in

Perjuangan Melawan Janji

Membaca Kekuasaan dan Janji Politik, di balik Lakon Wayang “Gatotkaca Nagih Janji”

Apakah sah seorang ksatria menjadi raja di Kahyangan? Boleh, asal hanya sebentar. Begitu peraturan para dewa.

Politik: Perjuangan Melawan Janji

Arjuna pernah menjadi raja Kahyangan sebentar, sebagai balas jasanya mengalahkan raja raksasa Niwatakawaca. Gatotkaca, perlu waktu lebih lama, untuk menagih janji, yang dulu akan dijadikan raja Kahyangan sebentar saja.

Pada suatu ketika, Kahyangan sedang bergolak. Suasana panas, sepanas menjelang Pemilu. Rupanya ada seorang ksatria sedang bertapa. Naraddha menjelaskan kepada Bathara Guru, Gatotkaca sedang bertapa untuk menagih janji para dewa, yang dulu akan menjadikannya raja di Kahyangan walau sebentar.

Naraddha mengingatkan Bathara Guru, bagaimana dulu para dewa kewalahan menandingi kesaktian raja-raksasa Kala Pracona dan mahapatih Sekipu, yang berhasil meretas gerbang Kahyangan. Naraddha waktu itu menyambar anak Bima yang masih merah, dimasukkan kawah Candra Dimuka, dilempari senjata-senjata sakti para dewa, sampai si bayi menjadi besar dan menjadi jagoan para dewa. Para raksasa berhasil dikalahkan Gatotkaca.

Tak lama kemudian, datanglah Bathari Durga menyampaikan keinginan Dewasrani, anak hasil hubungannya dengan Bathara Guru, “Dewasrani merengek ingin menjadi raja di Kahyangan. Jika keinginan itu tidak terpenuhi, dia memilih mati.” Persoalan menjadi runyam setiap Bathari Durga memaksakan keinginannya.

Tidak disangka, setelah diam beberapa saat, Bathara Guru berkata, “Aku akan mengabulkan permintaan itu, asalkan Dewasrani berhasil membunuh Gatotkaca.”

Cunda Manik dan Pemberontakan Wisanggeni

Alih-alih dibiarkan, Dewasrani justru dibekali senjata sakti tanpa tanding, bernama Cunda Manik.

Dewasrani dan pasukannya menuju Gatotkaca yang sedang bertapa. Barisan penyerang berhadapan dengan Abimanyu, Baladewa, Antasena, dan Antareja, yang menunggu Gatotkaca.

Pasukan Dewasrani dipukul mundur, namun Dewasrani mengeluarkan Cunda Manik dan mengenai dada Gatotkaca yang sedang bertapa.

Wisanggeni naik pitam, dia naik ke Kahyangan, menghadap Bathara Guru, meminta keadilan dengan mengancam, “Kalau sampai Gatotkaca tewas, aku akan hancurkan Kahyangan! Para Dewa, mana janjimu pada Gatotkaca?”. Kemarahan Wisanggeni sudah pasti akan berarti peperangan. Tidak ada dewa yang bisa menang melawan Wisanggeni.

Bathara Guru memberikan penjelasan mengejutkan, “Aku membekali Dewasrani dengan Cunda Manik bukan untuk membunuh Gatotkaca, sebaliknya, Dewasrani hanyalah pengantar. Senjata itu justru akan membawa Gatotkaca ke Kahyangan. Dewasrani akan kalah. Aku akan berbicara kepada Gatotkaca.”

Gatotkaca yang sedang dibicarakan, seketika itu juga, terlontar dari bumi. Tiba tepat di hadapan Bathara Guru dan Wisanggeni. Gatokaca terbangun, menagih janji. Dia ingin menjadi raja Kahyangan walaupun sebentar, melunaskan pernyataan para Dewa sendiri.

Memilih untuk tidak Memilih

Gatotkaca segera diangkat menjadi raja Kahyangan baru untuk sementara. Tidak ada dewa-dewa yang menyaksikan penobatan ini, hanya Wisanggeni saksinya.

Baru saja dia menduduki singgasana, Bathara Guru mengusik ketenangan Gatotkaca, “Hei, Gatotkaca. Apakah kau tenang melihat keadaan bumi? Dewasrani, anakku, bersama ibunya, sedang membuat kekacauan.”.

