in

Strategi Berpikir

Intisari teori-teori berpikir, untuk melampaui berpikir kreatif, dan memecahkan masalah.

Musuh terbesar dalam “berpikir” adalah keraguan. Semakin aktif pikiran, justru semakin dekat pada keraguan.

Misalnya, keraguan datang seperti ini: Apakah hasilnya “benar”? Bagaimana kalau ini tidak original? Apakah bisa diterapkan? Untuk apa kita pikirkan ini? Saya sudah pernah memikirkan ini dan gagal. Untuk apa memikirkan jika tidak mungkin menjalankan apa yang kita pikirkan?

Keraguan adalah keadaan bawaan (inherent state) dari proses berpikir. Selalu ada keraguan selama berpikir.

Keraguan dengan sendirinya akan hilang setelah mengalami momen “Eureka”. Keraguan terjadi ketika kamu melakukan segalanya (ketika berpikir) secara serentak. Buatlah tahapan, berperingkat, dan gunakan pendekatan terbaik.

Berpikir di Sekolah (dan Perguruan Tinggi)

Sekolah tradisional lebih banyak mengisi aktivitas berpikir ke arah: analisis, judgement (penilaian), dan argumentasi.

Analisis cenderung kepada sintesis (dari tesis dan antitesis), berarti berpijak pada “pengandaian atas masa lalu yang terbaik”. Hubungan triadik Hegelian, menjadi biang pembusukan gagasan. Seolah-olah ke depan, namun sebenarnya hanya memperbaiki masa lalu.

Judgement (penilaian) mengarah kepada kategori baik-buruk (good and evil), Kantian, dan positivisme.
Argumentasi, sebenarnya lebih banyak ke tidak-berpikir daripada berpikir.

Berpikir untuk menghindari kesalahan berlogika (logical fallacy).

Spoiler: terhindar sepenuhnya dari kesalahan berlogika itu tidak mungkin; logika hanya salah-satu perangkat dalam berpikir.

Mengandalkan persepsi.

Jika persepsi terbatas, maka logika tanpa-cacat akan membawamu pada jawaban salah.

Pemilihan materi dan produk berpikir terbaik, diberikan dalam pengajaran.

Menggunakan produk pemikiran orang lain, bukanlah aktivitas berpikir. Itu hanya tindak konsumsi gagasan orang lain.

Tes berbentuk trivia.

Hanya ada 1 jawaban benar. Menguji siswa secara brute-force (dicobakan satu per satu), secara sama. Akhirnya, pada pelajaran berenang untuk semua hewan di hutan, monyet kalah. Ikan sangat pintar berenang, namun gajah harus ikut ujian berenang.

3 Gangster Berpikir Yunani

Mindset berpikir di sekolah, mayoritas berasal dari Yunani, dari 3 gangster: Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Socrates tidak membuat satupun tulisan. Metodenya adalah dialektika. Orang membaca Socrates, dari tulisan Plato. Sebagaimana orang membayangkan Atlantis, dari tulisan Plato.

“Semua karya filsafat hanyalah catatan kaki untuk buku Plato berjudul Republik.” Pernah membaca kutipan itu?

Plato itu pemikir fasis. Ia mengimajinasikan sebuah negara (state) ideal, yang dipimpin orang pintar (hanya orang pintar yang boleh memimpin). Di atas “rulers” (para penguasa) masih ada “guardians” (para penjaga).

Aristoteles, agak berbeda dari Plato, menetapkan pengalaman (empiri) dan logika formal sebagai perangkat berpikir. Ketiga gangster ini meninggalkan warisan berpikir dan masih menjadi acuan di Barat sampai sekarang.

Apa yang harus saya lakukan ketika berpikir?

Gunakan perangkat berpikir dan metode berpikir.

Sering berlatih dengan model berpikir, agar selalu menggunakan pikiran secara optimal.

PMI : Plus, Minus, and Interest

Problem
“Bagaimana pendapatmu jika kampus memberikan uang saku setiap hari 50 ribu untuk setiap mahasiswa?”

Mari mencoba menggunakan PMI untuk mengurai suatu masalah.

Plus:
+ Mahasiswa bisa jajan setiap hari;
+ Tidak mikir uang transportasi lagi;
+ Bisa ditabung untuk beli buku; dll.
+ …

Minus:
– Konsumerisme meningkat;
– Harga-harga bisa naik;
– Kreativitas terlalu bergantung pada uang; dll.
– …

Interest: ?

Interest itu..

  1. Yang tidak masuk di daftar plus ataupun minus.
  2. Melampaui kategori baik-buruk untuk mengeksplorasi suatu gagasan lebih lanjut.
  3. Melatih pikiran dalam bereaksi terhadap ketertarikan inherent (bawaan) dalam suatu gagasan, bukan kepada judgement.

Interest adalah hal menarik, di luar plus-minus, yang bisa dijadikan diskusi.

Bagian ini yang bisa menjadi ide tulisan menarik.

Contohnya, kita buat hal-hal yang bisa masuk ke dalam daftar “Interest” dari masalah di atas:

Genealogi

Genealogi bertanya, “Bagaimana hal ini terbentuk?”.
Pertanyaan “genealogy”, tentang asal-terbentuknya “sesuatu”. Genealogi berbicara mengenai “proses pembentukan” dan “konteks” yang melatari terjadinya sesuatu.

Kalau diuraikan, ini bisa menjadi pertanyaan turunan berikut:

  • Bagaimana bisa ada pertanyaan seperti ini?
  • Konteks ruang dan waktu seperti apa yang membuat pertanyaan ini ada?
  • Bagaimana ceritanya sampai ada permasalahan ini?

Disiplin Verifikasi

Menguji fakta yang tersampaikan.

Bagaimana bisa setiap mahasiswa dapat uang saku 50 ribu, itu uang dari mana?

Disiplin verifikasi harus dilakukan, jangan berpijak dari fakta yang palsu. Menulis berita yang bagus itu mudah, tetapi membedakan ini faktual atau tidak, bukanlah hal mudah. Sekalipun ajakan berpikir ini bukan berpijak dari fakta, tidaklah masalah jika itu bisa memperbaiki masa depan dan membebaskan diri dari masalah.

Kemungkinan

Apa yang terjadi jika.. atau Bagaimana jika..

Pertanyaan Lanjutan

Buat pertanyaan lanjutan untuk menguji seperti apa sebenarnya masalah ini, sebelum melangkah dan membuat pemecahan masalah. Apakah setiap mahasiswa mendapatkan secara sama rata? Adakah pembatasan lain?

*) Daftar pertanyaan 5W+1H (dan pengembangannya) ini dapat kamu pertajam, pada tulisan saya berjudul “Membuat Angle dalam Berita”.

Interest mempertanyakan “beyond good and evil”, melampaui.baik-buruk. Genealogi. Bukan “binary opposition”, bukan metafisika Barat (logosentrisme).

Dan setelah “Interest” menjadi pertimbangan, cobalah bertanya kembali:
Bagaimana pendapatmu jika kampus memberikan uang saku setiap hari 50 ribu untuk mahasiswa?

Setelah melakukan “probing” (mempertajam) pertanyaan dengan mencari “Interest” di balik masalah ini, tentu ada “revisi” atas pertanyaan yang diajukan. Mungkin pertanyaan menjadi lebih spesifik. Ada data baru yang masuk. dst.

Tujuan PMI bukan untuk membuat judgement, melainkan untuk eksplorasi gagasan.

APC: Alternatives, Possibilites, Choices

Alternatif (cara lain), kemungkinan, dan pilihan.

Alternatif itu “pilihan lain” (dari atau di luar pilihan yang sudah ada). Possibilites itu “kemungkinan”, peluang, prediksi. Choices itu pilihan-tetap. Kalau opsi, kamu boleh tarik-ulur, kadang boleh mencari yang di luar pilihan; sedangkan choice itu sudah tetap, tinggal pilih.

