in

Perlakuan untuk Buku Non-Fiksi

Merampas pengalaman orang lain, tidak bisa dengan hanya membaca. Langkah yang perlu saya lakukan ketika membaca buku non-fiksi.

Membaca buku non-fiksi, tidak semacam konsumsi, melainkan investasi. Beberapa kawan saya, pernah mengalami pemblokiran kreatif, oleh pikirannya sendiri, selama bertahun-tahun, sampai mereka membaca -Being Pro- Steven Pressfield.

Membaca berarti berbicara dengan pengalaman orang lain.

Problem pembaca: tidak bisa mendamaikan semua hal dengan membaca. Kita sering menemukan pemikiran yang bertentangan. Para pemikir berbeda pandangan tentang motivasi, tentang teknik membaca, tentang menulis kreatif, dst

Langkah apa yang perlu kamu lakukan?

Intinya: temukan kalimat yang bisa ubah pandangan dan perilaku kamu.

Buku yang baik, bisa kamu evaluasi, kamu temukan celah di situ. Kalau selesai baca buku, kamu hanya bilang, “Buku ini bagus. Saya setuju. Rekomended.”. Itu ucapan konsumen yang biasanya buang waktu dengan membaca atau termakan marketing penerbit buku. Jangan menyalin taktik orang lain.

Buku -The Illusion of Knowledge- bilang, jika seseorang hanya terpapar informasi dari sudut pandang sama, itu akan memperkuat fenomena stratosfer. Kita sering dengar ceramah dan bualan motivasi, melihat video singkat di Tiktok dan status orang, yang sejalan dengan pikiran mereka sendiri. Itu post-truth yang menerima “kebenaran” bukan lagi berdasarkan fakta dan perbedaan, melainkan memakai pertimbangan emosional dan psikologis.

Membaca itu tindakan menciptakan “perbedaan”.

Fokus kita jangan ke isi buku. Fokus ke perubahan perspektif. Highlight pada content yang mengubah kamu. Underline pada bagian yang kamu tidak setuju.

Tuliskan “catatan” satu kalimat, yang bisa kamu dalami nanti. Kalimat seperti, “Sepertinya ini menarik..”, “Ini tidak bisa diterapkan pada situasi..”, “.. mengapa prnah saya terapkan namun tidak berhasil?”, dst. Inilah “gap” (kesenjangan) yang bisa kamu isi, tempat kamu evaluasi buku.

Liu Zhenyun dalam Satu Kalimat Bernilai Sepuluh Ribu Kalimat mengatakan, “Di dunia ini, tidak ada satu kalimat pun yang dapat mencerahkan kamu.”

Apa yang benar-benar mencerahkan kamu hanya bisa berupa pengalaman. Dan kalimat itu hanya korek api menjalah di magazin bubuk mesiu.”

Tarik garis merah. Perhatikan cara buku ini dibuat, lihat dari daftar isi. Saya suka mencari hal-hal seperti strategi, taktik, dan “kudeta” di dalam buku. Saya mencari, mana peta, mana senjata, dan bagaimana merebut kekuasaan. Dalam bahasa yang lunak, saya mencari mana yang bisa saya jadikan sebagai panduan selama menjalani petualangan dan bagaimana mengubah hidup saya yang lama. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Skema Kejahatan di Serial “Blacklist”

Kisah Burung Berkepala Dua