in

Media Uler Serit

Kota-kota kecil, terutama yang Dewan Pers masih lemah, “media uler serit” berkembang pesat. Membuat “seolah-olah media” seperti “media”, bergaya online, suka ngompas dan main kasus.

Faktor utama pemicu maraknya media online, karena membuat website berita itu mudah. Secara teknis, sangat mudah dan relatif murah.

Bermodal uang kurang dari Rp500.000 (limaratus ribu rupiah), setiap orang bisa membuat website dengan domain .com dan hosting 2GB, dengan cPanel sendiri. Kita tinggal cari perusahaan penyedia jasa pembuatan domain (agar dapat alamat dot com) dan hosting (untuk simpan file teks dan foto berita). Kalau sudah online, tinggal install web agar bisa diakses semua orang. Kalau mau lebih murah lagi, namanya custom domain. Ini terjadi ketika kita sudah punya blog gratisan (misalnya dari blogger) kemudian kita beri alamat dot com. Kita tinggal bilang kepada perusahaan penyedia alamat domain, “Saya mau custom domain. Dengan ini, saya beli domain dot com dan minta untuk diarahkan ke alamat blog saya.”. Masalah selesai. Sekarang, kita punya blog dengan alamat dot com.

Yang perlu dicatat di sini, membuat web berita tidak lantas berarti web berita tersebut layak disebut sebagai web berita. Perlu ada kantor, wartawan, standar kerja redaksi, editor yang sunting naskah, dll.

Inipun sering dipoles, agar publik terkesan pada tampilan dan berita yang ada, sehingga menyebut orang yang bekerja di situ sebagai “wartawan” atau “awak media”.

Cara termudah untuk melihat kredensial suatu media berita adalah dengan melihat web dan kualitas berita.

Dewan Pers dan Asosiasi Media Saiber memiliki standar untuk melihat kelayakan suatu media.

Kota-kota kecil, dengan Dewan Pers yang masih lemah, mental liputan acara demi amplop, dan tidak jarang “memeras” pelaku kebijakan, bahkan main kasus, sering terjadi. Saya menyebutnya “media uler serit”. Kecil, bikin gatal, dan bertahan hidup dengan menggerogoti dedaunan yang sedang tumbuh.

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Menjadi Penulis Bayangan

Menambah Subscriber