(Credit: HealthCareNews)
in

Storytelling Berbasis Multimedia

Panduan pemakaian multimedia dalam pemberitaan untuk mengubah opini publik dan menantang kekuasaan.

Teks dan foto saja, tidak memadai untuk menyampaikan berita. Pembaca butuh lebih. Masukkan foto, audio, dan video untuk jenis penyampaian berbeda dengan cara begini.
Tingkat kepercayaan (trust) orang, sudah lama menganggap: berita yang hanya-teks (text-only) tidak memadai. Perhatian orang beralih ke multimedia.Bandwith di internet sekarang ini lebih banyak terpakai untuk aliran data multimedia. Bukan lagi teks.
Sekarang zaman streaming video, karaoke dari smartphone, mengirim pesan dalam bentuk “voice note” (pesan suara), video call, dan zaman Instagram dan Facebook Live menyatu dengan lifestyle anak muda sekarang.Beberapa media besar, memiliki kebijakan (policy) redaksi untuk menggarap file multimedia secara terpisah. Mereka punya fotografer (terpisah dari reporter), editor fotografi dan video. Meskipun demikian, kamu harus belajar bagaimana menangani file multimedia dalam berita.Tulisan ini hanya membahas penggunaan multimedia dalam pemberitaan.

Tulisan ini berisi beberapa pertanyaan (dan isian) untuk menyajikan berita atau cara bercerita (storytelling) berbasis multimedia.

Tentang petunjuk teknis terkait peralatan dan penyajian data dalam bentuk multimedia, tidak saya jelaskan dalam tulisan ini. Agar tidak terlalu panjang. Penjelasan tentang bagaimana menjelaskan “bagaimana”, saya sampaikan terpisah di tulisan lain.

Mau menuliskan berita apa?

Anggap saja, berita itu sebuah #cerita (story).

Berita tidak harus sebuah kejadian. Kalau ingin memberitakan ramainya suatu pantai wisata, kurang menarik kalau hanya menjelaskan ramainya saja. Bisa menjadi lebih menarik kalau berita kamu menjelaskan konteksnya. Dengan bantuan multimedia, nilai berita bisa lebih kuat dan akurat.

Singkatnya, kamu mau menceritakan apa?

6 Aspek yang Bisa Menjadi Berita

Ada 6 aspek yang paling sering menjadi berita:

  1. PERSON. Menceritakan seseorang, atau lembaga, atau pelaku.
  2. EVENT. Acara, kejadian, peristiwa, masuk di sini. Yang jelas, aktivitas manusia. Misalnya: acara segera-tayang (coming soon), siaran-langsung (live show), pentas musik atau teater.
  3. SETTING, LOCATION. Travel blog, kawasan wisata, kota, seputar itu.
  4. EXPLANATION. Penjelasan. Bagaimana menjelaskan “bagaimana”?
  5. BACKGROUND. Materi yang sudah diarsipkan, seperti: arsip, dokumentasi.
  6. STATISTIC. Data statistik dan infografik, lebih mudah menjelaskan.

Adakah berita atau cerita yang berada di luar enam pilihan itu?

Tidak harus memilih atau mengutamakan salah satu dari 6 (enam) faktor di atas. Kombinasi di antara nomor-nomor itu, akan lebih menarik. Singkatnya, saat memberitakan sesuatu, sebenarnya kamu mengolah 6 (enam) faktor tersebut.

PERSON. Memberitakan “Person” (Seseorang).

Apakah kemunculan orang ini penting?

Jika penting <– Dapatkan foto terbaru dia.

Newsmaker seperti Jokowi, jelas penting kehadirannya. Apa saja yang dia lakukan bisa menjadi berita. Kalau kehadirannya penting, sertakan foto yang menceritakan dia “sekarang”. Bukan foto dia kemarin.

Jika kemunculannya tidak penting <– Jelaskan latar-belakang orang ini.

Ada kalanya, faktor “who” (siapa) mungkin tidak terlalu kuat, misalnya, kamu ingin memberitakan seseorang yang “mendadak” bisa mendapatkan penghasilan jutaan dari bisnis online. Dia yang nggak terkenal. Mungkin background dia lebih menarik.

Bagaimana latar belakang orang ini?

Latar belakang orang ini penting bagi publik <– Buat kronologi (timeline).

Dia bukan selebritas, bukan newsmaker, namun menurut saya penting diberitakan. Jadi, buatlah background #mengapa orang ini penting untuk diceritakan.

