in

Keadaan Awal

Dulu miskin, sekarang kaya. Dulu rajin, sekarang malas. Bagaimana melihat “keadaan awal” di balik hancur atau sukses seseorang?

Kita sering dengar cerita, tentang orang kaya, orang pintar, dan keadaan awal mereka. Lebih meyakinkan kalau pencerita ini saksi sejarah orang itu dengan pembuktian kuat.

Yang menarik, bagaimana orang sukses bisa melampaui “keadaan awal” mereka. Dulunya malas baca buku, menjadi orang yang suka baca buku. Dulunya tidak punya jaringan luas, kurang bergaul, sekarang sebaliknya.

“Keadaan awal” yang tidak relevan.

Seperti apa keadaan awal itu?

Memalukan. Pernah gagal. Tidak layak diceritakan. Kurang beruntung. Menyakitkan.

Faktanya, banyak orang tidak tahu keadaan awal kamu. Mereka hanya melihat (dan mengharap) keberhasilan kamu.

Mereka bilang, “Kamu keren. Bagaimana bisa begini?”, ketika kamu berhasil.

Atau bisa jadi keadaan awal kamu sebenarnya penuh kekuatan — sebelum kamu merusaknya.

Keadaan awal kamu, waktu itu, masih sehat (tidak mau merokok), rajin membaca, optimis, terjadwal, tidak terganggu emosi percintaan yang menguras energi, dll.

Dalam keadaan awal manapun, kamu harus melampaui baik-buruk keadaan itu. Teruslah berjalan. Tujuan ada di sana.

“Keadaan awal”, jika kamu sadari sepenuhnya, adalah “sekarang”. Setiap kamu menyadari ” sekarang”, itu akan menjadi keadaan awal. Untuk memulai dan menyusun sesuatu. “Sekarang” sangat kuat, tergantung bagaimana kamu perlakukan “sekarang”.

Mulai sekarang. Sejak sekarang. Saat ini juga. Bukan nanti. Bukan penundaan. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.