in

Seni Mengamati

Pada suatu hari saya memperhatikan sekeliling, seperti ini..

Mengamati terjadi ketika pikiran selalu dalam.keadaan “menulis” (writing mode) dan indera bekerja optimal.

Detail dan Fokus

Mencari detail dan clue yang halus, apa yang terlewat dan tak-diperhatikan orang-lain. “memperhatikan” (to notice) adalah lawan dari “gangguan” (distraction). Dengan “memperhatikan”, tidak membuatmu kesepian, di saat sendiri ataupun di tengah keramaian.

Paranoid

Gunakan topi hitam, bersikaplah paranoid. Pikirkan antisipasi, kemungkinan buruk, dan bagaimana mengamankan posisimu.

Jadilah tak-tertembus (impenetrable). Pelajaran dari “Escape Plan”. Kalau kamu mau keluar dari penjara: amati rutinitas, bentuk kelompok terpercaya, dan buat rute pelarian. Jangan mengandalkan kode pelarian dan bantuan dari luar. Balik gagasan itu, kalau mau penjaramu aman.

Jangan Multitasking

“Berciuman itu menghentikan waktu”. : ) )

Kesadaran jamak dan membangun ruang-mental, terjadi ketika kamu fokus, memperhatikan sesuatu. Sebaliknya, multitasking membawamu kepada FoMo (fear of missing out), menghancurkan fokus kamu. Jangan memotret sambil makan.

Untuk apa memperhatikan? Perhatian mendalam, bagus untuk jiwa. Melawan gangguan. Menemukan-kembali kemampuan kreatif dan bertanya. Melakukan interaksi yang hidup. Fokus lebih terjadi jika kamu menyingkirkan gangguan dan tidak multitasking.

Aksi-Reaksi, Bukan Sebab-Akibat

Kalau pikiran kamu selalu kepada “sebab akibat”, susah untuk kreatif. Pikiranmu akan selalu terpolarisasi kepada benar-salah, dulu-sekarang, baik-buruk, tesis-antitesis, logosentrisme, pembusukan ide, tidak mengalami kebaruan. Linier dan common sense.

Ubah pikiranmu menjadi “aksi-reaksi”.

Pikirkan hubungan. Pikirkan faktor-faktor yang membentuk sesuatu seperti yang kamu terima sekarang.

Berpikirlah relative (perhatikan hubungan), jangan kausatif. Pikirkan aksi-reaksi, bukan sebab-akibat..

Mencari Pemicu

Kreativitas sering berasal dari reaksi. Makan, kecanduan, marah, juga reaksi. Persoalannya, bagaimana kamu menyadari adanya pemicu yang membuatmu kreatif.

Kreativitas itu memakai hukum “aksi-reaksi”. Sesuatu, terbentuk-dari ribuan jalinan hal. Berpikir adalah menyusun-ulang (rewire), bukan mengambil ingatan dari dalam rak memory kamu. Artificial intelligence dan machine learning itu nggak seperti Windows Explorer atau MS-Word.

Buatlah Pola, Keluarlah dari Pola

Kumpulkan 9 gambar (atau foto) secara acak. Temukan polanya. Atau gabungkan, menjadi 1 gambar yang lebih besar. Ceritakan gambar-baru itu. Tidak ada yang identik bagi indera kamu.

Berapapun angka yang disebutkan orang-lain, hanya dengan menambahkan angka 1, angkamu lebih tinggi. Bukan soal angka besar yang kamu bayangkan, namun bagaimana kamu bisa menjelaskan dari mana angkamu berasal.

Apa yang akan mengejutkan saya? Bukan tempat baru atau kenalan baru. Yang baru itu soal perspektif. Yang mengejutkan saya adalah ukuran, bentuk, susunan, dan konteks baru. Dan itu terjadi jika saya terlibat dalam pengamatan.

Melelahkan itu kalau kamu melakukan sesuatu yang sudah terbayangkan jelas bagaimana hasilnya nanti. Pengulangan melulu. Banyak orang mati di umur 25 tahun namun menunggu dikuburkan sampai berumur 75 tahun. Kalau hidup kamu nggak ada tantangan baru, di mana asyiknya?

