in

Problem Menaikkan Like, Share, dan Follower

Ini bukan tentang “cara cepat” menaikkan like, share, dan follower, melainkan menganalisis apa sebenarnya masalah di balik itu.

 Problem sebenarnya adalah tarik-menarik antara popularitas dan pendapatan. Jadi, mana yang mau dinaikkan: popularitas atau pendapatan?Saya sering mendapatkan pertanyaan #seribudollar dari kawan-kawan di Facebook, “Bagaimana caranya menaikkan follower dan like?”. Untuk apa? Agar website mereka terkenal. Kebanyakan, mereka tidak mengerti, apa itu riset keyword, backlink, algorithma hummingbird, user experience, dll. Kebanyakan pula, content mereka buruk. Tidak membuat perbedaan.

Mereka melihat orang lain, yang bisa terkenal, seperti dengan cara mudah, lalu berkeinginan seperti itu. Keinginan mereka sebenarnya bukan popularitas. Mereka inginkan “earning”. Pendapatan.

Strategi marketing Anda di media sosial sering #salah. Mencari perhatian, bukan mencari hasil. Mencari perhatian itu tidak mendukung produktivitas. Fokus pada “apa sebenarnya yang -menghasilkan-” bukan bagaimana caranya menjadi terkenal.

Untuk apa perhatian jika tidak dapat menghasilkan? Waktu Anda bisa habis hanya untuk mengurus mencari perhatian.

Bayangkan 200 status, 100 komentar, dan 50 mention dalam satu status.

“Perhatian” tidak diciptakan sama. Perhatian selalu butuh penanganan berbeda, tidak bisa disamakan dengan tekan-tombol. Waktu Anda tersita untuk meminta perhatian.

Kapankah Seseorang “Meminta Perhatian”?

Seseorang meminta perhatian ketika meminta audien melakukan apa yang kamu minta. “Share jika Anda peduli.” “Klik Like lalu bagikan.” “Hidup mereka berubah setelah menyebarkan pesan ini. Ayo sebarkan!”. Sekali dua kali, no problem. Setelah itu, Anda bisa masuk daftar-hitam, termasuk orang yang dibenci karena bertingkah seperti spammer.

Seseorang meminta perhatian ketika menginterupsi audien dengan konten yang tidak mereka inginkan. “Maaf, sekedar meneruskan BC.” “Hanya bagi yang berminat..” “Bagi yang suka gift menarik, klik link ini.”

Seseorang meminta perhatian ketika lebih banyak meminta kepada audien, daripada melakukan untuk audien. “Please, Like ya..” “Buktikan Anda peduli dengan klik link ini..”.

Seseorang meminta perhatian ketika cemburu melihat orang lain yang berhasil, tanpa mau mempercantik content.

Mau Mendapatkan Hasil? Lakukan Sebaliknya.

Berikan tawaran untuk pemakai media sosial. Buatlah konten kamu bernilai. Buat konten sungguhan, bukan copy-edit.

Nilai media sosial hanya bisa dibuka (unlock) kalau kamu menawarkan #nilai (kegunaan, fungsi) dan memberi cara menyelesaikan masalah.

Mulailah membuat pertanyaan untuk diri-sendiri. Contoh pertanyaan untuk diri-sendiri: “Mengapa” tulisan atau produk ini bagus? Apakah “cara ini” lebih baik, serta bisa menghemat waktu dan biaya? Itulah pertanyaannya.

Tidak hanya artikel dan berita. Produk juga demikian. Kamu akan dicari, jika kamu bicara tentang: kebutuhan, gagasan, ketakutan, harapan, dan pengalaman.

Itulah yang disebut “perbincangan”. Media sosial tempatnya perbincangan, secara langsung.

Persoalannya, bukan apakah yang Anda share itu baik atau buruk, bukan pula apakah yang Anda share itu bermanfaat atau tidak, melainkan: apakah yang Anda share itu #berfungsi atau tidak. [md]

What do you think?