in

Tentang Literasi Buku dalam Ketidakhadiran Literasi Finansial dan Digital

Ironis kalau literasi berhenti dalam tindak-mengkonsumsi buku. Yang mendesak itu “financial literacy” dan “digital literacy”.

literasi-buku-tanpa-literasi-finansial-dan-digital
DARI AKSARA KE FINANSIAL DAN DIGITAL. Tidak berhenti di konsumsi bacaan, tidak terpisah dari disiplin ilmu-lain. Literasi finansial dan digital, mestinya tidak terpisah dari keberaksaraan masyarakat. (Photo: Laëtitia Buscaylet from Unsplash.com)

Apakah “literacy” (literasi) itu?

  • Google < define:literacy:

“pengetahuan, pendidikan” dan “kemampuan baca-tulis (melek aksara)”

  • Merriam-Webster 2017 :

“the understanding and information gained from being educated”

  • Sinonim: erudition, knowledge, learnedness, learning, education, scholarship

Digunakan pertama tahun 1880.

“Melek” itu pengertiannya panjang. Bisa baca aksara Arabic atau Jawa, penulisan dan pengutipan ilmiah, menulis dan verifikasi data, mengorganisasi data, punya skill terkait literasi itu, mengajarkan orang untuk lebih well-educated terhadap literatur (bukan hanya untuk diri-sendiri), dst.

Apa Saja Aspeknya?

Hampir semua aspek penting dalam kehidupan itu ada literasi di sana: literasi digital, literasi media, literasi berita, literasi penemuan (invention), literasi ilmu-pengetahuan (sains), literasi budaya, dst.

Literacy itu keberaksaraan, pengetahuan, yang terkait langsung dengan masyarakat.

Literacy tidak berdiri terpisah dari disiplin lain. Kalau Anda mau tahu bagaimana sejarah Islam, harus belajar beberapa disiplin ilmu: antropologi, filologi, dst.

Literacy bukan sudut ruangan yang berisi buku, kopi, dan musik yang melupakan prioritas keberaksaraan dan pengetahuan.

Literacy bukan hanya dunia buku.

Aspek sosial literasi memusatkan-perhatian pada pengalaman yang berkontribusi pada penafsiran atas bacaan dan bagaimana kita akan memulai menilai pesan.

Literacy bukan sesuatu yang stagnan. Masyakarat berubah, tentu literasi berubah.

Apakah literasi yang sedang ngehit di media sosial itu membahas “financial literacy”?

Financial Literacy

Pengetahuan yang berkaitan dengan finansial, bukan perkara mudah. Mari melihat apa yang terjadi di media online. Mana yang lebih banyak: berita tentang keputusan finansial dan kerugian, ataukah literasi keuangan?

Orang membaca tentang pembangunan infrastruktur, korupsi, kerugian sekian trilyun, tetapi sebagian masyarakat baru mengerti, apa itu ketersediaan dana, proyek fiktif, pengalihan lahan, dan seterusnya, tepat setelah “kerugian” terjadi.

Kalau mau pakai ukuran mudah: berapa rubrik “ekonomi” yang mengajarkan melek-finansial? Nggak sebanding jumlahnya dengan berita ekonomi.

Financial literacy, berhadapan dengan beberapa hal berikut:

1. Konsumen berhadapan dengan pilihan kompleks

Ada puluhan merek, ratusan artikel yang menyarankan, dan ribuan “orang-lain” yang membeli. Pilihan sekarang lebih kompleks. Orang sulit melihat “iklan” karena mereka sudah berada di tengah-tengah iklan. Kawan saya, tiba-tiba mengubah fungsi akun medsos dia, menjadi tempat berjualan. Dia sudah menjadi toko online.

2. Konsumen lebih bertanggungjawab terhadap pilihan keuangan mereka

Uang 50 ribu, dapat buku apa? 1 atau 2? Baru atau lama?

Bukan berarti mereka “bebas memilih” kalau pilihan yang ditawarkan hanya “gitu-gitu aja”.

Jadi problemnya, apakah konsumen berpeluang untuk lebih terbuka wawasan finansial mereka?

3. Marketplace sudah global

Apa yang dipakai orang Eropa, bisa dipakai orang Indonesia. Apa yang dijual di desa saya, bisa dipasarkan sampai ke Afrika. Tanpa financial literacy, orang akan terkejut, mengapa tiba-tiba Android membanjiri pasar lokal?

