(Photo: Pexels, 246753)

Bisa Saya Apakan?

Orang kreatif bertanya, “Bisa saya apakan?”.

Orang kreatif bertanya, “Bisa saya apakan?”.

Kasus 1 – Memikirkan Alatnya, Bukan “Bagaimana Caranya”

Orang mencari apa nama aplikasi untuk melakukan “pekerjaan ini”. Browsing 30 menit, bertanya melalui chat, dan sering tidak menemukan.

Mereka berpikir, produk ini dibuat dengan alat apa? Siapa yang bisa membuat seperti ini” Yang tidak mereka lakukan adalah bertanya, “Bagaimana prosesnya bisa sampai ke titik itu? Bisakah saya membuatnya? Yang ini bisa saya apakan?”.

Kasus 2 – Sebatas Begini Saja

Tidak mau tahu lebih banyak. Orang memilih pendirian minimalis, “Saya hanya butuh bisa begini saja, selainnya saya tidak perlu tahu.”.

Efek dari keputusan seperti ini, sangat mengerikan. Dia tidak tahu cara kerjanya, tidak tahu “gambar besar” di balik pekerjaan kecil yang ingin ia selesaikan. Ketika datang masalah lain lagi, ia kerepotan. Hasilnya, waktu yang lebih banyak. Defisiensi, bukan lagi inefisiensi.

Musa tidak tahu kalau tongkat yang biasa ia pakai untuk menggembala, bisa berubah menjadi ular besar yang mengalahkan para penyihir Faraoh. Banyak orang mengaku bisa mengoperasikan Word atau Excel, tetapi mereka memilih sebatas mengetik dan menghitung. Padahal kedua aplikasi ini sangat sakti.

Orang kreatif selalu bertanya, “Bagaimana cara membuatnya? Bagaimana gambar besar di balik ini? Bisa saya apakan?”. [dm]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *