in

Negatif

Negatif itu soal konteks. Tidak ada negatif 24 jam.

“Hindari hal-hal negatif.” Kata negatif, kalimat negatif, tindakan negatif, manusia negatif. Tidak bisa, tidak semudah itu. Saya punya perspektif sendiri tentang apa itu “negatif”.

Sekalipun saya punya “prioritas hari ini” untuk selalu menghindari kata dan kalimat negatif, ini sangat sulit saya lakukan. Yang negatif itu bukan hanya “tidak”. Apapun yang bisa memicu negativitas, penilaian negatif, dan perspektif negatif.

Tidak. Bukan. Tidak pernah. Tidak akan. Jangan. Benci. Berat. Susah. Kecewa. Berhenti. Hampir tidak pernah. Habis. Kurang. Menipis. Menurun. Muram. dst.

Negatif bukan apa kata konsensus dan umumnya orang. Negatif itu negatif menurut prinsip dan “mental model” saya.

Misalnya, saya membuat artikel, dengan prinsip harus “menhindari resiko dan kerugian seminimal mungkin”, ketika menuliskan artikel berjudul “Mempercepat Windows 10”, tentu tetap memakai “Jangan sembarangan download aplikasi” dan “Blokir alamat jahat dengan cara berikut..”. Justru harus demikian. Kalau sedang desain, dengan style “negative space“, saya harus negatif.

Saya tidak bosa menghindari, hanya pelan-pelan membatasi kata dan kalimat yang menurut saya “negatif”. Kata negatif membentuk kalimat negatif.

Solusinya, sebelum membuat kalimat, saya bertanya ke diri sendiri, “Haruskah dengan pilihan kata dan bentuk kalimat seperti ini? Perlukah saya mengubahnya agar tidak bermakna negatif? Kalau saya membaca atau mendengarnya, sebagai orang lain, atau mengetahui ini 10 hari sampai 10 tahun ke depan, seperti apa efeknya?”. Itu hanya pada tulisan tertentu, karena filter seperti ini sangat berat diterapkan.

Mengubah keadaan, bisa kamu mulai dengan mengubah kalimat menjadi lebih positif. Akibatnya akan lebih baik dalam berkomunikasi dan mengatasi masalah.

Banyak orang merasa sopan ketika sudah memakai kata “Tolong..”, padahal belum tentu makna postif ada di kata ini. Tolong tetaplah mengandung perintah. “Tolong, enyahlah dari hadapan saya. Tolong, beri saya uang sejuta kalau kamu kawan saya.” Ungkapan “Saya mohon pemgertiannya..” juga demikian.

Kadang kamu perlu lebih tegas, agar pesan tidak terbungkus dengan norma yang cenderung menyamakan bentuk pesan.

Jadi, saya memilih mengganti. “Uang saya sudah habis” dan “Beri saya pekerjaan agar dapat uang” itu rasanya sama-sama negatif walaupun bentuk kalimatnya positif. Nggak enak didengar. Kamu bisa ganti dengan “Saya sedang bekerja keras untuk menaikkan saldo tabungan saya”.

Positif atau negatif, lebih sering persoalan konteks.

“Sedang dalam perbaikan. Kami akan kabari kalau sudah normal..” itu mirip larangan memakai layanan dan nggak jelas kapan akan normal. Bisa kamu ganti dengan “Tim kami yang hebat sedang meningkatkan layanan. Jam 23.00 semua kembali normal.”. Tulisan “Anda sopan kami segan” yang dituliskan di gang atau di atas aspal, sepertinya ajakan saling pemgertian, namun yang saya rasakan itu “kekerasan verbal”. Warning yang mengancam. Mana nada ramah dan jenaka ada di situ? Mereka bisa pakai ikon atau sunting pesan agar lebih ramah-anak.

Negativitas bisa dinetralkan dengan bahasa visual, pemakaian ikon, dan desain yang lebih ramah. Ini tugas profesional seniman dan desainer. Visual lebih mudah diingat orang, lebih menjangkau semua bahasa dan budaya daripada kata-kata. Ikon ada di label baju (gambar setrika), makanan (orang membuang sampah), rambu-rambu lalu-lintas, dll.

Tindakan persuasif terjadi dari kata dan kalimat bernada positif.

Orang yang memakai “tidak” dan negativitas verbal, kurang mau bekerja sama. Lebih sering mengelak, dunia harus mengerti dirinya, dan segala hal yang terjadi dianggap berkaiyan dengan dirinya. Atau “egois”. Mereka tidak mau berubah, apalagi melawan kebiasaan buruknya kemarin. “Saya tidak punya waktu”, gantilah menjadi “Saya sedang memcari waktu” (sebagai tindakan, bukan sebagai apologi). “Saya tidak kuat lama membaca buku dan mudah lupa setelah baca buku” menjadi “Saya masih dalam proses mengelola waktu agar punya waktu-baca lebih banyak, dan sedang memilih metode yang tepat agar tetap ingat buku yang pernah saya baca”.

Seperti halnya kata dan kalimat negatif, begitu pula tindakan negatif dan manusia negatif. Bukan “yang mana”, tetapi “kapan dan di mana”.

Tidak ada orang yang negatif 24 jam. Negatif itu konteks. Saya punya kawan-kawan yang dianggap misfit oleh masyarakat, dianggap nggak cocok hidup dengan orang lain, tetapi memiliki sisi hidup yang sangat ingin saya teladani. Dia tidak negatif, menurut saya.

Seorang kawan yang menyenangkan ketika bercanda, saya masukkan ke daftar “orang yang sedang saya hindari” ketika saya melakukan aktivitas bekerja atau membaca. Dia hanya “negatif” ketika aktivitas dan tujuan saya “bekerja”.

Menolong orang itu negatif ketika orang itu tidak masuk ke dalam prioritasmu sekarang.

Berkatalah “tidak” ketika “tidak” harus menjadi “tidak”. Pada konteks ruang dan waktu tepat. Hindari atau ubah bentuknya, menjadi positif, menjadi tindakan. Sebab bahasa memiliki kekuatan mengubah keadaan, menjadi lebih  baik. Dan tidak ada yang negatif 24 jam. Tidak ada kalimat “positif” yang berlaku dalam semua konteks komunikasi. [dm]

What do you think?

247 points
Upvote Downvote