picsum for sakjose

Paradoks Toleransi

Begini jadinya, kalau toleransi terjadi tanpa dialog.

Ketika menentukan pilihan, orang lebih terbawa ke budaya, daripada mengikuti metode ilmiah yang sudah terbukti.

Apa kata “realitas”? Bicara tentang “realitas”, tetap saja, kebanyakan orang lebih suka ikatan budaya, tekanan kelompok, dan hasrat berafiliasi. Berdebat tentang fakta, dalam banyak situasi, bukan cara terbaik dalam menyampaikan pandangan.

“Alasan berhendak baik” bisa diringkas menjadi pertanyaan ini, “Jika saya tunjukkan versi ilmiah tentang masalah ini, apakah kamu mau mengubah pandangan lama kamu dan menerima alternatif yang berhasil?”.

Budaya bukanlah sesuatu yang kita paksakan untuk mengungguli analisis rasional. Yang sebaliknya, lebih sering berhasil. Bukan hanya budaya. Agama, tradisi, pandangan lama, sering tidak mau berubah.

Saya sering bertemu orang-orang yang mengaku sangat mencintai agama mereka, sekaligus menghormati pandangan agama lain, yang berbeda dari mereka. Mereka mengaku toleran, tidak memaksakan kebenaran, sekalipun praktik yang terjadi berbeda. Mereka menganggap, “sains” hanyalah opini dan penjelas yang harus sejalan dengan apa kata pedoman agama.

Paradoks ini terjadi: mereka bilang menghormati “kebenaran” versi agama lain, tidak mau bertikai, berada dalam satu forum dan berdialog dengan penganut agama lain, namun di sisi lain mereka tidak mau melakukan dialog dengan biologi, sejarah, geografi, genetika, dll.

Tindakan mereka sudah menyangkal perkataan mereka sendiri.

Akhirnya, “tahu” dan “percaya” bukanlah kata yang bisa duduk bersandingan dengan mudah. [dm]