in

Membuat Data Lebih Bernilai

Data bernilai karena konteks dan cara kamu membuatnya.

(Photo: Pexels)

Punya nomor telepon orang kaya, belum tentu membantumu memperoleh kekayaan. Berteman dengan selebritas (bukan “selebritis”) tidak menjamin kamu ikut terkenal. Tahu -quote- bagus dari buku atau orang pintar, bukan berarti hidupmu seperti -quote- itu.

Contoh data lain? Membuka Google, membaca artikel, mengakses jurnal ilmiah, belajar dari YouTube, dll. Banyak sekali peluang mengakses data.

Bisakah data itu membuatmu lebih pintar?

Tidak, jika kamu hanya mencari jawaban dan puas dengan jawaban yang kamu temukan. Tidak, jika kamu hanya bertujuan mengerjakan tugas, bukan untuk -passion- kamu. Tidak, jika aktivitasmu “gitu-gitu aja” di media sosial.

Orang tidak menjadi pintar dengan data. Seberapa intim kamu dengan data, itulah yang membuat data menjadi bernilai. Data menjadi bernilai, hanya jika ada kepercayaan dan koneksi. Memang tidaklah mudah.

Yang lebih mudah itu mengirimkan pesan sama ke semua orang, mirip broadcast atau sp#m, sambil berharap dunia lebih cepat berubah karena informasi yang kamu sebarkan. Lebih mudah lagi, menunggu dan mengamati orang lain.

Kesempatan terbuka, namun orang sering memilih menjadi penerus pesan atau diam untuk mengamati dari jauh.

Bystander effect” (efek pengamat) menjadi bawaan media sosial. Melihat tanpa terlibat. Ada orang pintar di daftar teman, jarang menyapa. Merasa ini bukan urusan saya. Kebanyakan orang, lebih suka “menyimak”, berkomentar datar, dan membiarkan data hanya menjadi data.

“Bolehkah saya belajar? Saya ingin bertanya tentang ini..”.

Saya memilih untuk tidak pintar di media sosial, agar bisa terus belajar. [dm]

Skill vs. Bakat Mentah

Freelancer, Banting-Harga