  • Kalau diturunkan menjadi pertanyaan, bisa jadi begini:
  • Apakah bisa kita gunakan pendekatan lain?
  • Bagaimana kemungkinannya?
  • Pilihan apa yang bisa saya ambil?

Pertanyaan ini (dan pengembangannya) kita tanyakan terus-menerus selama melakukan pengujian. Dalam brainstorming atau rapat, kita sering mendengarkan pertanyaan, “Ada usulan?”. Itu pertanyaan yang terlalu terbuka, tetapi orang akan ikut berbicara jika pertanyaannya diubah menjadi, “Ada ide yang belum kita jelajahi? Bagaimana kalau kemungkinannya kita perluas?” dst.

Melakukan APC artinya: secara sengaja berusaha memproses alternatif yang “melingkar”, diuji terus-menerus.

Contoh Kasus:
Ada anak muda sedang menuangkan cairan dari kaleng Coca-cola, ke dalam tanki bahan-bakar di motornya, di suatu pom bensin. Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi?

Pikiran biasanya menginginkan instruksi konkret:

  • Sebenarnya itu apa?
  • Apa yang harus kita lakukan?
  • Kita mau mengambil langkah apa?

Problem :
Gambar apa ini?

,____________________ ! / ! _______/ ! /__________, !____, ,____, ,_______/ ! O ! ! ! ! O ! ! ! ! O ! ! ! ~~, ,~’ ‘~~” ! ! ! ! O

Alternatif selalu terbuka. Alternatif biasanya mengambil yang termudah, sampai ada saran lain.
Alternatif mengarah kepada pola yang sudah dikenal dalam pikiran, namun usahakan melampaui itu.

Pengalaman hidup dan permasalahannya, lebih banyak menyampaikan pola yang belum dikenal.
Seperti gambar di atas. Banyak orang berbalik-tanya, “Gambar apa sebenarnya?”.

Contoh:
Ada gelas kaca, di dalamnya terisi air separuh. Kamu harus kosongkan gelas. Tidak boleh mengangkat gelas, tidak boleh merusak, dan tidak boleh pakai sedotan.

Para pemikir trivia, yang cenderung mencari jawaban yang “benar”, tidak menyukai allternatif, pilihan, dan kemungkinan. Ketika menghadapi pengalaman dan “gambar yang tidak jelas”, jangan mencari “kebenaran”.

Ada #berapa cara yang bisa kamu lakukan?

Alternatif mengenal peringkat kesulitan.

Contoh:
Permainan catur. Dalam suatu kombinasi catur (posisi di tengah permainan), kamu bisa skak-mat dalam 3 langkah, ataukah lebih dari 3 langkah.
Who Wants to be a Millionairre. Ada pilihan. Phone a friend, ask the audience, atau fifty-fifty?

“Efek Desa Venus”

Istilah ini berasal dari cerita fiktif tentang desa Venus, di mana ada “seorang perempuan tercantik di dunia”. Menurut versi penduduk di situ. : )

Banyak dongeng menyebutkan, “Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang gadis tercantik di dunia..”

Dari mana para penduduk bisa menilai “tercantik” tanpa mendata semua perempuan di dunia? “Efek Desa Venus” sering terjadi dalam aktivitas berpikir, akhirnya, menganggap “tidak ada alternatif”.

“Efek Desa Venus”, misalnya:

  • “Harus pakai alat ini..”
  • “Hanya partai X yang bisa melakukan..”
  • “Satu-satunya orang yang terpilih untuk..”.
  • “Hanya di Jawa yang paling.. dalam hal..”

“Efek Desa Venus” terjadi ketika kekurangan data lalu memaksakan pemakaian informasi yang terbatas. Sepintas spesifik, namun sebenarnya generalisasi, menganulir peluang gagasan lain.

“Efek Desa Venus” sering terjadi pada iklan, ceramah di podium, opening buku wisata, kampanye, dan filsafat klasik.

“Efek Desa Venus” sering digunakan dalam trivia, namun para pembuat trivia dan penghafal jawabannya, sering “salah” ketika menyingkirkan konteks.

Saya ambil beberapa contoh berikut:

  1. Di manakah ibukota Indonesia?
  2. Siapa saja nama Presiden Indonesia sejak Kemerdekaan RI?
  3. Apa nama gunung tertinggi di dunia?
  4. Siapakah penemu bola lampu?
  5. Siapakah penemu sistem pembayaran jarak-jauh?

Kalau tanpa konteks waktu, mayoritas orang Indonesia menjawab, ibukota Indonesia adalah Jakarta. Kalau pertanyaannya memakai konteks waktu, menjadi: Di manakah ibukota Indonesia pada tahun 1947? Jawabannya adalah Yogyakarta.

Sejak SD, anak kecil diberitahu bahwa Presiden RI setelah Soekarno adalah Soeharto. Padahal ada 2 presiden lain, bernama: Syafruddin Prawiranegara dan Assaat. Ini dijelaskan di Wikipedia. Saya membuat artikel yang menyangkal cara-berpikir trivia dan ikut aktif menyunting Wikipedia pada entri yang menarik.

Gunung tertinggi di dunia, menurut pendapat orang, bisa berbeda-beda. Ada yang mengukur dengan satuan MDPL (meter di atas permukaan laut), ada juga yang mengukur dari dasar gunungnya.

Penemu bola lampu juga menjadi masalah: bola lampu yang mana? Menurut catatan hak paten, 1850 sudah ada penemuan bola lampu. Edison menemukan bola lampu pijar baru pada tahun 1879.

Trivia akan bermasalah jika kita menggunakan konteks waktu, mempertanyakan “yang mana”, dan meminta kejelasan konteks pertanyaan itu. Sayangnya, “menghafal jawaban” dan memilih “kebenaran tunggal” masih dianggap sebagai ukuran dasar kecerdasan sejak dini.

Yang bermasalah bukan soal adanya kebenaran-tunggal, tetapi, cara kita percaya itulah yang bermasalah.

Saya memilih kopi Arabica, tidaklah masalah. Yang menjadi masalah kalau saya tidak melihat alternatif di luar kopi Arabica. Apalagi tidak pernah mau mempertanyakan kopi Arabica.

Second Law:
“Proof may be no more than lack of imagination.”
Bukti mungkin hanyalah imajinasi yang tidak memadai.

Contoh Pencarian Bukti

Lamarck dan Darwin sama-sama punya teori tentang evolusi, tetapi orang fokus pada Teori Darwin karena mempermasalahkan “mekanisme” evolusi, lalu melupakan teori evolusi Lamarck. Orang menolak teori evolusi karena dianggap tidak bisa dibuktikan. : )

Orang mudah lemas di malam hari di Gunung X, kebanyakan mengaitkan dengan mistisisme. Fakta ilmiah: Pada malam hari, dedaunan mengambil oksigen.

Tautology Darwin: untuk survive, harus ada yang-survive (survivor).

Orang berada dalam hipotesis sampai ada bukti yang menolaknya, dengan cara eksperimen.

Kesalahan terjadi: hipotesis yang-sekarang itu mendeterminasi persepsi orang dan seperangkat bukti yang kita cari.

Baru dugaan sudah dianggap benar, itu berbahaya. Misalnya: suatu media berita online mengutip maraknya hujatan, sampai hujatan itu menjadi populer, kemudian dianggap faktual.

APC bisa digunakan untuk menjelaskan perilaku (behaviour): hasil poling, perilaku konsumen, dan hal-hal “ganjil”.

Contoh perilaku ganjil yang bisa dijelaskan dengan APC:

Mengapa ayam menyeberang jalan?

Cara biasa, hanya mau menguraikan 101 #alasan mengapa ayam menyeberang jalan, dari mulai Plato sampai Descartes, dan menyerahkan semuanya kepada pilihan pembaca. Akhirnya, tidak ada pemfilteran. Tidak ada aktivitas berpikir.