Background tidak diukur dari “motivasi” atau “apa kata narasumber”. Motivasi, seperti pernyataan, “Saya ingin melakukan perubahan untuk kota ini,” tidak menarik kalau hanya kata-kata. Tunjukkan apa yang telah-sedang dia lakukan, dalam bentuk timeline (kronologi).

Jangan terlalu percaya apa kata narasumber. Ingat prinsip George Orwell, “Tunjukkan, jangan katakan” (show, do not tell). Seseorang yang bilang, “Saya adalah korban”, belum tentu korban sungguhan. Bisa jadi dia sedang “playing victim” (berpura-pura, acting #sebagai korban.).

Seseorang yang membudidayakan tanaman mangrove, selama hampir 30 tahun, lalu tempat itu menjadi kunjungan wisata dan ribuan orang selfie di sana, perlu kamu ceritakan “background” dia, dengan menampilkan #kronologi usaha dia membudidayakan mangrove.

Kronologi tidak bisa dibuat hanya dengan sebuah pertanyaan.

Jika kamu bertanya, “Bisa diceritakan, bagaimana bisa sampai pada keberhasilan ini?” berarti itu hanya awal. Kamu harus membongkar detail dan mendapatkan moment terpenting, dalam bentuk kronologi.

Pada prakteknya nanti, kamu bisa membuat kronologi dan ringkasan tindakan yang dia lakukan. Bisa berbentuk tabel, paragraf deskriptif, atau kesaksian orang lain yang tak terbantahkan.

Kamu perlu memasukkan pertanyaan ini kepada orang yang tidak dianggap penting perannya, namun (siapa tahu) dia memiliki peran penting.

Daftar pertanyaan:

  • Bisa diceritakan, bagaimana awalnya?
  • Mulai kapan kamu melakukan ini?
  • Adakah dokumentasi atau pihak yang bisa kami hubungi?
  • Adakah foto tentang aktivitas ini?
  • Atau kawan yang bersama kamu waktu itu?

Gunakan pertanyaan tersebut dalam wawancara yang bisa mengawali penggalian data seputar kronologi.

Bagaimana menariknya ide orang ini?

Dia tidak punya background menarik. <– Kalau begitu, ide dia harus menarik.

Orangnya nggak terkenal, background dia masih kabur. Dia baru “pertamanya..” melakukan. Pastikan, apa yang sedang dia mulai itu bagus.

Pertanyaan yang bisa diajukan sebelum memilih orang ini:

  • Satu kampung atau satu kota?
  • Dia mengungguli siapa saja?
  • Apakah inisiatif yang dia lakukan ini keren kalau dipublikasikan?

Kadang ada seseorang yang dianggap tidak populer di media, namun dia memiliki tindakan yang layak diberitakan.

Singkatnya, kalau tidak berhasil menemukan popularitas, background kronologis, ceritakan “siapa” dia dengan menunjukkan sesuatu yang sedang dia lakukan.

Apakah dia melakukan sesuatu?

Benar. <– Kalau begitu, buat video atau audio tentang apa yang dia lakukan.

Video memiliki kekuatan tertinggi dalam menceritakan sesuatu. Video berisi audio sekaligus grafis. Peringkat berikutnya, audio. Pakai Android dan aplikasi perekam, agar bisa memperoleh audio dan video.

Tidak. Dia tidak melakukan sesuatu. <– Tuliskan teks penjelas.

Kalau hanya mendapatkan teks, jangan berharap berita kamu menjadi perbincangan.

Ringkasan:

[ ] Kemunculan orang ini penting? Penting. <– Dapatkan #foto terbaru dia.

[ ] Kemunculan tidak penting? Pastikan background dia penting <– Buat #timeline.

[ ] Background masih samar. <– Buat #video atau #video apa yang dia lakukan.

[ ] Dia hanya menyatakan sesuatu. <– Validasi, crosscheck, lihat data.

[ ] Apakah ini terbaru? <– Kalau dia newsmaker atau tokoh, cari yang terbaru.

[ ] Baru pertamanya? <– Cari, di tingkat apa. Seberapa penting yang dia lakukan.

[ ] Apakah dia melakuan sesuatu? Benar. <– Buat video atau audio.

[ ] Dia tidak melakukan sesuatu. Jelaskan dengan teks seperlunya.

EVENT. Memberitakan “Event” (Acara, Kejadian)

Event bisa berarti “acara”, bisa berarti “kejadian”. Aktivitas manusia, yang menarik.

