in

Topeng

Mengulas 5 versi topeng superhero dan 2 versi pengidolaan.

Bane dalam “Batman the Dark Knight Rises” (2012) berkata, “Tidak seorangpun memperhatikanku, sampai aku memakai topeng”.

Pakailah topeng. Orang akan bertanya, “Siapa orang ini? Mengapa ia memakai topeng?”.

Yang lebih cerdas akan bertanya, “Sedang ada situasi apa, sehingga orang-orang bertopeng?”.

Topeng: Identitas, Prototype Teknologi, dan Rasisme

Superhero harus punya topeng dan kostum. Banyak pahlawan bertopeng, dalam film-film superhero. Mereka harus. Batman harus mengenakan topeng karena ia Bruce Wayne, pewaris konglomerat Gotham, yang memiliki kekuatan super: kaya. Batman tidak ingin identitasnya diketahui publik.

Batman mengenakan kostum beridentitas hewan yang paling ia takuti: kelelawar. Batman menggunakan topeng sebagai “medium” untuk mengalahkan ketakutan. Jalan seorang jagoan selalu bermula dari mengalahkan dirinya sendiri. Ini berbeda dengan orang yang percaya ideologi A, menyamar dengan profile seseorang yang berideologi B di media sosial. Flash harus mengenakan topeng dan kostum berbahan body roket agar aman ketika berlari dengan kecepatan suara. 

Topeng membelah kepribadian. Di balik topeng kelelawar, Batman memiliki mentalitas berbeda dari Bruce Wayne yang pengusaha. Batman kejam, melompat dan menginjak,mengacaukan lalu-lintas, melintas dari gedung ke bawah tanah. Berbeda sama sekali dengan kepribadian Bruce Wayne yang santun dan menyayangi anak-anak seperti Donna Troy dan Dick Grayson Nightwings. 

Superman mengenakan topeng, demi menyamarkan identitas, namun ia berbeda dengan Batman. Superman tetaplah Superman, tidak peduli ia sedang menjadi wartawan Daily Planet atau ketika meladeni permainan Lex Luthor. Superman tidak bertopeng. Superman berkostum. Superman berkostum demi keamanan. Kekuatan Superman tidak berkurang, sekalipun ia sedang berpakaian seperti manusia. Superman harus kenakan itu, di balik penyamarannya sebagai alien yang mengguncang manusia.

Superman (ada banyak versi) menjadi eksperimen DC Comics sebagai karakter yang paling dikenal orang sebagai sosok fiktif yang memunculkan filsafat dan agama: Benarkah manusia sendirian di jagat raya ini? Apakah Tuhan menciptakan makhluk lain yang lebih hebat dari manusia (berupa Superman)? Apakah manusia dapat mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan Superman? Apakah Superman berperan sebagai bantuan Tuhan?

Topeng bisa mengubah kepribadian seseorang, bahkan membelah kepribadian itu menjadi beberapa, semuanya hidup. 

Iron Man tidak mengenal “topeng” sebagai penutup muka. Sebagaimana Batman, pakaian secara keseluruhan adalah topeng. Tony Stark memiliki Spiderbuster, kostum untuk mengalahkan Spiderman; Hulkbuster untuk melawan Hulk, sampai 52 kostum untuk melawan musuhnya. Topeng Iron Man terhubung dengan satelit, superkomputer Jarvis, dengan artificial intelligence mengagumkan. Pakaian Iron Man menjadi prototype mentah dari teknologi wearable device yang sekarang semakin canggih, dipakai di dunia militer dan pebisnis.

Marvel Avengers merevisi konsep kekuatan super DC Comics, menjadi lebih manusiawi, lebih teknologis, dan musuh mereka tidak lagi personalitas melainkan masalah perkotaan, atau dunia secara luas. Marvel Avengers lebih politis. Mereka menampilkan New York sebagai New York, bukan kota imajiner.

Konsep topeng yang berbeda, terjadi pada cerita “Watchmen”, yang menampilkan cerita dystopia: pembantaian terhadap polisi, mengharuskan para polisi harus mengenakan topeng, agar tidak dikenal para penjahat. Sosok Roschach, yang berkulit hitam, salah satu karakter unggulan cerita ini, memilih bertopeng karena “.. tidak ada yang mau punya pahlawan berkulit-hitam.”. Roschach sudah memilih bersikap rasis (menganggap orang lain tidak akan mau memiliki pahlawan berkulit-hitam seperti dirinya), dengan bertopeng.

Vendetta dalam komik V for Vendetta, memakai topeng (konon terinspirasi semangat Guy Fawkes), untuk mereplikasi semangat. Vendetta memakai topeng karena ia telah “mati”, wajahnya rusak karena ledakan. Luka fisik dan misi mulia V, berjalan lancar di balik topeng, dengan metode perubahan yang anarkis. Gaya ini menginspirasi gerakan di dunia nyata, seperti “anonymous”, “occupy Wall Street”, dll. Vendetta menjadi martyr (bukan victim) demi replikasi semangat menjadi ribuan Vendetta. Ia memimpin perlawanan dalam kematian, agar semua orang menjadi pahlawan dari rumahnya masing-masing, dengan profesi dan status mereka masing-masing. Ini merupakan semangat perlawanan yang muncul dari pengidolaan yang tidak memusat. Banyak pergerakan terilhami dari semangat seperti ini. 

2 Macam Pengidolaan

Ada 2 macam pengidolaan, dilihat dari metode dan efeknya.

Pertama, pengidolaan memusat. Terjadi seperti orang-orang yang menyukai K-Pop dan fansmania, yang melihat apa kebiasaan artis idola mereka (dari merk baju yang mereka pakai, ukuran celana, sampai hobi mereka).

Efeknya, mereka meniru “kulit” (permukaan) idola mereka, berhenti sebagai konsumen, mengikuti sebagaimana artis idola mereka.

Kedua, pengidolaan yang menyebar. Orang-orang tertentu, yang menginspirasi perubahan, justru disukai karena semangat dan apa yang mereka lakukan. Penggemar (dan pengikut) mereka, tidak terlalu tahu detail idola mereka, namun mereka meneruskan semangat ini.

Para pengikut Kartini, tidak semuanya membaca karya Kartini, namun mereka mengidolakan Kartini karena apa yang ingin dilakukan Kartini. Justru Kartini hidupnya menjadi sempurna dan lebih bernilai karena keberadaan orang-orang yang meneruskan agenda-kerja Kartini. Atau ribuan buruh berdemonstrasi membawa poster Marsinah, “tumbal” perburuhan Indonesia, tidak begitu tahu detail sejarah pengorbanan Marsinah. Mereka turun ke jalan dan berdemonstrasi karena tuntutan Marsinah adalah tuntutan mereka.

Vendetta, dalam V for Vendetta, dalam ending cerita, berhasil membuat topengnya menjadi identitas perubahan. Dan keluar dari komik, ia menjadi film, dan keluar dari film, ia menjadi gerakan anonymous dan perlawanan. Dari Wall Street, Gezi Turki, Kairo Mesir, dalam perlawanan dan protes kita sering melihat Vendetta hidup. 

Topeng dalam Kehidupan

Sementara itu, analogi pemakaian topeng yang lain, masih terus terjadi di media sosial. Akun hantu, propaganda berdalih politik dan agama, identitas yang tak-jelas, manusia yang bekerja sebagai brand, atau profile nyata (misalnya, selebritas atau pejabat pemerintah) dikerjakan dengan kerja tim, berada di Beranda orang. Entah mereka memilih jenis topeng yang mana. “Di balik topeng ini, tidak ada apapun selain gagasan. Dan gagasan itu tahan-peluru,” kata V dalam V for Vendetta.

Siapapun kamu, pasti mengenakan topeng. Hanya masalah kamu sadar memakainya atau tidak. Orang lain melihatnya. Kamu mengenakan topeng. Atau kostum buatanmu. Tidak ada kepribadian tunggal, apalagi utuh. Kepribadian selalu kontekstual. Identitas seseorang ditentukan dari “sedang di mana”, “kapan”, “bersama siapa”, dan “sedang menjalankan apa”. Topeng itu sekarang semakin kompleks. Topeng bisa berwujud apa saja. Kalimat yang menenangkan. Koneksi melalui VPN. Foto profile orang lain. Acting di atas panggung. Cosplay. Bermain pubg. Menulis. 

Topeng tidak tentang baik-buruk. Topeng tidak mengganti identitas kamu. Topeng adalah “sesuatu yang lain” yang sedang menjadi dirimu. Topeng menobatkan kamu menjadi orang yang memiliki tanpa-batas, untuk menjadi apapun. Entah baik atau buruk. Dan orang lain yang menilai, kamu bertopeng atau tidak. Entah topeng versi siapa yang kamu pakai. Dan pengidolaan macam apa yang kamu jalankan. [dm]

What do you think?

889 points
Upvote Downvote