Kalau kamu membaca (bukan menonton) Alice: Through Looking Glass, karya Lewis Carol, di sana menyebutkan kata “portmanteau“. Saya suka bertemu kata baru dan memakainya dalam konteks. Kamu tahu arti kata “portmanteau“? Cobalah memakainya.

Cobalah Angle Kamera Berbeda

Lihatlah dengan pelan sekali. Lihat sekilas, sambil-jalan. Biarkan kamu tergoda. Amati. Baru kemudian, pakai kameramu. Tilt-up, tilt-down, pinning, extreme close-up, dutch angle, dolly, etc.

Tonton film. Pikirkan, mengapa “adegan ini” ditampilkan dengan angle seperti ini?

Kelak, kamu hanya butuh insting untuk menangkap momen, bukan perhitungan dan teknik lagi.

Pikirkan Apa yang Sebenarnya Sedang Bergerak

Ulangi sudut-pandang kamu sampai menemukan hal baru.

Tidak ada yang duduk. Semua hal bergerak. Mereka mengalami rotasi, revolusi, deformasi, menyatu, memecah. Duduklah di tempat yang membosankan.

Tidak ada yang tidak menarik. Yang ada hanyalah pikiran yang tidak tertarik.

Foto bagus, salah satunya biasa terjadi, jika ada “frame di dalam frame”. Orang berdiri mengamati lukisan, di dekat jendela atau pintu, di antara obyek yang berkesan kotak. Di dalam terowongan.

Bingkai (frame) di dalam foto, tidak selalu berbentuk kotak.

Kalau jendela ini suatu bingkai, sebagaimana kamera, di mana aku sebaiknya berdiri? Kanan atau kiri? Atau dari luar jendela saja? Bisakah saya memasukkan 2 hal sekaligus ke bingkai ini?

Focus. Gunakan blur.

Biarkan ada yang terpotong di frame, sementara potongan yang lain ada di imajinasi penonton sendiri.

Sesekali, katakan, “Biarkan yang ini di luar konteks.” *) Bagaimana kalau kita hilangkan obyek-utama? Bagaimana kalau frame ini tanpa pusat-perhatian tunggal? “Hancurkan” frame!

“Mungkin ini biasa saja, namun keren di detail dan ketajaman.” Kalau kamu dengar itu, mungkin itu sindiran kalau fotomu kehilangan moment.

Sebelum memotret, lakukan “location scouting” sebelum posting ke Instagram. Lihat sekeliling. Kalau mau untuk Instagram, lihat foto-foto yang sudah ada di situ. Agar berbeda dari foto lain.

Lihatlah yang Terabaikan

Bisakah kamu ceritakan hal yang nggak penting dari peristiwa itu? Bagaimana kalau kamu sendirian yang tidak belajar seni di acara seni itu?

Amati “behind the scene” (BTS), perilaku penonton, cacat-kecil, dan kegagalan pertunjukan, apa yang dianggap bukan bagian dari pertunjukan.

> : Sepertinya, mereka sedang melakukan serangan acak. Mereka marah di tengah kota.
+ : Menurutku, tidak. Mereka sedang berburu.
(dari film.”Jurrassic Park”, 2019)

*) Temukan hubungan atau pola dari 2 hal (atau lebih) yang sepertinya tak-berhubungan.

Gunakan “bisa jadi”, “bagaimana jika..”, dan “kemungkinan”. : ) ) Frase tersebut lebih membuka-mata untuk melihat hal-hal yang di luar pengamatan.

Besar atau Kecil?

Temukan skema yang lebih besar. Atau jika kecil, cari detailnya.

Pertimbangkan, alat apa yang perlu kamu pakai. Teleskop untuk obyek-jauh, untuk melihat skema yang lebih besar. Mikroskop untuk mengamati detail obyek-dekat, “dunia lain” yang tak-terlihat di balik yang terlihat mata-telanjang.

Ruang sebagai Makhluk Hidup

Saya percaya, ruang dan rumah, memiliki emosi seperti makhluk hidup.

Kalimat apa yang kamu ucapkan di rumah ini? Apa yang pertama kali kamu katakan kepada orang itu?

Anggaplah ruang ini sebagai makhluk hidup. Yang memiliki emosi, kebutuhan makan, merawat diri.

