(Photo: Pexels, 4052157)
in

Hanya Negara yang Boleh Memelihara Ulat Ini

Ulat yang memetakan jalur dagang China.

Pada zaman dahulu kala,

Ribuan tahun sebelum Masehi, tercatat dalam sejarah China. Pada suatu hari, Ratu Xi Ling Shi berjalan memantau kerajaan. Sang Ratu melihat ada hewan kecil bergerak di bibir cangkir teh. Seekor ulat.

Anehnya, ulat ini memiliki seutas benang. Ia menarik benang itu, menggerakkan jarinya memutar, sampai ujung jarinya dililit benang dari ulat itu. Lembut, halus, cantik.

Jari Sang Ratu berhenti. Pandangan tetap terpana kepada keindahan benang ini.

-Apa yang akan terjadi pada dunia jika benang ini tersebar dari China?-, begitu pikirnya. Pandangan (visi) ini yang kelak mengubah perdagangan dunia. Sampai sekarang.

“Ulat apa ini? Cari dari mana asalnya.”.

Para ilmuwan dan perajin berkumpul. Mereka bilang, bahwa benang itu dapat ditenun dan menjadi kain bagus.

Kain yang belum pernah ada di dunia ini.

Dan hanya China yang bisa membuat.

Para ilmuwan dan perajin disumpah untuk merahasiakan. Mereka harus merahasiakan asal ulat ini, bagaimana mengembang-biakkan ulat ini, dan bagaimana memproses benang tadi menjadi kain..

Larangan bagi siapapun untuk memelihara ulat ini, walaupun hanya 1 ekor. Hukuman mati bagi yang melanggar.

Sejak saat itu, China mengubah benang dari ulat tadi menjadi kain sutera.

Kain sutera memetakan jalur perdagangan baru bagi China ke seluruh Asia Pasifik dan Eropa. Sampai sekarang.

Tembok Besar China, bangunan besar dan panjang itu, menjadi bagian dari jalur sutera. Siapapun penguasanya, Tembok Besar China tetap tegak, jalur sutera tetap ramai.

Selembar kain sutera sepanjang 5 meter sudah bisa mengangkat seorang warga biasa di Perancis menjadi bangsawan, pada zaman Perang Raja Richard dan Shalahuddin al-Ayyubi di Jerusalem.

Benang sutera itu memetakan siapa yang layak diakui kekayaannya, dan bagaimana pertumpahan darah terjadi.

Tercatat, Jepang dan Arab juga memproduksi kain sutera, namun jalur sutera dan kualitas sutera, ada di tangan China.

Jari Ratu Xi Ling Shi telah lama berhenti. Pandangan menebarkan sutera ke seluruh dunia, masih berjalan sampai sekarang.

Berganti tangan para konsumen yang tidak pernah berhenti, menatap layar, bekerja, dan terhibur dengan Android. Para konsumen Asia Pasifik sedang menggunakan “senjata” yang mereka beli, untuk “berperang” atas nama perdagangan dan kekuasaan, memakai produk dari jalur sutera.

Tembok besar China masih berdiri. Bahkan mereka mempunyai -firewall- (tembok api) yang membentengi komunikasi China dan dunia, demi China Net (internet China).

Produk sutera sekarang adalah Android dan jaringan 5G di mana China selalu melakukan perbaikan dan “siap”.

Hanya saja, sedikit orang yang bertanya bagaimana cara membuat dan menjual. Lebih banyak, orang bertanya, bagaimana cara membeli dan menikmati.

Bukan seekor ulat mengubah dunia. Pandangan yang mendunia dan menjaganya dengan segenap kekuatan, itulah yang bisa mengubah dunia.

Ketegasan, semestinya berada di awal pendirian para pemimpin. Bukan setelah masalah parah terjadi. Ketegasan yang muncul karena visi masa depan. Bukan janji.

Dan semua orang akan mengikuti “visi” yang membuat massa bisa memproduksi. Bukan terus-menerus mengkonsumsi.

Siapapun pemimpinnya.

“Hanya negara yang boleh memelihara ulat ini.” [dm]