in

Mereka Senang di “Ruang Gema”

“Ruang gema” terjadi ketika kamu mendengar suaramu sendiri. Kamu dalam isolasi, bersama orang-orang dengan suara atau pilihan sama.

“Ruang gema” terjadi ketika kamu mendengar suaramu sendiri. Kamu dalam isolasi, bersama orang-orang dengan suara atau pilihan sama.

Ruang gema menghasilkan bias, di mana pikiran tidak lagi obyektif, tidak mampu mendengarkan suara lain, yang berbeda. Bahkan tidak melihat dunia secara apa adanya, dunia yang lebih luas.

Banyak orang terkumpul, terpisah dari wacana konvensional, karena alasan satu hobi, satu pandangan politik, atau sebenarnya mereka ini jenis konsumen produk yang sama. Produk yang tidak berlabel industri.

Produk itu bisa bernama “malas baca”, “fast food pinggir jalan”, “resistance” (hambatan) — dalam pengertian Steven Pressfield, atau berkebutuhan sama.

Mengapa mereka senang di ruang gema?

Mereka senang berada di group Facebook yang sama, karena menemukan status sosial-intelektual, menjalin afiliasi kesukuan, dengan peraturan ketat. Kadang semakin kuat ketika “ancaman” datang. Mereka bisa merasa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain. Sekumpulan penggemar violin, yang terkena bias “ruang gema”, bisa jadi tidak menganggap black metal sebagai musik, karena genre itu di luar kelompok mereka.

Ruang gema bermasalah jika alasan berkumpul sudah berisi masalah. Banyak orang memilih mengisolasi diri, atas nama hobi dan kecocokan komunikasi, yang “.. paling mengerti aku..”.

Bagaimana mengidentifikasi apakah seseorang sedang berada di ruang gema? Kita bisa mendeteksi, sedang berada dalam bias berpikir “ruang gema” dengan mengidentifikasi diri, melalui beberapa pertanyaan.

Apakah ini mengubah cara-lama dalam cara saya berpikir? Apakah saya terisolasi dari fakta atau opini yang berlawanan? Apakah di ruangan ini kita sedang mengatasi salah satu masalah mendasar dalam hidup? Apakah terjadi percakapan yang aman dan nyaman, tanpa harus adu kepintaran dalam debat sengit? Apakah lebih banyak orang menjadi penonton?

Jangan berhenti-tinggal di tongkrongan yang sama, organisasi yang sejalan, atau lingkaran pertemanan yang membentuk “ruang gema”. Tunjukkan kepada diri sendiri bahwa..

Saya bisa salah. Dunia yang apa adanya adalah dunia yang luas. Banyak orang pintar yang belum kamu temui. Dan ketika sejenak kamu merasa sangat nyaman di suatu ruang, katakan kepada diri sendiri, “Sebentar lagi, kita teruskan perjalanan ke tempat lain.”. Keluar dari “ruang gema”. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Daftar Pintasan Saya

Bentuk-bentuk “Hambatan Kreatif” (Resistance)