Sayang sekali, kamu harus mengatakan dalam bentuk gambar. Coba jangan gambar, rasakan ia sebagai yang hidup, seperti sesama kamu.

*) Sejak kecil, kata yang sering dikenal anak kecil adalah “lihat..”. Kalau kamu menganggap ruang ini hidup, kamu memakai kata, “rasakan..”.

Berubah

Siapa yang berubah? Bagaimana berubah?

“Berubah” artinya melakukan kemungkinan lain, yang masih diri kamu sendiri.

Berubah berarti menjelajah, upgrade, ke versi yang lebih baik.

Berubah itu memenuhi keinginan, beradaptasi. Makhluk yang paling bisa beradaptasi, yang paling unggul. Survival to be the fittest.

Apakah tempat ini juga “berubah”?

Drawing

Menggambar setiap hari. Visualkan. Berpikirlah dan pahami sesuatu, secara visual. Jika orang berkata bahwa mereka memiliki masalah, mintalah mereka menggambar di atas kertas. “Gambarkan masalah kamu.”.

Tidak seperti menyalin foto. Gambar apa yang kamu pikirkan dari apa yang kamu lihat.

Melatih hubungan triadik mata-pikiran-tangan.

Lihatlah tanganku sedang berpikir dan tanganku melihat-kembali melalui mata dan pikiranmu.

Orang bertanya kepada Piccasso, “Mengapa gambarmu tidak mirip dengan aslinya?”. Piccasso menjawab, “Aku menggambarkan apa yang aku pikirkan, bukan apa yang aku lihat.”

Gambar yang Tak-Terlihat

Bisakah menerjemahkan suara, bau, panas, dan emosi di drawing?

Gambarlah apa yang paling terkesan bagimu, sebagaimana adanya.

Jadilah seperti manusia gua yang berjalan mengenali daratan baru. Kenali lagi bagaimana huruf a berasal dari segitiga dan segitiga berasal dari “api”.

Sekalipun kamu sedang melihat, gambarlah apa yang ada di pikiranmu, bukan apa yang kamu lihat.

Gambarkan gunung yang bernafas, laut yang terjaga, api yang tertidur, air yang menaik dari akar ke dedaunan.

“Aku menggambar bentuk. Aku menggambar fungsi. Aku menggambar impresi. Aku tanpa warna. Aku tanpa pusat-perhatian tunggal. Aku menggambar aku.”.

Rasakan Peralihan

Perhatikan peralihan. Perhatikan “sekaligus”, rasakan yang serentak. Perilaku manusia, terlihat sekaligus tak-terlihat.

Kamu tidak bisa melihat seluruhnya, sekalipun alam menunjukkan dirinya kepadamu. Begitu pula kekuatan alam, bencana, mereka itu peralihan.

Bagaimana ia terbentuk dan beralih?

Penjelasan Fiksi

Fiksi berperan menjelaskan realitas. Dengan cerita, ajaran tersampaikan. Orang bisa merasakan empati, emosi, dan pengaruh, karena cerita.

Mengulang namun dengan kedalaman. Menemukan pergolakan di balik ketenangan. Mindset, feeling, insting, bawah-sadar. Bergerak, beralih, kadang tidak disadari orangnya. Dan ternyata pengetahuan menemukan bentuk prototype gagasan, dalam fiksi dan seni.

Hubungan antara apa yang kamu lihat dan apa yang kamu tahu, tidak pernah menetap.

Semua penjelasan hanyalah persepsi, fiksi, subyektif, relasional, dan sementara.

“Kebenaran” hanyalah pernyataan, subyektif, relative, dan temporal-spasial.

Genealogi

Sejarahwan bertanya, “Apa prakondisi yang membuat sesuatu ini ada kemudian diterima orang?”.

Genealog, bertanya “Bagaimana realitas ini terbentuk?”. Genealog tidak mempertanyakan penyebab, tetapi faktor-faktor pembentuk.

Metafora

Lihatlah dunia dalam terminologi kamu sendiri.

Belajarlah kepada artist (seniman) lain, “Bagaimana caramu melihat dunia? Bagaimana kamu mengalami duniamu?”.

