(Photo: Pexels, 5485767)

Bahaya Bermain Aman

Hanya memperbaiki kesalahan orang lain yang ia revisi melalui langkah yang lebih baik.

Biasanya pasif dan menunggu.

“Nanti saja.”. “Saya begini dulu.”. “Kamu coba saja, saya susul nanti.”.

Main aman, menyimpan nasehat yang buas. Nasehat yang menyikat apa saja yang tidak sejalan dengan nasehat itu. Bahkan tanpa mengerti masalahnya seperti apa, nasehat selalu ingin ambil peran.

Setelah semua selesai, ia baru menjadi orang pintar, “Saya sudah menduga. Saya sudah pernah membatin. Ini sudah saya pikirkan, tetapi nggak enak mau bilang ke kamu.”.

Namun yang memilih main-aman, tidak mau bergerak. Duduk, diam, memandang, ikut tepuk tangan, sesekali mencibir.

Dalam setiap pertempuran, mereka memilih berada di garis koordinasi berbentuk garis putus-putus. Ingin di luar sistem. Agar tidak terluka, tidak terhempas, dan tidak terputus. Mereka ingin aman.
Main aman, membentuk zona-nyaman. Hangat, sendirian, seperti katak dalam tempurung. Enjoy.
Kebahagiannya mudah ditemukan di orang lain. Baru ngopi, sudah mengaku bahagia. Mendengar ceramah 5 menit, sudah mirip piknik ke perpustakaan. Merasa sedikit pintar.

Kalau ada sanggahan, ia mengadu apa yang ia dengar dengan apa yang disanggah orang. Ia tidak berada di mana-mana.

Memilih yang terbaik berdasarkan masa lalu, lebih ia suka daripada mengalami petualangan. Ia akan berada dalam lingkaran persekawanan yang itu-itu juga.

Bahkan ketika tempurung dilubangi, mental “katak di dalam tempurung” tidak tersadar ketika melihat langit. Ia tidak melihat kebebasan. Yang ia lihat, “di atas langit masih ada langit”. Tempurung berlubang, masih saja memblokir insting merdeka dan bebas melompat. “Saya di sini saja. Saya begini saja.”.

Main aman, hanya memperbaiki kesalahan orang lain yang ia revisi melalui langkah yang lebih baik.

Main-aman, menghadapi masa depan menakutkan. Main aman, menunggu dan menunggu. Main-aman, ingin sempurna. Main-aman, sibuk menjinakkan kemauannya sendiri. Membunuh keinginannya sendiri, kalau perlu. Main-aman, tidak mau menyambut kemungkinan-baru. Main-aman, sibuk mengevaluasi prestasi dan kinerja kemarin. Main-aman, menceritakan keberhasilan atau kegagalan, seolah-olah ia kerjakan semua itu sendirian. Main-aman, adalah offliner yang tidak bermental menang dalam game. Mentalnya jauh di bawah “kalah” dan “takut”. Main-aman, mengikuti pola umum orang-lain, ukuran suka-duka orang lain, selera kebanyakan orang.

Main aman hanya menjalankan sejarah kesalahan orang lain yang sudah ia revisi.

Main aman seperti itu, berarti kamu tidak memiliki langkah sendiri. Kamu ingin “positif”, namun selalu: lama, pasif, dan reaksioner terhadap riwayat-hidup orang-lain.

Mau ke mana? Mau lewat mana? Pakai cara apa?

Tidak ada benar-salah, adanya adalah mempertimbangkan prioritas dan menemukan rute dengan kombinasi terbaik.

Menunggu yang sempurna, tidak akan datang.

Nyaman karena kepastian, itu sepenuhnya benar melawan salah. Sepenuhnya sulit dipahami.

Para pejuang, petarung, pencipta, dan pengambil-resiko, memiliki pilihan. Tempuh resiko. Selesaikan level ini. [dm]