in

Pasar adalah Medan Perang

Semua ada di pasar. Watak pasar, tidak pernah lelah mencari peluang.

(Photo: Pexels, 2977435)

Semua ada di pasar. Watak pasar, tidak pernah lelah mencari peluang.

Bagi orang Asia, pasar adalah medan perang.

Bermilyar-milyar orang berdagang. Ada “jalur sutra”, pola gelap, mata-mata industri, konsumen yang “diciptakan”, dan produk yang terus mengalir.

Pasar tempat orang membawa obor, hendak membakar surga dan neraka Tuhan, mendevaluasi nilai-nilai. Atau justru menciptakan dan mengakui nilai-nilai baru.

Pasar tempat “budaya” bersilangan, berselisih-paham. Mengirim dan dikirim. Pasar tidak mengenal waktu, tidak mengakui proporsi.

Kita memiliki senjata untuk bertahan, di tengah pasar yang tak-menentu, berupa “pembatas” bernama “kepemimpinan” (leadership).

Bukan kekuasaan.

Ketika pandemi COVID-19 menggiring orang #dirumahsaja; ketika negara berperan sebagai korporasi farmasi; ketika statistik ditulis-ulang melalui BPJS dan bantuan; ketika 5G siap diterapkan di Asia Pasific; ketika setiap sekolah me-register dirinya melalui akun Office 365, Google Meet, dan Zoom; ketika selera kita bisa dilihat dari akun medsos; ketika webinar ngehit; ketika online shop, transportasi online, dan marketplace sudah berperan sebagai bank; ketika cara beribadah berada di ambang adaptasi “darurat”; ketika multinational corporation sudah lintas negara; ketika pekerjaan-pekerjaan baru muncul; dan ketika informasi sudah menjadi mata-uang, maka..

.. harapan awal kita hanya kepada peran para pemimpin.

Merekalah yang bisa memerintahkan pasukan untuk bergerak, berdamai, atau bertahan. Tenang memasuki pasar. Bisa menciptakan pasar. Bermain di pasar. [dm]

Selfie, Mekanisme Pertahanan Diri

Hanya Negara yang Boleh Memelihara Ulat Ini