Saya butuh mata untuk detail yang belum ditemukan.

Saya berada di kesempatan terakhir bernama “sekarang”. “The problem is you think you have the time“. Saya butuh mata untuk detail yang belum ditemukan. Saya berada di kesempatan terakhir bernama “sekarang”.

Belajarlah melihat dari anak kecil yang sedang menggambar. Mereka bisa mengecap warna, menggambar suara, mendengarkan angka.

Kamu pikir itu fantasi? Bukan. Anak kecil bilang, “Aku suka merah,” sambil mengunyah strawberry. “Merah” bisa berarti strawberry baginya, dan strawberry bisa berarti “merah” baginya.  Anak kecil menggambar hujan sambil bernyanyi, “Tik.. tik.. tik.. bunyi hujan..”. Anak kecil setelah belajar nada do-re-mi, tahu kalau angka (penanda yang mewakili nada) itu bisa berbunyi.

Nama Tanaman

Ceritakan 10 tanaman di sekitarmu, bukan 50 logo yang kamu kenal.

Mendengar dan Menyimak

Apa yang kamu dengar, selalu “noise“. Kamu menghindari, ia mengikuti. Simak (to listen), latih telingamu. Noise di perempatan kota bisa menjadi orkestra jika kamu melatih telingamu. Telingamu bisa berkemampuan seperti August Rush dalam August Rush (2007).

*) Bagaimana dengan “noise” dari dalam kepalamu?

Ikuti ketenangan “tanpa”-suara. Jangan paksa orang lain membuat ketenangan.

Mengenal “Sonic Profile

Mungkin mereka belum mengenal “sonic profile” mereka sendiri. Mereka belum tahu, mesin di dalam diri mereka yang menghasilkan gangguan kebisingan dari dalam kepala.

Sepi, jika sekelilingmu cenderung tidak bersuara.

Sunyi, jika dari dalam dirimu kamu menangkap kebisingan, suara diri.

Kamu menjadi sebuah kota, 33 orang berbicara, dan pilihan tanpa-henti. Tempat sepi akan menaikkan volume kesunyianmu, tempat ramai bisa membuatmu sepi. : ) )

Pernahkah kamu mengamati suara-suara yang kamu hasilkan? Saat kamu berjalan, bersenandung, tertawa, atau berbicara? Kenali “sonic profile” kamu sendiri.

Lihat lagi, seberapa sering kamu memakai perekam suara di smartphone? Apa saja yang kamu rekam?

Audio Blog

Kalau berada di suatu tempat, rekamlah suaranya.

Dengarkan lagi, ingat-kembali seperti apa kejadiannya. Telingamu “sekarang” belum bisa mendengarkan detail. Ulangi rekaman itu, simak detailnya.

Buatlah liputan berbentuk suara. Sisipkan audio di dalam tulisanmu, bukan video orang lain.

Detail Lagu

Dengarkan musik (lagu, yang pernah kamu dengar) dengan kualitas tinggi.

Dengarkan detail sound terkecil. Ini bisa melatihmu mengenal aransemen, nama studio, artist, cara memainkan alat musik, skala, dll. Hanya dalam beberapa detik. Termasuk merasakan emosi dalam musik itu.

Coba rekam lagu di dalam lagu, dengan intensitas dan kualitas sama. Boleh beda tempo, beda genre. Dengarkan dan temukan sesuatu yang belum pernah kamu dapatkan. Telingamu akan lebih kreatif.

Buatlah liputan suara. Cari suara yang tidak pernah kamu temukan di internet. Kalau perlu, yang belum pernah kamu dengarkan. Rekam. Simpan untuk dirimu sendiri. Buatlah catatan untuk suara itu.

Orang tidak pernah benar-benar “menyimak” (to listen), kebanyakan hanya “mendengarkan” (to hear).

Kebanyakan orang bilang, “Saya sudah pernah mendengarkan ini..”. Saya lebih suka mengakui, “Ternyata, ada yang terlewatkan sebelumnya, dari suara ini.”.

“Kedalaman” tidak menyukai kata “pernah”.

Ruangan ini seperti seekor hewan. Saya harus bisa mengenal emosi ruangan ini dari suaranya. Kamu bisa jinakkan, setelahnya.