Angle adalah pemfilteran data. Orang membaca untuk memperoleh sajian, bukan untuk mengolah-ulang apa yang kamu potong-potong.

Coba jelaskan, mengapa kalau ada orang sedang mengalami kesusahan, orang lain yang merasa tidak tahu, kebanyakan tidak mau menolong?

Hipotesis sering disampaikan sembarangan. Satu perilaku, dibikin hipotesis. Ada kejadian, orang bikin hipotesis.

Nicholas Nasim Thaleb menuliskan buku Fooled by Randomness yang berbicara tentang bagaimana seringnya orang dibodohi keacakan.

Persepsi

Rapat panjang tentang peraturan, endingnya tetap menerima peraturan lama dengan sekian pembenaran. Mereka lupa melakukan sosialisasi dan pengujian sebetapa efektifnya peraturan ini, dan lupa bertanya (melalui forum terbuka) apa maunya warga.

Alternatif juga bisa diproduksi dengan mengubah sudut pandang. Cobalah ambil satu contoh kasus dan berikan pertanyaan, “Apa yang terjadi jika bukan kita yang melihatnya?”

Alternatif yang kuat, berpijak pada data yang kuat.

Misalnya, berbicara tentang sejarah, banyak orang menebak kejayaan suatu bangsa, namun melihatnya berdasarkan produk (peninggalan peradaban), melupakan genealogi (proses pembentukan) produk itu.

  • Matematika macam apa yang dipakai untuk membangun Borobudur?
  • Bagaimana bangsa Yunani tidak mengenal angka seperti orang Arab, tetapi bisa menghasilkan rumus Phytagoras?
  • Bagaimana orang Roma yang memiliki sistem penulisan angka yang rumit dan tidak mengenal aritmatika bisa bereprang dan menjajah bangsa lain?

Alternatif, sering menjadi arena “tebak-tebak berhadiah” namun tidak menggunakan data, jadilah pseudosains.

Kita perlu mengenal “perspektif” dan “paradigma” (cara pandang) dalam memecahkan masalah. Kalau belum apa-apa sudah “harus begini”, maka hasilnya sudah bisa ditebak. Buat apa berpikir kalau sudah diberi frame.

Apakah Musa dalam al-Qur’an itu sebuah kisah sejarah (history, terjadi sungguhan) ataukah pesan kesejarahan (historisitas)? Bagi yang menganggap itu sejarah, apapun pembuktian yang kamu lakukan akan dimentahkan.

Sama halnya, jika apa kata juru-kunci maqam orang terkenal bercerita tentang keajaiban dipercaya sepenuhnya selalu benar, ya tidak ada aktivitas berpikir lagi. Sebagus apapun data itu, atau seburuk apapun, hanya memaksa orang percaha atau tidak percaya. Tidak berpikir.

Problem

Apakah “problem” itu?
Mendefinisikan masalah yang tepat.

Cara mendefinisikan masalah dengan tepat: menemukan solusinya dulu, baru kemudian kembali merevisi masalah. : )

APC berguna untuk efisiensi, penemuan rutinitas, dan meng-generate alternatif, menghadapi masalah yang sulit diselesaikan.

Problem

  • Mengapa kalau rapat selalu tidak memenuhi kuota 3/4?
  • Mengapa selalu terlambat mengumpulkan tulisan, sampai melewati deadline?
  • Mengapa kiriman tulisan selalu butuh editing total?)

Dalam bahasa Inggris, “question” itu kata-benda (noun), sekaligus kata-kerja (verb). “Question reality” berarti “pertanyakan kenyataan”.

Dalam penelitian, jika kamu tepat mendefinisikan masalah, berarti jalan menuju solusi sudah ditemukan. Masalah harus spesifik.

Review

Melihat kembali masalah dan cara mengatasi masalah.

Design

Menemukan suatu model, template, rancangan, yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah. Berpikir tidak pernah terlepas dari desain.

Decision

Membuat keputusan.

Forecasting

Memprediksi kejadian nanti atau besok.

Untuk menguji dengan APC bisa menjadi 13 pertanyaan berikut ini:

  1. Benarkah begini, datanya?
  2. Alternatif apa yang pernah gagal?
  3. Eksperimen apa yang membuktikan bahwa hipotesis ini #salah?
  4. Masalah ini menghasilkan #alternatif apa?
  5. Bagaimana #kemungkinan yang terjadi di balik masalah (atau perilaku) ini?
  6. Apakah masalah ini sudah tepat kita definisikan?
  7. Bisakah kamu paparkan #beberapa jalan menuju solusi, sebelum kita mendefiniskan kembali masalah ini?
  8. Apakah ada pilihan #lain?
  9. Bisakah kita lebih #efisien dari ini?
  10. Bagaimana pandangan “orang-lain” #jika melihat (atau menjadi) kita sekarang?
  11. Bagaimana jika kita #mereview masalah ini?
  12. Desain apa yang bisa kita terapkan setelah berhadapan dengan alternatif, kemungkinan, dan pilihan ini?
  13. Apa yang #akan terjadi nanti?

Cara ini bisa dipakai untuk memecahkan teka-teki 3 langkah mati, apresiasi lukisan, menyelesaikan level dalam game, mengelola acara kesenian, dll.

Tujuan Berpikir dan Sifat Pikiran

Tujuan berpikir agar tidak-perlu selalu berpikir sebelum bertindak.

Sifat pikiran mengatasi keraguan dan ketidak pastian, lalu mencari pola untuk diikuti.

Contoh: Belajar naik sepeda motor, tadinya “sadar”, menjadi “otomatis”.

Persepsi

Persepsi adalah cara “saya” memandang sesuatu, menurut saya sendiri. Hampir mirip opini, sudut-pandang “saya”.

Persepsi kurang berlaku pada matematika, karena ada rumusnya (termasuk rumus-praktis). Akhirnya, orang memilih belajar menerapkan rumus.
Juga pada pemakaian aplikasi Android: orang melihat #fungsi dan #hasil, bukan pada proses.

Kecerdasan seseorang tidak diukur dari penyelesaian trivia (pertanyaan yang hanya menyajikan 1 jawaban-benar. Kecerdasan seseorang diukur dari caranya mengidentifikasi masalah, menguraikan “skema besar”, dan memilih alternatif terbaik dari sekian banyak kemungkinan. Ini bisa dilatih.

Tes IQ dan wawancara mental selalu ada bagian mengenai “perspektif” dan “APC”. Perspektif itu cara-memandang, kamu memilih berdiri di mana dan pakai lensa macam apa. APC, seperti kita tahu, persoalan menguji-ulang permasalahan dan menyelidiki kemungkinan.

Mereka Bukan Orang Kreatif

Motivator bukan orang kreatif. Ia hanya nyaman pada satu pola, dan memandang dunia dengan cara itu-itu saja. Anak kecil yang menonton YouTube lalu menirukan eksperimen di dalamnya, bukanlah kreatif. Anak kecil itu hanya meniru. Pemakai aplikasi atau script untuk hacking bukanlah kreatif. Ia hanya memakai aplikasi orang lain untuk. Bahkan ia tidak berpikir, sebatas hanya memakai produk.

Orang yang dianggap kreatif, belum tentu berpikir lateral.

Ukuran kreatif itu kalau bisa menciptakan sesuatu yang baru: masalah baru, cara-baru, sudut-pandang baru.

Meskipun demikian, trivia bermasalah jika kita menggunakan sistem-uji yang ketat.
Apa nama gunung tertinggi di dunia?

Buatlah daftar kata, berisi sebanyak-banyaknya kata, yang bisa kamu buat dari huruf-huruf yang ada pada “THE PLANETS”.

Ada berapa kata yang bisa kamu buat?

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak alternatif, kemungkinan, dan pilihan. Jika membuka pikiran, selama ini, kebanyakan orang lebih suka memilih “cara lama yang dianggap berhasil” atau “yang pernah berhasil pada orang lain”, namun memblokir kreativitas.

