil, targetkan waktu, dan lihatlah apakah mereka berhasil?
  • Tidak memvisualkan keberhasilan. Ketika sedang bekerja, rencana membutuhkan gambaran, skema, yang bisa dilihat secara visual. Namun, mimpi seseorang yang memiliki motivasi kuat, tidak membutuhkan visual. Mereka lebih suka memecahkan masalah. Tidak banyak “laporan kegagalan”. Bisakah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri? Orang yang termotivasi, lebih suka “selesaikan ini”, bukan berlarut-larut dalam mimpi membeli mobil.
  • Menyukai masalah selama perjalanan. Selalu ada pelajaran baru, kemungkinan baru. Orang termotivasi, tidak menyukai sesuatu yang hasilnya sudah kelihatan sebelum dikerjakan.

Video Ringkasan Buku Drive, Daniel H. Pink

Video dari RSA ini lebih memperjelas konsepsi “motivasi”.

Source: RSA ANIMATE: Drive: The surprising truth about what motivates us.

Gagasan Pembanding

Gagasan tentang motivasi, menurut Very Well Mind, bisa menjadi pembanding untuk Daniel H. Pink.

Motivasi adalah #proses yang menginisiasi, memandu, dan mempertahankan perilaku yang berorientasi pada tujuan. Motivasi mendorong tindakan, sekecil apapun itu. Motivasi melibatkan kekuatan biologis, emosional, sosial, dan kognitif yang “mengaktifkan” perilaku.

Kenyataannya adalah ada banyak kekuatan berbeda yang memandu dan mengarahkan motivasi kita. Salah arah, motivasi bisa berubah.

Kalau kita memahami motivasi, maka efisiensi kerja bisa meningkat, bisa menjadi panduan mengambil tindakan, melihat orientasi tindakan (ke mana), menolong orang lain agar lebih mengendalikan hidupnya, dan bekerja untuk kemanusiaan — tidak selalu demi insentif.

Menurut Very Well Mind, ada 3 komponen motivasi:

  1. Aktivasi. Ini berupa pengambilan keputusan untuk “menginisiasi” perilaku. Misalnya, mendaftar di organisasi X. Setelahnya, akan berperilaku sebagaimana organisasi X. Ini disebut aktivasi.
  2. Ketekunan. Ini berupa upaya terus-menerus dan menyingkirkan hambatan untuk mencapai tujuan.
  3. Intensitas. Dapat dilihat dari  dapat dilihat dari konsentrasi dan semangat yang digunakan untuk mengejar suatu tujuan.

Yang perlu dicatat, motivasi mengalami fluktuasi, pasang-surut, blur-fokus. Jadi, memerlukan arahan, selalu kembali ke tujuan utama, dan yang terpenting: sistem untuk mencapai tujuan itu.

Catatan ini hanya menandai sebagian dari apa yang bisa saya dapatkan dari buku ini. Sebaiknya, baca sendiri buku Drive. [dm]