in

Ketika Kamu Bertanya, “Apa yang Harus Saya Lakukan?”

Jangan lupa bertanya, “Bagaimana saya akan dikenang besok?”.

Pertanyaan yang tepat. Bisa mengubah hidup. Membuat keputusan terbaik. Membuat saya mendapatkan sesuatu, dari hari-hari yang sudah lewat.

“Seperti apa saya di masa depan?”.

Seminggu, sebulan, setahu mendatang. Visualkan dirimu di masa depan. Dia akan berterima kasih kepadamu, kalau sekarang kamu persiapkan diri.

Masa depan penuh harapan, peluang, kemungkinan. Orang sukses bisa membedakan, apa yang “saya ingin” dan apa yang “saya akan” lakukan. Orang sukses tidak “fixed”; mereka tumbuh.

Cobalah konsisten bukan seperti kamu kemarin, tetapi konsisten dengan apa yang kamu inginkan.

Sekarang saya belum bisa pemrograman Python, namun diri saya sebulan lagi, berpeluang bisa. Saya sebulan lagi, berbeda dengan saya yang sekarang dan kemarin.

“Kalau kamu tidak berkesempatan share apa yang kamu lakukan di media sosial, apakah kamu akan tetap lakukan?”.

Hari ini, medsos tutup. Mungkin selamanya. Apa yang kamu lakukan? Kebanyakan orang, terjebak dalam kesibukan mengabarkan “sedang apa” dan “di mana” mereka sekarang. Mereka ingin membuktikan (atau menaikkan) harga diri. Pamer pencapaian. Mencari validasi. Butuh pengakuan. Melakukan sesuatu “untuk” orang lain, agar dilihat orang lain. Berhentilah dari jebakan kesibukan. Selalu ada perjuangan mengalahkan diri kamu sekarang, agar kamu mencapai tujuan lebih tinggi.

Kalau kamu bisa menjawab pertanyaan di atas, kamu jadi tahu motivasi dan tujuan kamu sebenarnya. Sebentar, saya ingin bertanya lagi, “Apa sebenarnya yang sangat kamu sukai, namun tidak ingin kamu tunjukkan kepada orang lain di media sosial?”.

Kurang 1 jam lagi, saya akan presentasi. ” Seperti apa saya di 1 jam mendatang?”.

“Bisakah saya kendalikan kerusakan?”

Dalam arti luas.

Apa yang terjadi 1 tahun mendatang jika setiap hari saya mengkonsumsi minuman saset? Bagaimana cara saya memperbaiki kemampuan membuat keputusan? Bagaimana agar kuota data saya tidak cepat habis? Saya suka mencegah kerusakan. Saya terobsesi untuk mencari cara yang “lebih baik” dan “lebih cepat” daripada sebelumnya.

“Kenapa menunggu?”

Menunggu, bagian dari “resistance”. Pemblokir langkah. Sering dibenarkan dengan alasan yang seolah-olah masuk akal, sampai kamu tidak jadi melakukan itu. Musuh utama orang kreatif. Menunggu, menunda, putus asa (ini juga penundaan), menceritakan terus-menerus, semua itu berarti “berhenti”. Menunggu adalah berhenti yang kamu benarkan.

“Bagaimana saya akan dikenang besok?”

Oleh diri sendiri. Saya tidak butuh pengakuan orang lain. Namun saya memiliki tanggung jawab, akan seperti apa saya besok di mata anak dan keturunan saya.

Waktu selalu berlalu dan sebenarnya tidak gratis, jika kamu mau pertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.