Rasa tak-nyaman, perhatian-bebas, terancam, aman, etc., bisa berasal dari suara. Seberapa sering mimpimu, bawah-sadarmu, berhubungan dengan suara?

“Mendengar” adalah penyaksian pertama. Tanpa “mendengar”, tidak ada jagat raya. Tidak ada orang percaya ajaran orang lain. Tidak ada kata.

Kamu bisa belajar banyak kepada ruang dan waktu, kepada manusia lain, dari suaranya.

*) Dunia adalah museum suara. Apakah kamu sempat merekamnya?

Lihat alat ini, orang ini, tempat ini, ruangan ini, kota ini. Dan begini suaranya.

Saya Benci Suara Ini

Kamu pernah marah karena satu kalimat yang kamu benci diarahkan kepadamu? Itu karena kamu mendengar. Kata, umpatan, mantera, doa, dapat bekerja karena suara dan “mendengar”.

Bisakah kamu mendengarkan-kembali seperti caramu mendengar ketika masih di dalam perut ibumu? Tentu kamu bisa tidur dengan nyenyak, seketika.

Saya mencari pintu keluar agar tidak mendengar suara-suara yang tidak saya sukai. Ujaran kebencian, perbincangan yang nggak produktif, dan suara orang bernostalgia yang tidak beranjak dari tempatnya sekarang.

Google Map Saya

Membuat google map, untuk diri sendiri, di mana koordinat yang kamu beri tanda, berisi rekaman suara. Saya pergi, membuat tanda koordinat, dan menuliskan deskripsi tempat itu. Kemudian, saya klasifikasikan berdasarkan interest. Saya tahu tempat yang nyaman untuk menulis, penjual makanan murah, rumah kawan saya, dll.

Ubah Skala Lagu

Mainkan suatu lagu.

Ubah skala, dari lagu mayor ke minor, atau sebaliknya.

Buat suatu peta, sekalipun itu ada di Google Map, dengan skala dan detail yang kamu jelajahi.

Skala itu gagasan fisik sekaligus waktu. Skala berarti pengalaman. “Saya pernah berjalan-kaki dari sini ke sini, sebulan yang lalu.”

Kalau kamu tidak pernah membuka kota X di peta, maka kota X tidak berada di dalam ingatanmu. Mencium bau sekeliling, sambil berjalan-kaki.

Bagaimana kalau kita membuat sensory map? Di sini panas dan cocok untuk berteriak, di sini dingin tempat kita bisa duduk terdiam dan mendengarkan suara alam-malam.

Seorang anak yang cerdas bertanya, “Seperti apa peta kota ini, sebelum negara kita merdeka? Bisakah saya mengubah peta ini?”

“Berpikirlah sebagaimana Tuhan berpikir.”. Bagaimana Tuhan menciptakan dan memelihara semua ini? Dengan begitu kamu mengerti cara-kerja jagat raya, menjadi ilmuwan.

Peta itu temuan manusia untuk saling-terhubung. Perubahan pasar. Kekuasaan. Penjelajahan. dst.

Metode Abramovic

Abramović method, bukan soal seberapa lama betah diam. Ini tentang menghayati apapun yang kamu lakukan. Kamu terpapar, menyatu dengan ruang-waktu, dan itu terjadi ketika kamu menatap orang asing, minum, berjalan pelan di ruangan, di depan air terjun, laut, dll.

Dengan bertatapan lama dan mengamati, kamu bisa bermeditasi dengan mata-terbuka.

Infrathin

Mencari infrathin. Apa yang terlemah, paling lembut, yang tidak menjadi pusat-perhatian? Bahkan drawing saya tidak punya pusat-perhatian. Tidak memiliki “bentuk”. Di tengah kerumunan memperhatikan sesuatu yang besar, carilah yang dianggap paling tidak penting. Kamu akan temukan sesuatu yang berbeda dari pengamatan orang lain.

200+ Indera

Bukan 5 indera. Kamu bisa deteksi panas tanpa menyentuh dengan “thermoception“. Kamu masih punya: nociception, equilibrioception, mechanoreception, dll.

Kamu punya lebih dari 200 indera dan bisa melatih semua itu.

