in

Menjawab 4 Pertanyaan tentang Baca-Buku

Banyak kawan saya bikin komitmen-ulang di 2018. Mau begini, mau begitu. Ada yang menuliskan: “1 minggu baca 1 buku”.

menjawab 4 pertanyaan tentang baca buku
Tetap fokus dalam keadaan tertekan dan rajin mencatat. Butuh arahan, latihan, dan waktu. Saya membaca buku agar bisa berkomunikasi dengan diri saya dari masa depan. (Photo Credit: Annie Spratt from Unsplash)

Kelihatannya mudah: tinggal pilih buku, sisihkan waktu, dan membaca. Percayalah, tidak semudah itu. Yang sering bikin mereka gagal adalah “percaya apa kata tujuan, melupakan apa kata cara”.

Cobalah menyaksikan pengakuan-lama berikut ini, sebagai daftar-periksa:

Ingin punya banyak buku, tetapi belum punya uang

Dari mana gagasan ini berasal? Mungkin karena kamu percaya iklan (ini terjadi jika kamu ingin buku yang belum kamu buka isinya, hanya apa kata resensi buku). Atau mungkin karena kamu lebih memilih menjadi kolektor daripada menjadi pembaca.

Orang yang tidak punya uang, berharap bisa membeli buku, tetapi tidak memproduksi (tidak menghasilkan uang), itu termasuk “konsumen”. Levelnya paling rendah dalam proses produksi. Orang yang merasa bisa bahagia jika membeli, itu terkena shopaholic, kecanduan belanja (buku). Pengikut “pursuit of happiness“: saya melakukan ini, agar dapat itu. Quid pro quo. Dan kebahagiaanya bisa dibeli.

Sudah lama saya mengubah perspektif saya tentang mengkoleksi buku. Banyak orang suka baca buku kertas, terjemahan, saya lebih suka baca ebook edisi asli. Saya punya daftar tempat download ebook, hanya yang pas untuk hobi saya, dan jumlahnya sangat banyak. Dari situs download, torrent, sampai perpustakaan digital.

Kamu bisa menghabiskan buku-buku di perpusnas? Cobalah mendaftar keanggotaan, itu terhubung dengan 30+ perpustakaan digital.

Saya suka download buku. Jika tidak bisa di-download, beri saya kesempatan membaca, akan saya baca dengan sungguh-sungguh.

Kalau studi yang kamu jalankan benar-benar mengharuskan beli buku, barulah beli.

Sudah punya bukunya, tidak [bisa] membacanya

Jangan bilang “belum”. Kamu tidak tahu apa yang terjadi “nanti”. Faktanya, jika memang tidak membacanya, itu karena kamu tidak selesai membacanya.

Ribuan buku tidak berfungsi, kalau kamu tidak tahu bagaimana cara membacanya, apalagi tidak bisa membacanya. Saya lebih suka bersusah-payah mempelajari bahasa, selama 3 bulan, agar setelahnya saya bisa membaca buku-buku berbahasa asing. Membaca itu harus memahami bahasanya. Ada teknik membaca, bisa dipelajari.

Pikiran tidak pernah steril dari gangguan, bahkan saat tidurpun pikiran sebenarnya tetap bekerja. Gangguan smartphone dan ajakan nongkrong, selalu akan datang pada masa-masa kamu harus membaca. Saya bisa membaca buku dalam keadaan tertekan, setelah mempelajari cara “tetap fokus dalam keadaan tertekan”. Ini butuh arahan, latihan lama, dan tekun melakukan. Dengan cara sama, saya bisa menulis artikel sambil ngobrol dengan kawan-kawan saya.

Sudah [bisa] membacanya, tidak bisa mengingat isinya

Pintar tidak berarti mengingat-ulang apa yang kamu baca.

Mengingat hanyalah bagaimana kamu bisa mengaksesnya sewaktu-waktu.

Punya kertas dan alat-tulis? Ada hape? Bacalah sambil mencatat, kalau itu bukan karya fiksi, yang susah diingat. Buat skema, tulis keyword, dan jelaskan dengan bahasa sendiri. Kalau perlu, pakailah buku lain yang memperjelas apa yang kamu baca. 1 buku yang dibaca lama tetapi benar-benar kamu pahami, lebih bermanfaat daripada pamer “saya sudah baca bukunya” tetapi tidak bisa menjelaskan apa yang kamu baca. Jangan menyamakan kualitas dan kerumitan buku.

Setiap buku itu unik. Ingatlah selalu, kamu bisa mencatat. Itulah tujuan diciptakannya tulisan: mencatat, mengingat, mewakili gagasan, menjelaskan ulang.

Bisa mengingat isinya tetapi hidupmu tidak berubah.

Pilih buku yang bagus. Kalau hanya untuk hiburan dan menikmati imajinasi orang lain, saya lebih suka menonton film.

Saya hanya memilih buku yang bisa mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Motivasi saya membaca buku hanya satu: agar bisa berkomunikasi dengan diri saya dari masa depan. Saya meng-upgrade diri saya ke versi yang lebih baik. : )

Sekarang, mari melihat lagi daftar-periksa ini:

[   ] Ingin punya banyak buku, tetapi belum punya uang

[   ] Sudah punya bukunya, tidak [bisa] membacanya

[   ] Sudah [bisa] membacanya, tidak bisa mengingat isinya

[   ] Bisa mengingat isinya tetapi hidupmu tidak berubah

Semoga tidak ada satupun yang kamu cek, setelah melakukan pendekatan berbeda.

What do you think?