(Credit: Freepik)

Dalam Masa Menunggu

Menunggu tanpa perlu berputar. Menunggu secara produktif.

Kawan saya pernah bertanya, “Kamu tidak ingin menerbitkan buku?”. Sejak tahun 1999 saya punya jawaban tegas, “Tidak.”. Saya mengkultivasi budaya menulis, agar setiap suara lebih terdengar, namun tidak pernah terbesit untuk mencetak buku.

Buku kertas bertentangan dengan pandangan lingkungan-hidup saya. Selain itu, buku kertas itu proses memutar yang sangat lama dalam komunikasi.

Saya membaca artikel-artikel panjang tulisan seorang penulis. Kemudian ia membuat rencana, menerbitkan buku. Sebagian sudah tertulis di web penulis itu, sedikit preview, dan selebihnya ada di buku yang akan terbit.

Dari artikel dengan category sama, sampai menjadi buku, sekitar setahun. Saya baca versi ebook. Sekitar 3 tahun, baru ada versi terjemahan bahasa Indonesia. Saya tidak baca.

Banyak orang beli buku kertas ini. Kemudian, keluar edisi baru, dari versi asli berbahasa Inggris.

Betapa panjang, dari artikel menjadi buku, dan terjemahan.

Kamu bisa menulis status Facebook, sekitar 30 detik. Setidaknya, 30% kawanmu berkesempatan membaca itu, namun 30% tidak dapat membaca itu.

Bagaimana kalau kamu hanya berkesempatan menuliskan status Facebook 1 tahun sekali, seperti orang menulis buku?

Yang perlu kamu bayangkan adalah “biaya fokus”. Seberapa kuat kamu berkonsentrasi untuk mengatakan sesuatu?

Bukan berarti status Facebook itu buruk. Banyak status yang terbaca lebih banyak dibandingkan jumlah pembaca buku best seller.

Menunggu dan berpikir, membuat kamu lebih fokus. Menunggu membuatmu tidak terganggu “jalan memutar”.

Jalan memutar, berasal dari hal-hal yang memblokir kreativitas. Banyak orang belum bisa memanfaatkan kemudahan menulis. Mereka memilih membaca, membaca, dan membaca.

Mereka tidak memikirkan 1 paragraf, yang mengesankan, dari hasil berpikir dan “menunggu”.

Mereka memikirkan “jalan memutar” bernama popularitas, viral, share, dan siapa saja yang akan berkomentar. Jalan memutar yang membuat kamu tidak berani mengukur kualitasmu sendiri.

Batas waktu, tidaklah menakutkan. Tidak berpikir dan tidak melakukan, efeknya lebih menakutkan.

Kamu masih punya waktu panjang, dan setiap hari bisa kamu perbaiki. Cobalah pikirkan 1 pekerjaan besok, atau pertemuan dengan kawan, yang akan kamu naikkan kualitasnya.

Kamu sangat ingin melakukan itu sekarang, namun, kamu baru bisa lakukan besok.

Kamu sedang menunggu.

Rencanakan. Nikmati waktu “sekarang” untuk fokus dan membuat pekerjaanmu ditunggu orang.

Setiap hari kamu punya itu. Dalam masa menunggu, kamu punya itu. [dm]