Kadang, acara lebih bernilai berita, tanpa mengabaikan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Apakah acara ini bisa dinikmati secara visual?

Kebanyakan, bisa. Karnaval, festival, parade, pameran, dll. Bahkan daya tarik visual itu yang mendasari acaranya.

Ada juga acara yang tidak bisa diliput secara visual. Misalnya, acara ritual tertutup, rapat rahasia para pejabat, sidang pengadilan militer, dll. kamu harus puas hanya mendeskripsikan dari para pelaku dan penyaksi. Kalaupun meliputnya, tanpa boleh memotret, tanpa boleh merekam audio ataupun audio visual, kamu hanya bisa menuliskan dalam bentuk teks.

Kalau hasilnya “visible” (terlihat), perhatikan: gerakan dan proses.

  • Jika ada gerakan dan membutuhkan suara, sajikan dalam video. Itu pilihan terbaik dan paling diminati pembaca.
  • Jika hanya gerakan, tanpa perlu suara, sajikan dalam video bisu (muted video) atau animasi gif.
  • Jika tidak bisa merekam “gerakan”, setidaknya buatlah foto “after/before”.

Pakai prinsip “A/B” (after/before).

Tunjukkan kepada pembaca: ini sebelum dan ini sesudah kejadian. Kalau tidak boleh merekam #kejadian, sajikan #suasana sebelum dan sesudah kejadian.

Kalau “before and after” ini harus berupa “urutan bertahap” (sequence), maka buatlah #slide urutan tahap demi tahap. Minimal, berbentuk gambar. Atau bagan kronologis. Ini misalnya pada bentuk ritual, prosedur, prosesi, dan hal-hal yang mengandung atau tahapan 123.

Kalau tidak berupa “urutan bertahap” (sequence), sajikan saja dalam bentuk galeri atau album yang berisi lebih dari 1 foto. Yang penting tematik, seputar acara atau kejadian itu.

Ringkasan:

[ ] Acara ini bisa dinikmati secara visual? Bisa. Bagus, teruskan meliput.

[ ] Hasilnya “visible” (terlihat)? Perhatikan gerakan.

[ ] Gerakan ini butuh suara. Rekam sebagai video.

[ ] Gerakan saja, bisa tanpa suara. Pakai video bisu atau animated-gif.

[ ] Tidak merekam? Pakai prinsip “A/B” (after/before), tunjukkan dengan foto.

[ ] Harus urut, ada tahapannya? Buat slide, kronologi.

[ ] Tidak harus urut? Kumpulkan foto-foto tematik, jadikan gallery.

[ ] Nggak bisa dapat semua yang di atas? Deskripsikan dengan teks.

SETTING. Menceritakan Lokasi.

Lokasi, bisa berupa: sebuah kota, tempat bersejarah, ruang publik, hutan lindung, dll.

Kalau lokasi ini sudah umum dan diketahui orang, tidak perlu banyak penjelasan.

Problemnya, jika lokasi sudah populer, dan mau dijadikan nilai berita, harus ada pertanyaan:

Apakah ada detail menarik dari lokasi ini?

Lokasi menarik biasanya karena:

  1. VIEW. Pemandangannya bagus.
  2. CULTURE. Ada budaya unik di situ. Mungkin bahasa, kuliner, transaksi jual-beli, dll.
  3. HISTORIS. Dikenal dalam sejarah namun pudar karena.. sesuatu dan hal lain. : )
  4. LOCATION. Lokasinya unik. Nggak ada atau jarang yang posisinya seperti tempat ini. Setidaknya, di kota ini.
  5. NOTHING. Kebalikan dari semua pilihan di atas. Itu juga menarik. Kamu ingin mengungkap, bagaimana desa ini berhasil menjadi contoh terbaik untuk desa dengan pendidikan terburuk, misalnya.

Kalau lokasi ini punya pemandangan (view) menarik, Kamu perlu membuat setidaknya 1 (satu) foto. Kalau itu pemandangan alam atau keramaian, cobalah cari sudut-pandang (angle) menarik. Bikin foto panorama, atau foto 360 kalau perlu.

Kalau di luar itu, buatlah rekaman yang menampilkan ikon khas di tempat itu. Apa yang paling terkenal?

Jika lokasi kurang dikenal, ceritakan bagaimana cara bisa sampai ke sana.

  • Bagaimana rutenya?
  • Berapa lama jarak tempuhnya?
  • Adakah jadwal ataupun tips khusus untuk sampai ke sana dengan cepat dan murah?
  • Pengalaman buruk apa yang kamu alami, agar menjadi pelajaran bagi pembaca?

