in

Antonim dan Metafora

Buat pilihan dengan metafora.

Antonim (lawan-kata) sering tidak berhasil dalam membuat pilihan, tidak membujuk orang untuk bertindak. Sebab, dunia tidak hitam-putih.

Coba saja, berikan orang pilihan yang — sering dianggap — bertentangan. Misalnya: kamu pilih pulang atau pergi? Hitam atau putih? Keyakinan X atau Y? Cara ini atau itu?

Pikiran sering bias, memaksakan pilihan. Bertindak dengan memilih. Seolah-olah kita berada dalam “kebebasan dalam memilih” dan pilihan yang tersedia sudah sepenuhnya baik. Padahal, yang-sudah-ada hanyalah hal-hal yang kita persepsikan dari masa lalu.

Ada yang lebih mendesak, bernama “masa depan”. Besok. Sejam mendatang.

Antonim tidak memadai untuk melakukan penilaian. Tidak bisa mengurai struktur yang kompleks. Antonim memakai logika aku-kamu, ini-itu, ” either .. or ..”. Antonim tentang negasi, penyangkalan, keterpaksaan dalam membuat pilihan.

Antonim sering gagal menilai realitas. Antonim membawa orang kepada “choice”, bukan “option”.
Ada yang lebih “work” dan melihat dunia lebih cantik. Namanya, metafora.

Metafora bukan simbol, bukan pralambang. Metafora adalah melakukan pembacaan baru. Melihat realitas secara berbeda. Mengalami secara baru. Permainan yang tidak mau berhenti. Pemaknaan terus-menerus.

Sebutlah contoh penanda tradisional, berupa kata “tanah”. Apakah tanah itu? Jika kita “mengalami” tanah, setiap hari melihat tanah, dan membiarkan tanah menampilkan dirinya, maka tanah menyejarah, mengada bersama waktu. Tanah akan menjadi uraian yang terus berbeda. Tanah selalu kontekstual, mengada bersama yang lain. Tanah menjadi “both .. and ..”.

Dengan metafora, kita tidak melihat “follow” ke arah “follow atau tidak”. Kita bisa melampaui cara berpikir antonim, kita bisa membaca “follow” dari perspeltif “lead” (memimpin). Menggeser “copy” menjadi “inovasi”. Melihat ” mencuri” sebagai “langkah kreatif”. Memandang “kehamcuran” sebagai “penciptaan-ulang”.

Hapus “atau” dan antonimitas. Geser cara memandang realitas, dengan metafora.

Apa yang terjadi ketika saya memandang “10 menit”? Durasi untuk menton 1 video TED. Scroll Beranda Twitter. Membuat kopi yang sangat enak. Membaca artikel panjang. Menuliskan 1 catatan singkat. Belajar sesuatu di TikTok.

Mungkin ada 100 kalimat baru, jika besok saya mengalami ” 10 menit” secara berbeda. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.