in

Standar 2-Pintu Perempuan

Rahasia mengapa banyak lelaki gagal (dan kecewa) ketika perempuan tidak mencintai dirinya. Spoiler: bukan cerita pribadi.

Perempuan memasuki satu kotak, lewat 2 pintu pilihan: pintu pertemanan atau pintu romantis. Perempuan punya batas jelas.

Perempuan bisa menganggap seorang lelaki itu ideal, terlalu tinggi bagi standarnya, sekaligus membuat batas, “Kami sebatas berteman, bukan kekasih.”.

Perempuan bisa terbuka dan berkata, “Betapa senang seandainya punya pacar -sebagaimana- karakter di film Korea itu.” Perempuan tidak menyukai pemainnya, melainkan menyukai karakter di film itu.

Standar lelaki, dengan satu pintu, sangat berbeda. Lelaki bisa tertarik kepada perempuan berpenampilan menarik, seksi, dan memenuhi standar fantasi lelaki.

Lelaki bisa bertanya kepada kawannya, yang baru saja berkencan, “Sudah kamu ajak tidur?” atau “Kapan kamu akan ajak ia tidur?”.

Lelaki tidak memiliki standar tinggi tentang perempuan. Fisik itu utama. Seorang pangeran bisa memperristeri gadis desa, bukan hanya terjadi dalam dongeng.

Perempuan berpikir strategis, jangka panjang, dan membangun visi masa depan. Apa yang akan terjadi jika saya “selamanya” dengan lelaki yang bukan karakter film Korea ini? Atau jika ada ajakan kencan singkat, ia akan berpikir, “Apa konsekuensi negatif yang bisa terjadi?”.

Perempuan tidak mau beban, tidak mau berhutang budi, tidak mau ada pamrih dari seorang lelaki. Perempuan tidak suka quid pro quo, beri ini dapat itu, terkait dengan perasaan. Ingat: perasaan.

Konsekuensi negatif bernama “berakhirnya pertemanan” itu sangat menyakitkan bagi perempuan.

Ketika confirm pertemanan, perempuan “menebak” atau bertanya ke sekeliling, “Siapa orang ini? Seperti apa orangnya? Apa pekerjaannya?”.

Perempuan melihat seseorang (lelaki ini) sebagai “entity”, yang terhubung, seperti titik dengan kait sangat banyak. Percayalah, mental ini membuat perempuan sering “nggak tega” membalas meskipun disakiti, atau sangat memfilter siapa yang boleh masuk ke lantainya.

Kalau “orang ini” sudah di batas teman, ya sebatas teman. Kalau masuk ke kotak romantis, lain lagi.

Sangat salah kalau kamu bertanya, “Kenapa kamu mau menjadi pacar lelaki yang nggak ganteng itu?”. Itu sama sekali bukan urusanmu. Perempuan punya alasan terkait non-fisik, yang membuatnya memilih lelaki itu. Dan kalau bicara fisik, jangan kepada perempuan. Mereka ini makhluk yang paling perhatian dan memiliki kesadaran fisik lebih tinggi dibandingkan lelaki.

Di mana masalah sebenarnya?

Ini masalahnya. Standar dan arah yang berbeda, perlu komunikasi lebih baik. Jangan main paksa.

Beberapa pertanyaan lelaki, terdengar sangat bodoh di telinga perempuan:

  • Apa alasanmu tidak mau menjadi pacarku?
  • Mengapa kamu tidak mau tidur denganku?

Perempuan akan berkata kepada sesama perempuan, atau kepada kawan dekatmya, atau kepada dirinya sendiri:

  • Bukankah ereksi itu urusan lelaki?
  • Mengapa arah pembicaraan lelaki selalu ke tidur bersama?

Kemudian, perempuan memperpanjang daftar antisipasi trauma. Daftar yang selalu semakin panjang, karena perempuan terkejut dengan sikap lelaki.

Dan bukan spoiler, sikap datang dari prinsip, mental, serta lingkungan lelaki itu.

“Katanya bergelar X, ternyata omongnya kotor.”

Kesimpulan perempuan, berdasarkan pengalaman.

Tidak semua lelaki itu berpikiran kotor. Perempuan tidak membuat kesimpulan itu. Lelaki boleh bangga, kalau mereka merasa berpikiran kotor. Perempuan tidak peduli itu. Perempuan mengatakan, “Sikap brengsek seorang lelaki adalah masalah lelaki itu sendiri.”

Benar. Sama sekali bukan perempuan yang perlu membereskan masalah lelaki itu.

Perempuan gigih dengan standar yang mereka tetapkan sendiri, misalnya, “Saya tidak bisa mencintai lelaki pemabuk”, atau penjudi, atau yang bermata nakal ketika melihat perempuan cantik, dan masiih banyak lagi. Harap diingat, ini urusan perempuan. Jangan memintanya untuk ubah standar. Sama seperti ketika  ada seorang lelaki mudah ereksi, dan mengajak perempuan tidur, itu urusan lelaki.

Jangan marah kalau ketemu lelaki bremgsek. Sekaligus, jangan memaksa perempuan menurunkan standar agar menuruti lelaki. Tidak perlu mengejek, meminta mereka menurunkan standar, apalagi menyamakan seorang perempuan seperti perempuan lain.

Seorang perempuan akan senang ketika kamu memujinya cantik. Mereka lebih senang jika standar kamu dalam melihat kecantikan perempuan ini, bukan semata-mata pada hasil.

“Saya tidak bisa membayangkan, berapa ratus jam kamu habiskan, berapa jenis latihan yang kamu jalani, untuk selalu tampil prima. Begitu kamu masuk ke ruangan ini, lihatlah, suasana berubah menjadi lebih cerah.”.

Setiap orang menyembunyikan peperangan yang tidak ingin mereka perlihatkan kepada orang lain.

Menjadi cantik itu pilihan, melalui perjuangan. Menjadi seksi atau bukan, sama sekali tidak bergantung kepada cara lelaki memandamg mereka. Wajah perempuan adalah milik perempuan.

Standar yang mereka buat, untuk diri mereka sendiri, agar nyaman ketika membawa dirinya. Di hadapan siapapun. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Menunjukkan Konsekuensi dan Dampak Negatif

Apa yang Bisa Kamu Tulis di Catatan Harian