Kalau perlu, tunjukkan koordinat GPS, atau tampilkan denah yang mudah dimengerti pembaca.

Buatlah klip singkat yang berisi apa kata penduduk, pendapat ahli, dan kamu sebagai pengunjung.

Selama menceritakan lokasi, kamu butuh: peta, infografik, foto bagus, dan teks sebaiknya dikemas dalam bentuk features (berita-cerita).

Ringkasan:

[ ] Mengapa memilih lokasi ini?

[ ] Apakah ada detail menarik dari lokasi ini? Buat infografik yang “paling dibutuhkan”.

[ ] View lokasi ini menarik? Buat foto panorama atau 360 derajat.

[ ] Lokasinya kurang dikenal? Ceritakan rutenya, secara visual.

[ ] Bagaimana menceritakan lokasi ini? Buat klip apa kata penduduk, pendapat ahli, dan Anda sebagai pengunjung.

[ ] Bagaimana pengalaman Anda sebagai pengunjung? Ceritakan “pengalaman buruk” dan cara mengatasinya.

EXPLANATION. Menjelaskan “Bagaimana”.

Vermeer, pelukis Belanda, menyimpan misteri cara dia melukis. Tidak ada yang berhasil memecahkan teka-teki ini. 350 tahun kemudian, Tim (seorang pakar grafis dan film) meneliti dan menemukan cara Vermeer melukis.

Video clip dari film Tim’s Vermeer

BACKGROUND. Berkaitan dengan Materi Arsip.

Perhatikan “background”, yang berkaitan dengan materi arsip.

Cari dan bandingkan arsip lama dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Bisa Google, bisa mencapai dokumentasi di perpustakaan, atau mengakses narasumber yang mengerti tentang “background” yang sedang kamu singkap.

Membandingkan yang lama dengan yang baru, memiliki banyak arti:

Apa bedanya yang sekarang dengan yang kemarin.

Menjawab pertanyaan ini, berarti mendapatkan perbedaan #sense (makna, rasa). Bagi penonton yang sudah hadir beberapa kali, ternyata lebih puas dengan yang sekarang? Atau lebih keren yang kemarin? Nggak mau ketinggalan kalau ada acara seperti ini lagi?

Ingat: bandingkan #arsip kemarin dengan yang #sekarang.

Tambahkan dengan pertanyaan ini:

  • Apakah perlu kronologi?
  • Apakah kronologi ini perlu disajikan dalam bentuk video, figure (tabel, skema), ataukah teks saja?

Tentukan, sesuaikan, lakukan “adaptasi” dengan background terkait materi arsip, dan buatlah perbaikan. Kamu sedang mengajak pembaca untuk “membandingkan” dan menilik kembali materi yang telah terarsipkan.

STATISTICS. Membaca Data, Figure, dan Infografik.

Berita selalu berkaitan dengan pembacaan data, figur, dan statistik. Selalu ada data sebelumnya yang relevan dengan apa yang kamu tuliskan sekarang.

“Figure” adalah data yang disajikan secara tematik dan saling-berkait. Figur bisa berupa tabel, skema, angka-angka statistik yang mengarah ke 100%, dan sajian presentasi singkat kepada pembaca.

Kalimat tentang figur dan statistik, selalu dijumpai dalam berita dan cerita.

“Angka kemiskinan di Kecamatan A, menurut Biro Pusat Statistik, tahun 2017 menurun 2% dibandingkan tahun 2016..”

Apa yang perlu dibaca oleh penulis berita?

Jangan hanya membaca angka, tetapi perjelas dengan “asal-muasal” dan “efek” dari data ini.

Dia perlu menceritakan:

  • “Apa” arti angka ini, misalnya, bagi petani?
  • “Dari mana” angka itu berasal? Bagaimana perhitungannya?
  • “Bagaimana” pengaruh angka itu terhadap..?
  • “Mengapa” angka ini harus diketahui publik?

Statistik hampir pasti berubah. Pendekatannya juga bisa berbeda-beda (misalnya, dalam cara menentukan “jumlah penduduk miskin”). Penulis cerita (berita) harus bisa menjelaskan grafik perubahan itu, dalam bentuk gambar (figure), foto, atau video. Ini dia truk pengangkut hasil panen yang tidak bisa mencapai tambak yang sedang panen. Di balik kalimat itu, ada angka yang bukan sekadar angka.