Contohnya:

  • Terbukti: Kerja di Rumah dengan Gaji 5 Juta per Bulan
  • Begini Cara Berpikir Secerdas Enstein

Tidak jarang, artikel seperti itu terjebak masuk ke dalam kebenaran-tunggal.
Yang menakutkan bukanlah kebenaran-tunggal yang kita pilih, tetapi cara kita memilihnya.

Recognition

Begitu terjadi pengenalan pada pola, pikiran memilih pola itu. Ini terjadi pada hoax dan fake news. Ketika yang tak-masuk akal dan palsu mulai membanjir, orang menganggapnya sebagai pola dan akhirnya dipercaya sebagai fakta atau kebenaran.

Abstraksi

Pemisahan, dari realitas menjadi cara-pandang. Realitas diuraikan menjadi keyword.

Contoh yang sangat sering dipakai dalam tes IQ.

  • Manakah di antara kata ini yang paling berbeda?
  • Apa kesamaan dari daftar-kata ini?
  • Bisakah kamu menyusun kata-kata dari 7 huruf ini?

Pertanyaan dalam melihat pola:
Apakah memang polanya seperti ini, ataukah cara kita melihatnya yang selalu dengan pola sama?

Grouping

Pengelompokan, kategorisasi, klasifikasi.

Analisis terjadi ketika orang berhadapan dengan situasi rumit, menuju pola yang dikenal; dan untuk menjelaskan masalah (seperti abstraksi).

Berikut ini, contoh pertanyaan yang bisa kamu analisis:

  • Mengapa orang percaya kepada Tuhan jika ternyata “Tuhan” yang mereka maksudkan ternyata berbeda?
  • Bagaimana proses terbentuknya bahasa manusia?
  • Apa arti “agama” menurut orang Yahudi, Islam, Hindu, dan Kristen?
  • Geografi seperti apa yang membuat seseorang anak lebih berpeluang menjadi jenius?

Pikiran selalu mengarah kepada pola (pattern). Melakukan asosiasi. Apa yang dikatakan orang ketika “Saya sejalan denganmu..”, “Saya cocok dengan pemikiran ini..”, “Saya juga menerima informasi yang sama, seperti ini..” sebenarnya adalah pemetaan dari domain dan target yang menjalin kecocokan pola. Ketika orang melihat lukisan abstract, banyak orang agak kesulitan berkomentar, karena belum ada pola yang tertanam di dalam pikiran. Matematika, bagi orang yang tidak suka matematika, juga demikian.

“Black campaign” memakai strategi ini. Berikan pola, terus menerus, lakukan dari banyak sumber, nge-flood, viralkan, dan penuhi pikiran orang sampai tidak perlu lagi mengidentifikasi, kesulitan membedakan mana yang palsu mana yang faktual. Pendidikan juga menerapkan pola, menanamkan pola.

Saya sering mendapatkan pertanyaan dari kawan-kawan, tentang bagaimana memotret yang baik. Mereka sudah 5-8 tahun di media, tetapi belum punya “pola” untuk fotografi yang bagus. Tanpa peduli ini ujian atau tidak, saya menjelaskan tentang prinsip komposisi, manual focus, color, dll. Setelah itu, caranya melihat foto menjadi berbeda.

Mengubah cara berpikir itu menyakitkan. Harus melihat diri-sendiri di masa lampau yang tergesa-gesa mengambil kesimpulan berdasarkan fakta yang tidak mencukupi, kesalahan-berlogika, dll.

Ketika berpikir, orang berhadapan dengan perasaan “awas-dan-sadar” (awareness). Ini adalah jenis kesadaran atas sistem informasi yang mengorganisikan diri.

Orang yang sadar ketika berpikir, tidak mau bilang, “Saya sudah pernah memikirkan ini..”. Ia selalu terbuka kepada kemungkinan baru.

Cerita superhero DC dan Marvel, banyak yang menceritakan terjadinya “perubahan pola” dalam sains: observasi, kecelakaan, dan kesalahan. Hulk, Spiderman, seperti itu. Berada pada pola yang “sekarang” tidak akan membawamu kepada pola baru. Itu harus dilatih, harus mau berpindah, dan melawan diri “saya” versi sebelumnya.
Yang tidak disebut berpikir itu kalau hanya menetapkan pilihan, memakai produk-berpikir dari orang lain, dan berada di zona-nyaman “kebenaran tunggal”.

Orang biasa mengalami perubahan pola.

Bentuk peralihan pola yang lain adalah humor. Kalau sudah ketemu polanya, humor menjadi nggak lucu. Humor yang hanya merupakan imitasi dari realitas, dalam bentuk parodi, lucunya hanya sekali dua kali, setelah itu orang bisa menirunya dengan mudah.

Humor untuk melakukan pembelokan ketika terjadi keterbatasan berpikir.

Dari humor kita bisa “membaca” banyak hal.

Ada sebuah anekdot Yahudi, ceritanya begini:

Ada seorang anak muda, bertanya kepada Rabbi Yahudi, “Apa rahasia kecerdasan orang Yahudi?”.

Rabbi ini tidak mau menjawab.

Pemuda ini terus memaksa, akhirnya Rabbi ini menjawab, “Kami punya Kitab Tsalmud. Jika kamu tahu salah satu rahasia kandungannya, kamu bisa menjadi secerdas orang Yahudi.”

Pemuda ini semakin memaksa, “Uraikan 1 saja kandungan di dalam Kitab Tsalmud.”

Lagi-lagi, Rabbi tidak mau, “Tidak mungkin. Hanya orang Yahudi yang bisa mengerti.”

Pemuda ini terus memaksa.

Setelah menghela nafas, Rabbi ini berkata, “Baiklah. Kamu akan saya berikan 3 kali kesempatan menjawab pertanyaanku. Jika 1 saja kamu jawab benar, kamu bisa menyelami kandungan Kitab Tsalmud. Jika tidak bisa menjawab sama sekali, kamu tidak bisa menyelami kandungan Kitab Tsalmud. Bagaimana?”.

Pemuda ini mengangguk.

Rabbi ini mulai memberikan pertanyaan,
“Pertanyaan pertama. Ada 2 orang, yang 1 bodoh, yang 1 pintar. Keduanya keluar dari cerobong asap. Si Bodoh tubuhnya bersih, sedangkan Si Pintar tubuhnya kotor terkena asap. Siapa yang membersihkan-diri lebih dulu: Si Bodoh atau Si Pintar?”.

Setelah lama berpikir dengan keras, Pemuda ini menjawab, “Si Bodoh membersihkan tubuhnya lebih dulu karena melihat orang di depannya bertubuh kotor.”

Rabbi ini menggeleng, “Salah. Sekarang, pertanyaan kedua. Ada 2 orang, yang 1 bodoh, yang 1 pintar. Keduanya keluar dari cerobong asap. Si Bodoh tubuhnya bersih, sedangkan Si Pintar tubuhnya kotor terkena asap. Siapa yang membersihkan-diri lebih dulu: Si Bodoh atau Si Pintar?”

Menghadapi pertanyaan sama, Pemuda ini berpikir lebih keras. Setelah lama, ia menjawab, “Si Pintar membersihkan tubuhnya lebih dulu, karena ia tidak terpengaruh melihat Si Bodoh bertubuh bersih.”

Rabbi ini kembali menggeleng, “Salah lagi. Si bodoh yang membersihkan tubuhnya lebih dulu, karena ia melihat tubuh Si Pintar kotor.”

Mau protes bagaimana, akhirnya ia tetap dianggap salah, walaupun jawaban itu pernah ia pakai pada kesempatan sebelumnya.

Masih ada 1 kesempatan.

Rabbi tadi bertanya. Isi pertanyaan, masih sama persis. Pemuda ini benar-benar bingung. Kedua jawaban pernah ia gunakan dan keduanya dianggap salah. Jadi, apa jawabannya?

Pemuda ini menyerah, “Semua jawaban sudah saya gunakan namun kamu anggap salah. Jadi, apa jawabannya?”