4. Sekarang sudah zaman cryptocurrency

Mata uang berbasis kriptografi. Sekarang kan bukan zaman media sosial lagi. Sekarang era koin digitial. Bitcoin (BTC) hanya salah satunya. Transaksi bisa “tanpa” pajak, identitas penjual-pembeli yang pakai BTC nggak ketahuan, uang seperti ini benar-benar “tanpa” negara.

Sama dalam kehidupan sehari-hari, apa kita tahu dari mana sebuah barang berasal? Kalau dalam peta perbukuan dan penerbitan, setidaknya harus mengerti, seperti apa bisnis buku itu berjalan.

Problemnya, orang lebih sibuk dengan “nilai” (fungsi, kegunaan) dan “rating”.

Orang sibuk pada pemihakan: “jangan lakukan ini”, “saya setuju dia”, dan “harus kita terapkan ini..”, seperti inilah fungsi dan nilai. Orang banyak terpengaruh “rating” karena dia nggak ngerti “cara kerja” data.

Orang tidak bisa disatukan dengan politik, agama, ataupun ideologi..Orang bersatu karena konsumerisme, tepatnya, konsumerisme berbasis algoritma.

5. Bantuan pemerintah

Kita berada dalam banjir informasi yang didominasi swasta dan pribadi. Media-media Jakarta, terutama televisi, yang selalu bikin isu menjadi besar.

Contoh: soal registrasi sms berdasarkan nik dan nomor ektp.

Siapa yang paling cepat menyampaikan informasi? Itu informasi dari mana? Bagaimana cara verifikasi informasi ini? Lebih fokus: apakah jika ini menyangkut “keputusan membeli” dan “stabilitas politik”, pemerintah lebih berperan ataukah swasta dan pribadi? Lembaga pendidikan juga demikian. Masak sudah di perguruan tinggi, nggak melek-finansial?

Kalau financial literacy tidak dijaga, hancurlah perekonomian suatu bangsa.

Digital Literacy

Digital literacy itu melibatkan praktek memahamai cara-kerja data, bagaimana infrastruktur jaringan mendukung organisasi Anda, bagaimana menciptakan, menerapkan, dan menjalankan praktek dan kebijakan pemakaian data aman, etis, dan efektif.

Digital literacy itu pengetahuan yang harus dimiliki semua organisasi atau lembaga.

Dalam bentuk apa?

Saya garis-bawah di sini: bukan hanya perpustakaan digital.

Mari kembali kepada keberaksaraan. Kelihatannya mudah, tetapi berat.

Kalau Anda sering berhubungan dengan teks Islam, apakah smartphone Anda sudah support untuk menuliskan teks Arabic? Atau aksara kedaerahan, seperti Sanskrit dan Jawa?

Menurut saya, sungguh aneh, di satu sisi orang-orang mengajak “mari kembali ke tradisi dan kearifan lokal” dalam acara seni budaya, namun mereka nggak “melek aksara”, nggak mengerti aksara Jawa Kuno (kalau mereka orang Jawa).

Sekelas kandidat doktor di bidang literatur Jawa, kalau membayar orang untuk transliterasi dari teks Jawa ke latin sekaligus menerjemahkan, itu aneh, kan?

Digital literacy, punya tantangan ini.

Saya ajukan 3 pertanyaan ini, terkait teks Jawa:

1. Apakah jika sekarang ini, literatur kuno Jawa dibuka (diterbitkan-ulang, diperbanyak, dan bisa diakses publik) Anda bisa membacanya?

2. Jika Anda bisa membacanya, apakah bisa menerapkan dalam percakapan di smarphone sebagai teks, bukan sekadar screenshot?

Catatan: chat sudah menjadi bagian tak-terpisahkan dari orang zaman sekarang.

3. Bisakah mengkonversi teks kertas ini menjadi digital dan sepenuhnya bisa diakses?

Ini kan masalah juga. Teks unicode dan penulisan aksara Jawa di Android sebenarnya sudah “selesai”, namun belum ada gerakan untuk menerapkan ini dalam kehidupan orang-orang Jawa (sebagai contoh).

Kita punya aksara lain di daerah lain. Saya bangga dengan kekayaan bangsa Indonesia dalam aksara, namun heran dengan habisnya milyaran dana untuk acara sekali-selesai.

Tindakan paradoks itu kalau punya mimpi kembali ke kearifan tradisional namun tidak mencapai keberaksaraan.

Teknologi “search engine” yang dianggap ampuh itu, kalau bicara literacy, sebenarnya masih belum apa-apa.

Search engine, bukan hanya Google.

Search engine tidak bisa cross-reference. Search engine tidak bisa mencari sesuatu berdasarkan potongan suara atau video. Search engine bekerja beradasarkan algoritma, yang bisa bias. : )

What do you think?