in

Harga Sebenarnya dari Pengalaman Gratisan

Tidak selamanya pengalaman itu (membuatmu menjadi) otentik.

Yang mengandalkan pengalaman, ternyata banyak yang gulung-tikar. Konflik abadi rasionalisme dan empirisisme, adalah konflik antara mempertanyakan “bagaimana bisa” dan “saya pernah”.

Kalau pernah “mengalami”, orang mudah menerima pengetahuan (atau “kebenaran”). Mereka yang mengaku mengandalkan pengalaman, sering bilang, “Saya orang lapangan.”, atau “Kalau saya melihat sendiri, saya pasti tahu”, atau “Saya dulu pernah begini..”.

Pengalaman (yang seperti “itu”), belum tentu otentik. Anda tentu ingat, bagaimana seseorang (atau institusi) yang telah menua, yang belajar dari “pengalaman-langsung”, ternyata harus gulung-tikar?

Kodak, di masanya, merajai dunia kamera. Dia menjadikan “kimia” sebagai bisnis. Instagram, walaupun bukan satu-satunya penentu kekalahan Kodak, dengan visi dan teknologi baru, meruntuhkan mitos kesaktian Kodak. Dalam tempo singkat.

Pengalaman menyeret orang kepada “saya” (keakuan), harus melibatkan indera, dan sering #pakai kalimat lampau.

Lalu apa yang terjadi jika ada data di lapangan, yang dilakukan orang lain, namun mengejutkan orang-lapangan ini? Bisa jadi dia menolak, “Ah, di tempat saya nggak begitu,” atau “Masak sih? Kok saya belum pernah kayak gitu?”.

Gravitasi Newton, bisa diterima orang (kecuali Kaum Bumi Datar), namun butuh penjelasan panjang tentang apa itu “antimateri”, apa itu serangan DDoS (distributed denial of services) dalam satuan gigabyte per detik. Mereka yang tidak percaya gravitasi, tidak menawarkan apa-apa. Mereka tidak bisa membuat kapal terbang dan satelit, yang dikerjakan dengan prinsip gravitasi.

Saya pernah melihat serangan seperti itu dan bisa menjelaskan seperti apa. Bahkan bagi orang yang tidak mengerti apa itu DDoS. Tentu saja, tidak semua orang “mampu” percaya.

Kalau misalnya tidak ada kegilaan Steve Jobs di iPhone, China tidak akan segencar sekarang dalam evolusi smartphone. China berhasil bikin yang bukan-Apple namun lebih bagus daripada Apple, dari sisi fitur maupun keterjangkauan harga. Steve Jobs menjadi “konfrontator” yang bagus, mengguncang dunia smartphone.

Masa depan yang terlalu ideal, seperti, mengidamkan desa tanpa polusi, yang sebenarnya bisa kita raih, adalah sesuatu yang masuk akal namun tidak bisa melampaui akal sehat orang sekarang.

Perusahaan besar punya strategi untuk mencerdaskan konsumen #untuk memilih produk mereka, apapun alasannya, daripada menciptakan konsumen yang benar-benar cerdas.

Kedua fenomena ini, termasuk dalam hal-hal yang jauh dari jangkauan “pengalaman-langsung”.

Kalkulasi menjadi semakin abstrak. Betapa mengerikan uang 147 trilyun yang sedang diputar, seandainya semua orang tahu ke mana uang itu dibelanjakan. Pada saat seperti ini, orang tidak mau repot dengan pengalaman-langsung (direct experience), mereka memilih membayar ahlinya. Lalu percaya begitu saja.

“Sudahlah, kamu diam saja. Serahkan kepada ahlinya.”. Dengan logika seperti ini, pengidolaan terjadi. Korupsi juga sering terjadi karena “penyerahan” seperti ini.

Apalagi, kalau terasa gratis. Menonton YouTube bisa terasa gratis, kalau anda memakai wifi di kafe atau kampus. Orang tidak banyak mengerti, apa itu biaya overhead product. Biaya yang sudah tertanam dalam harga produk.

Atau dalam bahasa singkat, “beli kopi, gratis wifi”. Yang terbaca hanya “gratis wifi”. Orang tidak melihat biaya yang tertanam ini. Kadang tidak dalam wujud harga dan rate, tetapi berwujud lain.

Anda berlama-lama buka YouTube, ada “biaya” untuk channel dan YouTube. Anda bikin story WhatsApp, ada “biaya” yang terbayarkan kepada telkom dan WhatsApp.

Data yang pernah ada, atau data yang sedang terjadi, kadang dianggap terlalu jauh dari pengalaman-langsung (direct experience), langsung tertolak dengan sendirinya.

Orang mudah menolak data, tentang daya-dukung lingkungan yang menurun, tentang monopoli operator seluler, tetapi request mereka sama, “Saya hanya ingin harga kebutuhan pokok itu tidak selalu naik”, atau, “Saya tidak paham tentang politik, tetapi tolong, bikinlah kami ini makmur sejahtera.”

Harapan yang tidak mungkin terjadi, jika meminta perubahan, namun anda tidak merubah diri ke versi yang lebih baik.

Ingin makmur, Hanya menyandarkan “percaya”, dukungan buta, namun melupakan faktor-faktor kemakmuran, tidak mungkin ada kemakmuran. Begitu pula keadilan, kebersamaan, dll.

Itu kalau perubahannya positif, tetapi, kalau untuk perubahan negatif, kondisinya lebih jelas lagi. Percaya ataupun tidak percaya, jika Anda mengkonsumsi makanan tak-sehat, tetap saja mempertinggi resiko sakit.

Padahal sebelumnya, dia bilang, “Hidup mati aku ikut partaimu!”.

Jika Anda tidak belajar tentang bagaimana sebaiknya bekerja, jangan marah kalau hanya mendapatkan pekerjaan tak-layak. Jika Anda tidak tahu sedang membayar “biaya” apa dan untuk “siapa”, jangan marah kalau perubahan yang terjadi ternyata merugikan Anda. Wifi error. Harga-harga naik. Anda tidak bisa mengatasinya.

Pengalaman, sering terlalu lama dalam memperbaiki. Hidup terlalu singkat, kalau hanya mengandalkan pengalaman.

Mulailah menyadari jalan perubahan, sekalipun itu berarti konfrontasi, antara “bagaimana bisa” (rasionalisme) dan “saya pernah” (empirisisme). [dm]

What do you think?