in

Omicron dan Entropi

Setelah upgrade masker, lihat lagi kedalaman pengalaman keseharian, yang mungkin semakin dangkal.

Penguncian kedua. Setelah 2 tahun lebih. Omicron datang. Upgrade masker.

Masih banyak orang yang belum tahu tentang spesifikasi Omicron dan bagaimana survive menghadapi Omicron. Seperti itulah “entropi”, seperti dalam hukum termodinamika. Energi besar menuju energi rendah.

Bukan penyakitnya, tetapi pengalaman manusia. Semakin merendah, dangkal.

Banyak orang dalam kondisi entropisized, terentropikan. Hubungan yang lebih kacau, lebih dekat dengan kematian. Banyak orang hidup dan mati secara salah di masa pandemi ini. Ada jalan pintas menuju kebebasan, seperti berteriak di media sosial, “Jangan takut!”, “Bukankah semua ini takdir?”.

Ini yang sebenarnya terjadi pada masa pandemi: orang tidak lagi dalam dilema mana yang perlu prioritas, sebaliknya, apa yang selama ini kita anggap biasa, ternyata sangat penting.

Dalam perbincangan biasa, saya bertanya kepada kawan saya, “Apa yang terjadi padamu 2 minggu yang lalu?”. Kawan saya yang lain, menjawab, “Seperti 2 minggu sebelumnya.”. Kawan yang saya tanya tadi, mengiyakan. “Benar. Dan itu sudah lebih dari 2 tahun.”. Entropi terjadi.

Tidak perlu pura-pura lagi. Kita memang sedang bersedih. Ada pandemi di balik tawa kita. Sering merasakan hidup di antara tendensi kolektif, memberi penekanan pada “harapan” (hope) dan “ketahanan” (defense), happy ending, motivasi, sambil mengatakan, “Semuanya baik-baik saja, ini akan lewat sendiri, entah bagaimana caranya..”.

Volume obsesi kolektif kita naik-turun. Ketika pertanyaan itu tidak ke sosial tetapi ke diri sendiri, kegelisahan terjadi. Kepada sosial, kita mungkin terlalu sering melarikan-diri, menyerah pada kekuatan entah, namun ketika kamu harus menjawab pertanyaanmu sendiri, berkaitan dengan obsesi kolektif, kita memilih diam.

“Saya merasa terkekang, harus berusaha keras, kalau bisa dengan cara yang dramatis,” katanya. Dia tahu sendiri, caranya menurunkan berat badan serta memenuhi ekspektasi pasangannya, tidak pernah berhasil.

“Memenuhi obsesi pasangan”, menjadi beban kolektif sebagian besar orang, seperti keinginan agar pandemi segera lewat.

Orang menjadi lamban belajar-untuk berdamai dengan keberadaan yang sulit.

Ternyata, ada 1 pelajaran yang saya dapatkan ketika Omicron datang. Keadaan di mana orang sudah berpengalaman 2 tahun menghadapi pandemi sebelumnya.

Masalah yang kita hadapi, bukanlah kita tidak mampu mengakui kesulitan atau kesedihan, melainkan kita sering tidak mampu mempertahankan ide-ide yang sedang bersaing, ketika sedang dalam kesedihan. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.