“Google sumbangkan keuntungan 20 detik tahun ini, untuk mengembangkan pendidikan anak di Afrika”.

Apa artinya kalimat itu?

Beberapa catatan tentang membaca statistik dan infografik :

1. Data ini mengarah kepada 1 orang atau 1 lembaga tertentu.

Bisa jadi. Kamu boleh menuliskan #infografik “Daftar kasus korupsi yang melibatkan Partai X” atau “Prestasi Mr. A dalam mengatasi problem transportasi di kota Z”. Atau, partai mana sekarang ini yang paling korup? Yang penting, tetap faktual dan punya rujukan sendiri.

2. Carilah pola, temukan kesamaan atau perbedaan.

3. Seberapa temporal dan spasial data ini?

Apakah masih relevan? Apakah dari sumber yang punya otoritas dan kompetensi?

Ada kemungkinan, data itu #hanya terjadi di tahun tertentu, masa kepemimpinan tokoh X, atau di wilayah geografis tertentu. Semakin spesifik, semakin unik, semakin dekat dengan kemungkinan kamu menemukan anomali.

4. Pola kadang bersifat “kronologis”, kadang berupa “proses”.

Thomas Kuhn dalam buku “Scientific Revolution..” menceritakan, bagaimana penemuan (discovery) dalam ilmu pengetahuan itu bersifat linier, namun didasari paradigma yang siklikal.

5. Apakah kamu berhasil mendekati temuan angka 100%?

Kupas-tuntas itu butuh mengumpulkan data yang mengarah ke angka 100%.

Seseorang yang selalu diberitakan, lebih mirip berita gosip selebritas di televisi, pemujaan atau kebencial kepada seseorang. Cobalah mengganti “seseorang” itu dengan: lembaga, komunitas, penduduk, dll.

Tema yang non-personal lebih menyentuh emosi pembaca dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup orang banyak.

Saya sering bilang bahwa #media sekarang ini telah direduksi menjadi data. Banyak penulisan yang nggak check-and-balance, 1 kalimat dari narasumber bisa menjadi berita singkat. Poin terpenting dari penjelasan ini, marilah menjadi pencatat data dan pencerita data yang baik bagi pembaca.

Ringkasan:

[ ] Apakah data ini sudah divalidasi? Belum. Tanyakan kepada narasumber ahli.

[ ] Data ini sudah divalidasi. Lihat, aspek spasial-temporal (ruang-waktu) yang disampaikan data ini.

[ ] Sudah divalidasi dan relevan? Buat menjadi “pernyataan resmi”.

[ ] Banyak data serupa? Buat infografik yang mengandung pernyataan atau pertanyaan sama.

[ ] Saya temukan angka. <– “Apa” arti angka ini, misalnya, bagi petani? Deskripsikan secara visual.

[ ] “Dari mana” angka itu berasal? Bagaimana perhitungannya? <– Buat diagram alur, jika diperlukan.

[ ] “Bagaimana” pengaruh angka itu terhadap..? <– Buat klip dari sisi pembuat kebijakan dan korban.

[ ] “Mengapa” angka ini harus diketahui publik? <– Perlihatkan signifikasi: bandingkan data dulu dan data sekarang.

[ ] Ada pola aneh? <– Teruskan: apakah ini mengarah pada seseorang? Lembaga? Faktor genealogis tertentu?

[ ] Ada pernyataan: “Google sumbangkan keuntungan 20 detik untuk..” <– Buat analogi. Berapa 20 detik kalau dolar?

[ ] Pola sudah ditemukan. Ternyata.. <– cari, apakah pola itu kronologis ataukah memang proses tertentu?

[ ] Apakah kamu berhasil mendekati temuan angka 100%? <– Tunjukkan prosentase lain, agar mengarah ke 100%.

[ ] Apa yang paling menarik dari temuan ini? <– Lingkari, garis bawahi, satu temuan besar itu.

Dengan cara di atas, aspek 5W+1H dalam berita bisa lebih “terurai”, untuk dikembangkan dengan penulisan berita atau cerita kamu sendiri.

Semoga kawan-kawan bersedia menambahkan catatan sendiri, agar daftar-periksa (checklist) dalam tulisan ini berkembang menjadi lebih lengkap dan lebih baik.

Memasukkan multimedia ke dalam pemberitaan itu tidak mudah. In-depth juga tidak mudah. Kalau digarap dengan baik, opini publik bisa kamu ubah, dan kekuasaan manapun akan merasa tertantang, menjadi lebih baik.

What do you think?