Rabbi ini menjawab, “Ada jawaban ketiga. Mana mungkin 2 orang yang keluar dari cerobong asap yang sama, yang 1 kotor dan yang 1 bersih? Itu tidak mungkin. Nah, sekarang, kamu sudah mengerti salah satu kandungan di balik Kitab Tsalmud yang menjadi rahasia kecerdasan orang Yahudi.”

: ) )

Setiap membaca teks, cobalah meng-generate apa yang bisa kamu dapatkan: pertanyaan, pelajaran, pola, dll.

Mari mencoba meng-generate (memproses) catatan di balik anekdot di atas.

Apa yang kamu dapatkan setelah membaca anekdot di atas?

  • Jangan hanya “binary” (positif-negatif, pro-kontra). Cari aspek “interesting”, sesuatu yang melampaui keduanya. Ini sama seperti metode PMI (plus, minus, interest).
  • Ada banyak alternatif, kemungkinan, dan pilihan. Pada saat memecahkan semua masalah, pertimbangkan semua, sebelum menggunakan satu atau beberapa. Ini sama seperti metode PMI.
  • Masalah yang teridentifikasi dengan benar, sudah mengandung jawaban di dalamnya. Seperti kata Derrida, “Di balik pertanyaan tersimpan jawaban, di balik permasalahan terkandung pemecahan.” Jadi, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
  • Setiap jawaban terbatas oleh ruang dan waktu. Jawaban benar kemarin, belum tentu benar untuk waktu berikutnya. Memisahkan waktu dari proses penarikan kesimpulan, sangat berbahaya.

Induksi atau Deduksi

Induksi berasal dari pengalaman dengan pola yang jelas, dianggap benar, bisa dihubungkan dengan induksi lain.

Rahasia pengetahuan Barat, berasal dari sistematisasi induksi.

Induksi apel jatuh, menjadi temuan teori gravitasi.

Yunani Kuno yang lebih mengandalkan deduksi. Segala sesuatu berasal dari air. Alam ide. Machiavelli menuliskan the Prince, itu pembacaan atas masa lalu, yang kelak menjadi dasar “black campaign” dan politik kekuasaan. Itu juga pembacaan atas pengalaman.

Apakah kita “mengalami” ataukah “memikirkan”?
Bagaimana kita “mengada” dan “menjadi”?

Ini pertanyaan dengan jawaban panjang. Nietzsche membaca-ulang Dynossian dan Appolonian dengan perspektif baru. Sama seperti ketika Foucault menggagas “sex” sebagai “seksualitas” (atau nalar seks) untuk melihat beroperasinya kekuasaan.

Mengapa mereka bisa melampaui segitiga triadik Hegelian?

Hegel berpendapat, Ruh Absolut itu berwukud negara, tempat konflik dialektis selamanya terjadi. Mereka bisa melompat karena mempertanyakan premis-premis sebelumnya.

  1. Bagaimana melampaui category yang sudah ada?
  2. Apakah premis ini bermasalah?
  3. Bagaimana realitas yang terpinggirkan yang tidak masuk ke dalam narasi besar ini kita bicarakan?

Pertanyaan yang sama, membuat Heidegger menggagas fenomenology, yang “menunda kesimpulan” dan membiarkan obyek menyatakan dirinya sendiri. Obyek harus terbebaskan dari penilaian sebelumnya, harus dinilai sebagaimana adanya.

Imam al-Ghazali, Jalaluddin Suyuthi, Ibn al-`Arabi, Ibn Sina, Ibn al-Khaldun adalah orang-orang yang menjadi bukti bahwa menantang asumsi dari masa lalu adalah jalan untuk membuka pengetahuan. Mereka berbeda dari para pemikir sebelumnya.

Seni yang Menantang

Seni memiliki peluang terbaik untuk berpikir dengan pendalaman pola “tanpa-pengalaman” dan mempelajarinya dengan proses induksi lamban.
Seni menemukan hal baru dari pengalaman-biasa (sesuatu yang jelas polanya).

Jalan seni bernama: krisis, ambiguitas, dan dilemma.

Kalau suatu karya seni bisa direduksi menjadi satu macam pembacaan, tanpa kedalaman, itu berarti bukan seni yang mengajak orang berpikir. Itu berarti induksi yang terlalu cepat dan hanya memakai pengalaman umum.

Berpikir membutuhkan latihan (exercise) untuk melatih mengenal pola. Mari membaca kumpulan artikel agar tahu seperti apa polanya; dalam hal ini struktur artikel dan bentuknya.

Iklan, hubungan industri, koran, liburan, membeli rumah, memakai baju, semuanya mengenal pola. Bisa dipelajari, dengan terus-menerus melakukan latihan (exercise)..

Judgement dan Provokasi

Cobalah menguji judgement (penilaian) dan provokasi dengan mengomentari lukisan atau gambar abstrak. Atau coba lihat status di Facebook untuk melihat judgement dan provokasi yang terjadi di sana.

Orang memakai judgement untuk pengenalan dan identifikasi.

Sistem pola, tidak bisa terjadi tanpa judgement.

Coba jawab pertanyaan berikut, kemudian lakukan pengujian “judgement dan provokasi” yang terjadi.

  • Apa yang terjadi jika kita punya 2 jenis mata-uang di negara ini?
  • Bagaimana jika Indonesia tidak mengguatkan sistem parlementer?

Stimulus Acak

Rangsangan acak sering saya pakai untuk “membaca” bagaimana suatu cerita dibuat.
Kamu bisa pakai cara ini dalam proses kreatif. Perbanyak latihan.

Ide dasarnya: bisakah kamu hubungkan 2 hal acak ini, menjadi sebuah cerita?

Coba hubungkan 2-3 kata yang kurang-berhubungan dan gunakan dalam suatu kasus.

Misalnya:
Menggunakan “Sabun” untuk Mengatasi “Kemacetan Lalu Lintas”

Informasi dan Berpikir

Informasi lengkap, tidak bisa terjadi untuk memprediksi “masa depan”.

Pendidikan hanya bicara tentang “masa lalu”: sortir, review, mendeskripsikan, dan menyerap pengetahuan yang ada.

Menggunakan informasi terbaik tidak lantas membuatmu pintar jika kamu tidak berpikir.

Scanning Pengalaman

Pengalaman sangat rentan terhadap pemikiran yang ego-sentris dan jangka-pendek (short-term)

Bagaimana melawan gagasan yang ego-sentris dan jangka-pendek?

Gunakan CAF (Consider All Factors) dan CS (Consequence and Sequel)

Kamu menyingkap (to cover) ataukah menyusun (to construct)?

Dalam disiplin verifikasi, pertimbangkan semua faktor dan pikirkan kelanjutan gagasan ini.

Ada seorang anak kecil yang menggambar. Gurunya bertanya, “Kamu sedang menggambar apa?” Anak kecil itu bilang, “Saya sedang menggambar Tuhan.” Gurunya bilang, “Tidak mungkin. Siapapun tidak bisa menggambar Tuhan.” Anak kecil ini tetap menggambar, “Tunggu saja. Mereka akan tahu, seperti apa Tuhan, setelah gambar ini selesai.”

Selain mempertimbangkan semua faktor, pikirkan konsekuensi dan kelanjutan gagasan ini dalam kurun waktu mendatang.

Pertanyaan dalam CAF dan CS 

  • Adakah yang terlewat, belum dimasukkan dalam gagasan ini?
  • Apa konsekuensinya?
  • Apa yang terjadi nanti?

Pernyataan logis dan pengalaman, tidak terbebas dari “waktu”.

Ada seorang tokoh yang didukung banyak orang, hampir semua gagasannya dibenarkan. 10 tahun yang lalu, ia bilang, akan ada kejadian X. Sekarang, terbukti. Para pendukungnya bilang, “Ini sudah dikatakan olehnya, 10 tahun yang lalu.”

