in

Perbedaan antara Kebiasaan, Rutinitas, dan Ritual

Mengubah “rutinitas” menjadi kebiasaan dan membuat “ritual” dari hal-hal biasa.

Sebentar, untuk apa kita bicarakan 3 kata ini? Untuk membedakan.

Kebiasaan (habit) dan rutinitas (routine) itu berbeda.

Kalau bisa membedakan, kita bisa merancang rutinitas. Mau produktif, mau lebih mengendalikan waktu kamu, mau mengubah perilaku, semua berawal dari kemampuan membedakan: mana yang merupakan kebiasaan, rutinitas, dan ritual.

Untuk membedakan, coba tanyakan ke diri-sendiri, “Seberapa sadar kamu melakukannya?” dan “Apakah kamu melakukannya dengan sungguh-sungguh?”.

Pembeda kedua hal itu adalah kesadaran dan intensitas.

Kebiasaan itu cenderung otomatis, berawal dari pemicu khusus yang berkaitan. Semakin kuat pemicu itu, semakin menjadi kebiasaan. Kebiasaan memesan kopi, misalnya, bisa dipicu kebutuhan mendapatkan koneksi WiFi.

Rutinitas, membutuhkan latihan sengaja. Pikiran tidak memasuki “mode otomatis”. Contoh rutinitas: yoga, berlatih vokal, membayar listrik di tanggal 20, dll.

Yang terbaik, kalau bisa mengubah rutinitas-baik, menjadi kebiasaan.

James Clear menuliskan Atomic Habits dan Charles Duhigg menuliskan The Power of Habit . Keduanya bermuara kepada lingkaran kebiasaan klasik.

Bagaimana mengubah rutinitas menjadi kebiasaan?

  • Pilih pemicu yang kuat, yang memberitahukan kepada pikiran untuk memulai rutinitas. Lakukan secara rutin. Berikan reward (ganjaran) agar pikiran bisa menerima dan tidak mempertanyakan, sehingga “besok” kamu akan terus melakukan.
  • Membuat isyarat atau pemicu itu mudah. Alarm, tulisan di dinding kamar, atau memasang pengingat, bisa menjadi pemicu. Pikiran belum tentu secara otomatis menerima pemicu itu.
  • Hubungkan dengan hal-hal kecil. Misalnya, dulu saya memiliki rutinitas bermain catur. Untuk bermain catur, saya harus fokus, menunggu mood. Hal-hal yang tidak mudah. Ini saya ubah dengan cara mengaktifkan aplikasi Lichess di Android, agar menjadi website awal yang terbuka ketika saya bangun tidur. Hasilnya, dalam kondisi mood ataupun tidak, saya berani bermain catur.

Singkatnya, tambahkan aktivitas kecil yang menggiring kamu ke arah kebiasaan baru.

Ritual adalah aktivitas yang melibatkan pengalaman subyektif.

Fokus kepada pengalaman, bukan fokus kepada penyelesaian.

Mandi bisa menjadi ritual jika selama mandi kamu terlibat kepada pengalaman subyektif. Makan siang bisa menjadi ritual kalau kamu memasuki sensasi (penginderaan) dan perawatan tubuh yang intensif. Melukis, membersihkan rumah, dll. bisa menjadi ritual, bergantung pada cara kamu mengalami aktivitas itu.

Setiap profesional memiliki ritual.

Ritual merupakan praktek yang lebih bermakna, dibandingkan dengan tujuan sebenarnya. [dm]

What do you think?

Penjual Ketiga

Multitasking Menguras Sumber Daya dan Waktu Kamu