Dia terusik, turun ke bumi meninggalkan tahta Kahyangan yang baru dinikmatinya sekejap saja. Dia turun ke bumi bersama Wisanggeni, dan menghentikan kekacauan, dibantu Semar. Sampai bumi kembali aman.

Berada dalam posisi Bathara Guru, berarti berada dalam masalah yang sama-sama harus segera diselesaikan: dia harus mengabulkan janji yang ditagih Gatotkaca, sekaligus menuruti keinginan anak kandungnya, Dewasrani, dan mengatasi ketidakpercayaan Naraddha. Kahyangan dan bumi harus tetap sama-sama dijalankan kehidupannya.

Bathara Guru tidak memilih. Dia berani menghadapi resiko dilawan oleh kawan dan lawan dengan menguji anaknya, memberikan senjata Cunda Manik untuk melawan Gatotkaca. Bathara Guru tahu, publik tidak akan diam. Wisanggeni tidak akan diam. Dia sedang “memilih” siapa yang pantas menjadi raja sesaat di Kahyangan, dengan menggulirkan issue bernama Cunda Manik.

Bathara Guru mengetahui resiko, “memanggil” Gatotkaca secara langsung untuk dijadikan raja Kahyangan, dalam peristiwa penobatan tanpa disaksikan para dewa. Dia memilih raja sementara yang kelak dilupakan jabatannya, namun tidak terlupakan jasanya.

Betapa sering kita mendengarkan rumor tentang orang-orang terpilih, mereka yang tidak pernah disebut, namun mendapatkan legitimasi penguasa pada sisi lain. Kamu pasti ingat nama 2 (dua) orang presiden resmi Indonesia yang tidak disebutkan dalam buku pelajaran di sekolah. Gatotkaca sedang mengalami kondisi tersebut, melalui pencapaian yang berat. Penobatan Gatotkaca dilakukan langsung, secara resmi, namun hanya Wisanggeni saksi penobatan itu, bukan para dewa.

Pendidikan Politik Bathara Guru

Bathara Guru sebenarnya sedang mendidik Dewasrani agar tidak mengandalkan senjata, tidak mengandalkan kendaraan politik, tidak mengandalkan dana bantuan, jikalau mau menjadi pemimpin tangguh. Bathara Guru sedang mendidik Wisanggeni, untuk tidak mudah dihasut saat melihat isu-permukaan, agar dia jeli menilik apa yang terjadi di balik berita. Bathara Guru mengingatkan secara langsung, “Tahta adalah penjara. Apa artinya menjadi raja di Kahyangan jika bumi kacau?”

Pesan itu pula yang membuat Gatotkaca akhirnya memilih untuk tidak menjadi raja di Kahyangan. Gatotkaca dan Wisanggeni merasakan beratnya posisi Bathara Guru dalam memutuskan persoalan, memelihara kelangsungan alam, dan mendidik generasi muda, dalam ruang yang disebut konflik politik. Bathara Guru menggunakan senjata Cunda Manik untuk konflik politik, memilih pemimpin yang mumpuni, dan membuktikan kedigdayaan Kahyangan yang terus diperebutkan. Mungkin, kahyangan itu bernama Indonesia, mungkin senjata Cunda Manik itu bernama partai politik atau komando militer.

Kekuasaan: Reward atau Perebutan?

Pewayangan menuturkan, kekuasaan bisa dilimpahkan, bisa menjadi reward (hadiah) atas jasa dalam menjalankan misi tertentu. Tidak jarang pula, dalam meraih kekuasaan, diawali dengan pemberontakan, perebutan kekuasaaan. Ini karena dalam kosmologi Jawa, kekuasaan itu dilimpahkan sebagai amanat dari langit. Siapa yang layak menjadi titisan dan siapa yang layak menjalankan kekuasaan, itulah sejatinya pemimpin.

Hanya sedikit saja, pemimpin seperti Gatotkaca, yang berani menempuh jalan tanpa-kursi-kekuasaan dalam mencapai misinya sebagai seorang ksatria. Hanya sedikit saja, tokoh yang mendidik generasi muda dengan konflik kreatif.

Sudahkah kamu bebas dari janji politik hari ini? [dm]

What do you think?