Bagi saya, tidak demikian. Itu gagasan yang terlambat karena sudah ada yang lebih dulu bilang, hanya saka, para pendukungnya tidak melakukan CAF. Selain itu, pada saat ia bilang, gagasannya nggak relevan.

Kalau saya bilang kelak akan ada wisata ke Mars, dan sekian tahun kemudian akan terwujud, bukan berarti saya hebat. Sama sekali tidak. Elon Musk sudah lama menggagasnya, bahkan fiksi-ilmiah Hollywood sudah lebih dulu membahasnya.

CAF dan CS membutuhkan disiplin yang ketat. Semua disiplin-ilmu dipertimbangkan. Ini bisa digunakan untuk membuat analisis utama, in-depth, investigasi, dll.

  • Bagaimana peta pemerintahan di Jawa bagian tengah pada masa tanam paksa?
  • Mengapa Turki Ottoman membantu pasukan Diponegoro?
  • Bagaimana sistem verifikasi fakta yang paling bagus untuk melawan hoax dan fake-news?
  • Berapa dana yang keluar setiap hari ke luar negeri untuk togel HK, SGP, dan Sydney?

CSF dan CS tidak melakukan penghakiman, membuka ruang-ruang bermain bersama, tidak mengandalkan satu sudut pandang..

Membaca ketat dan mendengarkan secara komprehensif, logika, lebih banyak memperoleh informasi, mempermasalahkan lebih dalam (question reality), eksperimen (uji hipotesis), dan memilih Informasi.

6 Topi Berpikir

Gunakan ketika keputusan kamu membutuhkan beberapa perspektif.

Berpikir itu bertahap, momentual. Tidak bisa serentak. Ketika kamu menguji lemahnya gagasanmu, kamu hanya menguji kelemahan gagasanmu, tidak sambil memikirkan hal lain. Kalau kamu sedang memakai topi hitam, jangan sambil memakai topi lain.

Ada pendekatan bernama “6 Thinking Hats” (6 Topi Berpikir). Bisa digunakan untuk menguji kelayakan suatu gagasan. Misalnya mau mengembangkan bisnis, menulis in-depth, atau rapat redaksi, gunakan metode “6 Topi Berpikir”.

Kita menggunakan 6 topi secara bersamaan, sebelum tahu bahwa kita sedang berpikir, tetapi hanya menggunakan 1 topi ketika sedang mengubah cara kita berpikir.

Pada saat berpikir (sendirian atau bersama), lebih dulu, laporkan status. Bagaimana keadaannya? Aap yang sedang terjadi? Kemudian berikan pengertian alternatif.

Berpikir harus punya tujuan: nanti dapat apa setelah memikirkan gagasan ini?

Ada 6 topi: putih, merah, kuning, hitam, hijau, dan biru.

Setelah memahami fungsi dan penerapannya, kamu bisa modifikasi atau tambahkan warna topi lain, sesuai kebutuhan. Ini bukan aturan baku, sekadar pengantar.

Sekarang, pikirkan sebuah gagasan (misalnya: suatu tema dalam menulis atau laporan utama), kemudian uji dengan 6 topi berikut.

White

Topi putih berkaitan dengan data, fakta, informasi, dan daftar kebutuhan.

Jika ada data, tampilkan dengan model data. Misalnya:

Jika mau bicara tentang perubahan, berarti modelnya “before-after” atau “timeline“.

Fakta adalah “pernyataan” atas suatu realitas, menurut versi penutur. Fakta bukanlah kenyataan.

Apa saja kalau relevan dan signifikan, masukkan dulu.

Jangan membuat judgement atas data.

Pertimbangkan semua faktor, masukkan datanya.

Pertimbangkan daftar kebutuhan. Soal mencoret mana yang tidak penting, itu nanti.

Pengambilan keputusan yang tidak berpijak kepada riset dan data, selalu berarti inefisiensi dan inakurasi.

Yang penting, apa yang masuk saat memakai topi putih harus sudah valid dan verified. Sekali lagi, jangan berasumsi dulu.

Red

Merah berkaitan dengan “perasaan” (feeling), emosi, dan intuisi.

Orang mengkonsumsi bukan karena rasionalitas, lebih banyak karena faktor irasional. Ini kawasan yang sulit dan perlu mendapatkan perhatian.

Yellow

Kuning berarti nilai dan keuntungan.

Kuning sebagaimana warna helm insyinyur, terkait dengan fasilitas, kelancaran, faktor-faktor teknis, hal-hal yang applicable.

Contoh berhasilnya pemakaian topi kuning:
Saya ingin membuat tutorial tentang cara menghapus iklan dari browser Google Chrome, yang bisa dipakai kawan-kawan saya, agar kuota mereka tidak cepat habis, bisa browsing lebih cepat, dan cara saya ini lebih mudah daripada tutorial lain yang pernah ada.

Topi kuning bertanya:

  • Apa manfaatnya?
  • Bagaimana kegunaannya bagi publik?
  • Apa kelebihan ide ini daripada ide sebelumnya?
  • Apakah ide ini mengatasi “pain” (rasa sakit) banyak orang?
  • Apakah ide ini bisa membuat orang “gain” (mencapai) sesuatu, melampaui fungsi biasa?

Saya sering teringat topi kuning itu seperti topi insyinyur. Jadi, topi kuning dalam pikiran saya, perlu satu tambahan: membuat fasilitas (kemudahan).

Insyinyur merancang jalan, agar semua mobil bisa melaju cepat dan selamat, tidak peduli ada kepentingan apa di dalam mobil itu. Insyinyur memastikan koneksi internet cepat, tidak peduli dipakai untuk game pubg ataulah streaming.

Black

Topi hitam dikenal sebagai “blackhat“.

Istilah untuk pikiran yang bisa mengakali kesulitan (ini berarti hacking), melampaui sistem, mendaftar masalah berbahaya, mengatasi macet, deadlock, chaos, dan pikiran awas.

Berpikirlah sebagai orang jahat agar idemu aman.

Topi hitam bertanya:

  • Bagaimana semua cara masuk akan kita amankan?
  • Jika informasi ini bocor, apa antisipasi kita?
  • Bagaimana menembus protokoler agar data X ini bisa kita dapatkan?
  • Jika di bagian ini terjadi ide macet, bagaimana cara kita keluar?
  • Sistem darurat apa yang akan kita terapkan jika sistem ini mengalami kegagalan?

Green

Topi hjau berkaitan dengan “memasak”.

Topi hijau berarti: kreativitas, kemungkinan, alternatif, solusi, dan gagasan baru.

Topi hijau bertanya:

  • Ide ini bisa kita apakan?
  • Bagaimana alternatifnya?
  • Bagaimana kalau logika ini kita lompati?
  • Pada kondisi apa kita akan jalankan?
  • Gagasan awal kita sudah berubah, bagaimana sebaiknya? 

Blue

Bagaimana “aturan main”nya dan apa yang akan kita jalankan?

Topi biru identik dengan “processor“, bagaimana mengelola gagasan, seperti apa sistemnya (alur pemrosesan), dan bagaimana berikutnya.

Topi biru bertanya:

  • Bagaimana mengelola proses berpikir?
  • Bagaimana sistem ini bisa kita bikin menjadi “standard operating procedure” (SOP) untuk tim ini?
  • Bagaimana agar fokus dan mengatasi gangguan sampai selesai?
  • Rencana bertindak setelah ini apa?
  • Open, Sequence, Close.

Berikutnya, saya akan menjelaskan secara ringkas tentang berpikir convergent, divergent, dan lateral.

Berpikir Convergent

Berpikir convergent itu mengumpulkan fakta-fakta terpilih, lalu menghubungkan dan menyajikan sebuah “jawaban”.

Berpikir convergent sangat sering disuarakan di dunia akademis.

Berpikir convergent itu berpikir logis, kritis, vertikal, analitis, linier.

