in

Debat Biasa

Debat, hanya tentang adu argumentasi dan berakhir pemihakan. Bisakah tidak seperti itu?

Kadang, hanya 2 orang, kita berdebat. Kadang, dengan orang yang kamu cinta. Lihatlah debat dari perspektif penonton. (Photo: Unsplash)

Perdebatan. Bukan tentang gagasan baru. Hanya tentang adu argumentasi. Jika ada kesalahan-berlogika (logical fallacy), perdebatan hanyalah perdebatan.

Katanya, perdebatan itu untuk penonton. Agitasi, propaganda, pertarungan sandiwara, semua itu untuk mempengaruhi orang lain.

Apa ukuran kalau debat ini tidak berguna? Tidak menyelesaikan masalah, hanya sebatas menetapkan pemihakan (siapa mendukung siapa). Tidak ada rekaman resmi dari perdebatan ini, ke pemakai yang lebih banyak, agar orang lain bisa ikut terlibat. Tidak ada link referensi atau lampiran dokumen resmi, di mana orang bisa ikut mendalami perdebatan.

Debat dengan sistem jam catur (jam kamu mati ketika jam saya berjalan), penuh batasan. Hanya 2 orang yang berani, mengerucut pada pilihan. Jika mereka bertarung, bawahnya ikut bertarung. Jika 2 orang ini diunggulkan dalam perbincangan, selainnya akan dianggap “orang lain”.

Penonton yang menjadi “orang lain”, tidak menjadi benar-benar terlibat dalam perdebatan.
Mengapa harus televisi? Mengapa harus dengan cara berdebat? Matikan saluran debat.

Di media sosial, penonton yang berdebat. Kita merindukan para raksasa berdebat di sini, namun kita boleh terlibat dalam debat. Suasana debat yang mencerdaskan. Tidak ada kata-kata berapi-api, namun ketika pulang, ada sesuatu yang kita bawa, kita pikirkan lebih lama. Debat yang menjadi inspirasi tindakan. Bukan perselisihan.

Bahaya Bermain Aman

Melihat Pameran