in

Alasan yang Tidak Tepat

Yang penting bukan apa alasanmu melakukan, tetapi..

Kawan saya bilang, “Ini pasti cinta,” hanya karena ia rela mengantar pacarnya pulang-pergi, datang menembus hujan, dan bekerja lembur demi membelikan gelang untuk pacarnya. Pacarnya bilang, “Terima kasih.”. Saya berkomentar, “Mungkin itu bukan cinta, tetapi transaksi emosional-material, karena kamu berpamrih mendapatkan cinta dari pacarmu.”. Tentu saja dia marah. Seandainya pacarnya bilang bahwa dia tidak cinta lagi kepada kawan saya, mungkin akan ada ledakan kemarahan, “Lihatlah semua yang sudah kulakukan untukmu..”. Perang pasti akan terjadi.

Apa yang mendasari alasanmu melakukan suatu tindakan?

“Apakah alasan itu bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik?”

Kawan saya sibuk mencari dalil, memasangnya di Story, agar orang tahu alasan ia melakukan tindakan tertentu. Yang satunya, memaknai angka 2021, yang katanya dari perkalian 43 dan 47 (keduanya, bilangan prima, kalau kamu suka bilangan prima) dengan segala macam “makna” di dalamnya. Perkataan, pergaulan, pakaian, tindakan, dalil melulu yang mereka cari.

Sekali lagi, apakah alasan itu bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik?

Tidak masalah, jika alasan itu bisa membuat hidupmu menjadi lebih baik.

Pada kasus lain, kawan saya yang lain mencintai pacarnya. Bukan karena dia cantik, bukan karena dia pintar, tetapi katanya ia merasakan getaran ketika sedang berada di dekatnya. Dia tidak bisa marah, kalau ada konflik tidak pernah lama, dan cinta mereka tidak ada lagi take-and-give. Perbuatan mereka sudah tidak transaksional lagi. Tidak pakai alasan lagi.

Mengutip Tokoh X yang menyarankan hidup sederhana, sama sekali tidak membuatmu menjadi #sebagaimana Tokoh X, dan tidak berarti kamu #bertindak hidup-sederhana. Kamu hanya mengutip. Kamu hanya sebatas memiliki alasan sebagaimana Tokoh X itu.

Mencari validasi eksternal, untuk memperoleh pembenaran dan persetujuan, sepenuhnya tindakan amatir.

Semua orang memiliki alasan berbeda-beda. Yang lebih penting lagi, mereka memiliki kalender sendiri-sendiri. Ada yang membuat daftar tugas, menambahkan tanda biru untuk momen terbaik, dan sedikit ketenangan.

“Apakah alasan itu juga baik untuk orang lain?”

Sebelum menjawab ini, tanyakan kepada diri-sendiri, “Haruskah kamu menceritakan alasanmu, demi pengakuan dari orang lain, betapa baiknya tindakanmu?”. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.