Jika tidak logis, dianggap salah. Harap diingat: logika hanyalah salah-satu perangkat formal dalam berpikir.

Untuk terbebas dari logika, harus tahu “kesalahan berlogika” dan “bias kognitif”.

Spoiler: Tidak ada yang bisa terbebas dari kesalahan-berlogika, sepenuhnya.

Gambar besar Cognitive Bias CodexCognitive Bias Codex (2016), bisa dicari penjelasannya dengan Cognitive Bias, WikipediaCognitive Bias, Wikipedia.

Convergent disebut berpikir “vertikal” karena berpijak dari perspektif yang tidak boleh diubah. Semacam menara pengawas, nilai-nilai lama, pemahaman atas masa-lalu (kalau dalam penelitian, ini adalah “prior research“, kajian pustaka) dan teori-teori yang sudah ada.

Convergent itu analitis. Dari sekian banyak fakta kemudian menyajikan suatu “jawaban”. Kalau dalam investigative reporting, ini seperti wawancara dan baca referensi, kemudian menjadi “analisis utama”.

Convergent itu linier. Ada tahapan yang dipatuhi, mekanisme yang tidak bisa dilanggar, seperti urutan berikut: rapat redaksi, penugasan, deadline, editing, layout, posting, distribusi, viralkan di medsos.
Hasilnya sering sudah ketahuan sebelum terjadi.

Berpikir convergent masih sering menjadi andalan ketika menulis artikel: menghubungkan fakta kemudian membaca dengan teori.

Hasilnya, sering tidak ada lompatan. Artikel 720 kata, jika disingkat hanya menjadi 1 paragraf, dan cara menulisnya hampir sama dengan orang lain.

Tidak jarang, dalam keseharian, orang-orang yang berlabel pintar, tidak bisa melompat dari cara berpikir convergent. Mereka ahli di bidangnya, tetapi gagal dalam cara berpikir yang mendasar.

Saya ambil contoh kasus, bagaimana orang sering gagal membersihkan hape dari bloatware dan iklan. Atau tidak tahu bahwa di dunia ini ada situs yang khusus menyediakan aplikasi Android premium di luar Playstore.

Ini masalah yang sering terjadi, pada orang-orang berprofesi pintar (misalnya, doktor filsafat), tetapi tidak bisa menerapkan “logika” dalam keseharian mereka.

Atau dalam fotografi. Sudah menghasilkan lebih dari 1000 foto dengan camera Android yang punya resolusi 4K, tetapi tidak tahu prinsip dasar fotografi.

Berikut ini, beberapa contoh kasus yang menarik untuk berpikir convergent:

  • Banjir besar Nuh tidak pernah terjadi.
  • Adam bukanlah manusia pertama di bumi.
  • Buktikan bahwa 0.9999.. = 1
  • Benarkah astronot Amerika mendarat di Bulan?
  • Bagaimana cara membuktikan manipulasi foto yang sudah di-upload di Facebook?

Cobalah analisis pernyataan di atas, tanpa mengandalkan Google.

Berpikir Divergent

Berpikir Divergent itu berpikir kreatif, melampaui batasan konvensional, mempertanyakan pertanyaan. Menciptakan sesuatu yang baru. Ini bisa berarti: masalah baru. Atau memberikan solusi yang belum terpikirkan sebelumnya. Bukan berarti sama-sekali baru, tetapi bisa berarti: lebih cepat, lebih efisien, lebih kolaboratif.

Dalam trilogy Convergent Divergent Allegiance, Veronica Rooth, yang difilmkan dengan judul-judul sama, diceritakan bagaimana seorang divergent memecahkan masalah.

Seorang gadis dimasukkan ke dalam kotak kaca tertutup dan sempit. Air deras dialirkan. Jika tidak bisa keluar, ia akan tenggelam dan kehabisan oksigen. Bagaimana caranya keluar?

Banyak kawannya tidak selamat karena berusaha menutup aliran air dan mencari di mana kuncinya.

Divergent berpikir kreatif, horizontal, dan membuka peluang bagi ide untuk “keluar dari kotak”.

Berpikir divergent tidak terikat pada masalah dan data yang diberikan.

Kalau tujuannya keluar dari kotak kaca, tidak harus memakai kunci, jadi keharusan mencari kunci (dan waktu yang terus berdetak bersamaan dengan aliran air yang masuk) bisa jadi tidak berguna. Tidak ada yang bisa membuka kotak kaca itu jika hanya didorong. Bantuan yang ia dapatkan, justru “masalah” bernama “kotak sempit” yang “terbuat dari kaca”. Jika didorong tekanannya tidak cukup kuat, ia membiarkan air deras masuk, dan memanfaatkan tekanan itu, untuk ia dorong dengan kaki. Dengan cara itulah ia keluar.

Masalah yang kamu identifikasi dengan baik adalah jembatan menuju solusi.

Divergent menggunakan tenaga lawan untuk mengatasi keterbatasan.

Divergent cocok bagi orang yang suka memandang masalah dengan cara lain.

Divergent itu tentang keberanian mengambil keputusan sendiri.

Berpikir Lateral

Berpikir lateral itu melompat, dari sekarang ke “bagaimana jadinya nanti”. Melompat logika (artinya, tidak sepenuhnya menjalani pengujian logis yang ketat). Jadi, berpikir lateral itu melampaui kotak. Kalau perlu, hancurkan kotak itu.

Berpikir lateral adalah menyelesaikan masalah melalui pendekatan tak-langsung dan kreatif, menggunakan penalaran yang tidak sepenuhnya jelas dan melibatkan gagasan yang tidak bisa dilakukan melalui logika langkah-demi-langkah.

Berpikir lateral berarti berpikir kreatif.

Istilah “lateral” dipakai karena makna dari istilah “kreatif” sudah kabur, banyak salah-pakai.

Berpikir lateral berusaha menjadi “generatif” (bisa memproses gagasan) dan “konstruktif” (memiliki bangunan-pemikiran yang utuh). Sebaliknya, cara berpikir normal (yang sering terjadi), seringnya hanya “menghakimi”, hanya memilih mana yang baik, tanpa pemikiran mendalam, dan mengharuskan sampai pada kesimpulan.

Berpikir lateral tidak harus “benar” dan tidak harua logis di setiap langkah.

Kegunaan Berpikir Lateral

  1. Memproses ide baru, terutama bagi kaum kreatif.
  2. Menyelesaikan masalah (problem solving).
  3. Menilai dan menguji gagasan.
  4. Mencegah perpecahan dan polarisasi

Teknik Formal Berpikir Lateral

Ini alternatif, bisa dipilih salah-satu, bisa pula dikombinasikan, bergantung pada kasus yang dihadap.

Teknik Berpikir Lateral

Teknik 1 : Memproses Alternatif

Gagasan yang ada sekarang, hanyalah 1 kemungkinan dari sekian banyak cara-pandang.

Jangan mencari pendekatan “terbaik” dulu, lebih baik uraikan alternatif apa saja yang bisa dilakukan.

Tetapkan pewaktu (timer). Jangan terlalu lama memikirkan suatu alternatif, agar alternatif lain bisa segera dimunculkan. Semakin banyak, pada tahapan ini, semakin baik.

Teknik 2 : Menantang Asumsi

Menantang, bukan menentang.

Contoh, ada asumsi: “Selama 10 tahun terakhir, belum ada yang bisa melakukan ini dengan cara yang lebih cepat.” Buatlah itu sebagai tantangan.

Caranya, dengan mempertanyakan ide dasar dari terbentuknya asumsi itu.

  • Mengapa belum pernah ada yang melakukan lebih cepat?
  • Pikirkan: Dari mana asumsi ini berasal?
  • Siapa saja yang telah mencoba?
  • Bagaimana cara mereka melakukan sebelumnya?

Menyalahkan asumsi itu bukan soal memilih, tetapi soal merestrukturisasi pola yang sudah ada. Jangan-jangan, struktur dan konstruksi yang sekarang ini, memang bermasalah.