Berjalan, berkendara, lewat tempat yang kamu anggap bagus. Jangan gunakan kamera. Nikmati dan resapi dengan seluruh inderamu. Rekam dan kenanglah dengan pikiranmu. Kalau kamu mau memotret, tahan dirimu. Kembalilah besok.

Fishing, Memotret Tanpa Kamera

Kamu “memancing” (fishing), kata Eric Kim. Kamu mencari “moment menentukan” dan butuh menunggu sejenak, sebelum memotret. “Menahan-diri”, menjadi bagian dari memotret. Kamu perlu memotret tanpa kamera.

Silent Refrain

Metode silent-refrain, untuk membangkitkan inner action. Menyanyi, namun tanpa menyanyikan bagian refrain. Nanti..Coba nyanyikan sekali lagi. Nyanyikan refrain dalam hati. Nah, sekarang, nyanyikan utuh. Refrain kamu akan bagus.

Menyanyi, menulis, berbicara, semua dalam pikiran dulu, sebelum ekspresi terjadi.

Jalankan dalam.pikiran dan hati, baru kemudian jalankan. Seperti itulah inner action (tindakan batin) berasal.

Sinkronisasi antara pikiran dan perbuatan, bisa membuat siapapun akan mendengarnu.

Menghancurkan dan Menciptakan

“Menghancurkan adalah bagian dari menciptakan,” kata Dubois, perupa.

Lakukan itu kalau kamu mau melatih teknik dan stamina kamu dalam seni. Berlama-lama di draft, tanpa tahu teknik, akan membuatmu stress jika draft itu hilang. Jangan takut gagal di awal. Kehabisan kertas, atau merobek yang sudah jadi, agar lebih baik, itu bagian dari menciptakan karya.

Serendipity

Apa yang terjadi jika kamu melakukan perjalanan ini dengan cara sulit?

Kamu perlu “serendipity”. Kalau mau main aman, buatlah kode ekstraksi, minta kawanmu mengawasi dari kejauhan untuk menyelamatkanmu jika tidak kuat.

Ubah rute kamu. Dapatkan pengalaman baru. Buat pergerakanmu acak.

Apakah ada hal yang baru di sekitarmu?

*) Masalah: kamu sendiri tidak menciptakan hal-hal baru di dalam dirimu, makanya cepat bosan. Kamu terlalu merencanakan semuanya. Bahkan dengan detail..Akhirnya, perjalananmu hanya menjalankan rencana..Tanpa siap menerima kejutan.

Rasa bosan tidak dapat membaca tulisan tanganmu.

Perilaku apa yang sedang terjadi? Apa pemicunya? Aksi-reaksi. Kalau kamu tahu, kamu bisa membuat orang menginginkan gagasanmu.

Panduan Versi Saya

Kalau kamu tahu tempat ini, buatkan saya panduan singkat tentang tempat ini.

*) Dan jika datang lagi ke sini, apakah ada catatan yang kamu tambahkan?

Saya membuat anotasi untuk tempat ini. Saya memiliki metafora untuk situasi ini.

Katakan, “Saya harus tahu cara bertahan hidup di tempat ini, sekarang, di situasi seperti sekarang”.

Tidak Menilai

“Bagaimana pendapatmu? Bagaimana penilaianmu?”

Kadang itulah 2 kalimat penyulut keributan.

Mendengarkan tanpa menginterupsi, menilai, dan beropini, itu “gift” yang jarang kamu pakai.

Orang Asing

Bicaralah dengan orang asing. Biarkan ia mengisi kesunyian, jadilah pendengar baginya, maka ia akan terus berbicara.

Buatlah daftar tambahan di sini, sebagai panduan yang kamu buat, agar lebih terbuka ruang kreatif bagi kawan-kawan yang lain.


Akan ada lebih banyak pengamatan menarik, sekali.lagi, jika pikiran selalu dalam.kondisi “menulis” dan indera bekerja optimal.

Setiap hari, saya mengamati sekeliling. Setiap hari ada temuan, pertanyaan baru, dan jawaban, untuk diri sendiri. [dm]

Rembang, 9.9.2019

What do you think?

5567 points
Upvote Downvote