in

Standar Internal, Tekanan Eksternal

Bekerja tanpa tekanan dari luar (termasuk dari bos kamu), bukan berarti kamu terbebas dari tekanan. Arti sebenarnya, kamu sudah punya standar internal, di pekerjaan kamu.

Kasus yang sering terjadi dan terlihat sederhana. Pada suatu waktu, kamu melihat jam, acara kurang 10 menit lagi. Kemudian kamu mengebut, agar tidak terlambat.

Apa yang membuat kamu lebih cepat dalam berkendara ketika itu? Karena kamu khawatir akan terlambat, ataukah tekanan eksternal yang datang (dari jam), sehingga kamu harus bergegas?”.

Tekanan eksternal itu bagus, ketika kamu melihat jam yang mendesak, bukan karena kamu tidak ingin terlambat. Tekanan eksternal bagus, ketika bisa memperbaiki kualitas pekerjaan. Dalam cerita ini, mendorong kita untuk disiplin dan on-time. Pemain gitar, yang sedang mendalami “speed”, bisa memakai pewaktu (timer) berupa rokok menyala. Saya menguji kecepatan menulis, dengan memasang pomodoro.

Yang terbaik, kalau kita terbebas dari tekanan eksternal seperti itu, karena kita sudah menetapkan standar, misalnya, “Datang 5 menit sebelum acara dimulai.”. Kalau sudah terbiasa, kamu tidak perlu pomodoro. Ada atau tidak ada pewaktu, kamu sudah terbiasa cepat.

Kita sering gagal karena memberikan ruang toleransi, kepada diri sendiri, sampai tidak mau merubahnya, alias memakai standar yang tidak layak. Standar kita, jika bagus, tidak akan terusik oleh tekanan eksternal.

*) Menganggap orang lain terbiasa terlambat, akan membiarkan semua orang terlambat. Menganggap “segini sudah cukup..”, tidak menjanjikan perubahan berarti. Tetapkan standar internal kamu, agar bebas dari tekanan eksternal.

Bekerja tanpa tekanan dari luar (termasuk dari bos kamu), bukan berarti kamu terbebas dari tekanan. Arti sebenarnya, kamu sudah punya standar internal, di pekerjaan kamu. “Tulisan ini tidak untuk di-publish, namun berdasarkan standar internal saya, tulisan ini tidak boleh ada typo.”.

Standar internal harus lebih kuat dari tekanan eksternal.

Terutama, jika kamu bekerja tanpa bos. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Perbedaan Antara Intelektual dan Orang Pintar

Menjual dengan Kebenaran dan Harapan