Seringlah Bertanya “Mengapa”

Fungsi bertanya “mengapa”:

  1. Ini adalah jembatan #penghubung, yang membuat gagasanmu lebih #fokus.
  2. Mengetahui #proses pembentukan dan #faktor-faktor yang mempengaruhi suatu asumsi.
  3. Memperoleh informasi di balik informasi.

Tujuan menantang asumsi adalah “restrukturisasi pola”.

Inovasi

Pemikiran kritis melibatkan identifikasi masalah dan menjelaskan efeknya, sedangkan berpikir lateral itu berkaitan dengan efek pemikiran.

Inovasi bukanlah optimasi hal-hal lama, bukan memperbarui cara lama. Inovasi itu soal melampaui fungsi lama.

Menunda Keputusan

Penilaian yang ditangguhkan adalah prasyarat untuk berpikir ke depan.

Kita harus menunda semua penilaian ide dan konsep.

Seseorang boleh salah dalam perjalanan meskipun pada akhirnya harus benar.

Tinggalkan “mencari fakta yang benar untuk membuat kesimpulan yang benar”. Ini tindakan positivistik yang hanya mengarah kepada “iya”, menuntut selalu benar, dan menutup kreativitas. Kalau orientasinya begini terus, apa yang terjadi ke depan hanyalah perbaikan atas masa lalu.

Menunda keputusan dilakukan selama tahap selektif “langkah”, ketikanmasih dalam proses.

Tindakan “salah” sekarang bisa mengarah ke yang “benar” di kemudian hari.

Contoh:

  • Marconi berhasil mentransmisikan gelombang nirkabel melintasi samudera Atlantik dengan menindaklanjuti gagasan keliru bahwa gelombang akan mengikuti kelengkungan bumi.
  • Nokia beranggapan bahwa orang tidak akan suka memakai fungsi komputer yang dikompresi ke dalam smartphone. Nyatanya, tidak demikian.

Ide tidak dinilai dan dievaluasi, melainkan dieksplorasi lebih jauh dan lebih mendalam.

Falsifikasi

Ide itu “salah” ketika tidak dinilai. Ide itu “benar” ketika bisa disalahkan (ini artinya: diuji, layak dibahas, dan diperbaiki)

Desain adalah area yang baik untuk mengembangkan ide berpikir lateral. Ada banyak cara untuk menyatakan dan mengeksporasi gagasan. Datanglah ke pameran lukisan tematik, lihatlah cara orang “meraba gajah”.

Gagasan Dominan dan Faktor Penting

Semua orang merasa tahu apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka baca, tetapi jika kamu meminta mereka mengusir ide dominan, mereka kesulitan (atau tidak mau) melakukannya.

Pilih ide dominan, agar bisa kamu hindari. Pilih pola lama, buatlah pola alternatif.

Faktor penting itu membatasi cara melihat masalah.

Fraksinasi (Pemecahan)

Pecah ide itu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Uraikan situasi menjadi komponen-komponenya. Uraikan berita menjadi hanya data. Dengan cara ini, kamu bisa menyusun-ulang bagian-bagian itu, melakukan restrukturisasi pola.

Pembalikan

Buatlah prmbalikan. Lihatlah sebagai apa yanh kamu pikirkan..Tantang proses dan metode, sebelum menjalankan metode itu.

  • Apa yang terjadi kalau susunannya saya balik?
  • Bagaimana kalau yang kita bicarakan di dalam ruangan ini, saya lihat dari luar?
  • Bagaimana jika kita tunjukkan ada air yang mengalir ke atas?
  • Bagaimana kalau kita buktikan pemanasan global itu tidak seperti dalam kampanye Al Gore?

Fungsi Pembalikan

  1. Melihat dari perspektif lain. “Saya” mencoba menjadi “bukan-saya”.
  2. Mengacaukan cara-pandang lama, untuk membebaskan informasi agar dapat disatukan dengan cara baru.

Contoh Kasus
Seekor burung, ingin minum. Untuk terbang ke tanah yang berair, jaraknya terlalu jauh dan tenaganya sangat lemah. Ia hanya menemukan tanah tandus, banyak batu-batu kecil dan kerikil, dan sebuah kendi berisi air. Kepalanya tak muat untuk masuk.

Bagaimana caranya agar ia bisa minum dari kendi itu?

Analogi

Analogi dalam berpikir lateral tidak digunakan untuk berdebat (adu argumentasi).

Analogi dipakai untuk dikembangkan dan untuk melihat masalah asli dan menghasilkan ide lain.

Contoh Kasus

Jika sekeliling saya berkabut, bagaimana cara saya menemukan jalan?

Titik Masuk dan Area Perhatian

Pikirkan cara orang untuk masuk, agar kamu bisa alihkan perhatian.

Di mana orang masuk, di situlah perhatian bermula. Cara-pandang, berasal dari situ.

Ketika orang membaca cerita detektif, yang umum terjadi adalah menebak siapa pembunuhnya. Agatha Christie melakukan sesuatu yang lain: ia bercerita sebagai “orang pertama” (memakai “aku”, pada salah satu episode di novelnya) dan mengajak pembacanya memikikan “siapa pembunuhnya”. Ternyata, Si Pembunuh adalah tokoh “aku” dalam cerita ini.

Pada salah satu kasus Sherlock Holmes, ada seekor anjing besar, yang menurut Dr. Watson anjing itu tidak penting karena tidak melakukan apa-apa pada malam kejahatan itu. Sherlock Holmes menunjukkan bahwa arti penting anjing itu adalah ia tidak melakukan apa-apa. Dia mengalihkan perhatian dari pentingnya fakta bahwa itu tidak melakukan apa-apa. Sherlock Holmes tidak mengabaikan hal kecil, karena jika diabaikan, akan kerepotan jika berpikir lagi sejak awal.

Perhatikan detail, perhatikan apa yang dianggap tidak penting.

Buatlah daftar, fitur apa saja, atau deskripsi apa saja yang bisa kamu dapatkan. Masuki ruangan, pikirkan kira-kira bagian mana saja yang menarik perhatian dan tak-menarik perhatian.

Stimulasi Acak

Ini terjadi ketika diri rangsangan dari luar dan membiarkan diri bertindak atas ide dari luar.
Sering terjadi, namun tidak disadari.

Orang mengalami exposure (penyingkapan) dan pemrosesan formal.

Bentuknya seperti apa? Menerima input acak (data baru yang menantang data lama), paparan ide lain (dalam diskusi), pendapat dari bidang yang sama sekali berbeda, dan paparan fisik terhadap stimulasi acak (misalnya: datang ke pameran, toko buku, dll.).

Biarkan diri untuk terangsang oleh hal-hal baru. Biarkan “yang lain” memasuki dirimu dan lihat hubungan barumu dengan sesuatu yang baru tersebut. Biarkan kamu terpapar di tengah laut dan ditelan sinar matahari. Biarkan kamu menerima serendipity dari perjalanan.

Provokasi PO

Po adalah “provokasi”. Antara “iya” dan “tidak”. Kemungkinan. Ketidakmungkinan. Yang belum masuk “buku besar”.

Diblokir oleh Keterbukaan

Kebanyakan orang, merasa “cukup”. Kebanyakan orang, mencari cara yang “benar” untuk memilih dan melakukan yang benar, namun hasilnya tidak kreatif. Berpikir tidaklah untuk “berhenti”.

Penutup

Berpikir itu menyenangkan, selalu membuay otak aktif, tidak melihat semuanhal secara sama, dan menyelesaikan masalah.

Banyak orang dianggap berpikir tetapi prakteknya hanya menggunakan informasi atau produk pemikiran orang lain. Berpikir adalah seni sekaligus teknik yang perlu terus dikembangkan sebagai “kemampuan” (skill) yang bisa dilatih setiap saat.

Rembang, April 5, 2019 15:54

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Semarang.

What do you think?

8877 points
Upvote Downvote