seni dan pertanian
Tradisi gumbrengan, tradisi meminta maaf. Mar belajar dari ritual dan seni tradisional. Memisahkan seni dari ritual, akhirnya memisahkan pertanian dari seni. (Photo: kabarhandayani)
in

Strategi Memisahkan Seni dari Pertanian

Bisakah melihat Indonesia sebagai negara agraris melalui seni tradisional dan pertunjukan?

Petani Kehilangan Lahan

Menurut data National Geographic Indonesia, dalam 1 dekade terakhir, sebanyak 1,5 juta petani- lahan telah alih-profesi menjadi bukan-petani. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat. Penyebab alih-profesi ini, karena beberapa hal: lahan dijual, lahan dialihfungsikan, dan ketidakmampuan menggarap lahan. Jumlah tersebut, tentu saja bersamaan dengan meningkatnya pendirian pabrik dan perumahan, serta menurunnya ketahanan pangan. Indonesia semakin kekurangan lahan, kekurangan pangan, dan ketergantungan tinggi padaimport.

Tontonan tanpa Pertanian

Generasi muda Indonesia semakin jauh dari dunia pertanian. Tontonan macam apakah yang semakin mendekatkan generasi muda pada dunia pertanian? Cobalah menengoknya di televisi atau pertunjukan seni di sekitar kita. Dunia hiburan dan kesenian, pelan-pelan terpisah dari pertanian.

Benteng itu Bernama Seni Tradisional

Saya sempat mengikuti musim panen di sebuah wilayah pedesaan, di mana beberapa desa dalam waktu berdekatan diselenggarakan perayaan desa. Orang-orang berdatangan, berdoa bersama, dipimpin pemuka adat dan kiai, setelah itu pesta dimulai. Pemandangannya hampir sama, hiburannya berbeda-beda. Ada gelaran campursari, ketoprak di tempat lain, wayang kulit, masih terasa “teks” pertanian di sana.

Moment panen masih disinggung, sebatas kata-kata. Orasi para tokoh masyarakat yang diselipkan dalam acara, kelihatan sebagai lips service, di hadapan para tamu dan nenek-moyang pendahulu di desa-desa itu.

Begitu pula, jajanan khas yang disajikan masih eco-friendly, ramah lingkungan. Jajanan yang belum mengenal kemasan instan, masih berbungkus daun, tidak difabrikasi dengan distribusi pasar swalayan ataupun mini-market. Sajian makanan yang membutuhkan “kedatangan” dan “perjamuan”, kadang hanya ada di acara tradisional tahunan seperti sedekah bumi, merti desa, dll.
Aksesories dan tata panggung yang disajikan, masih pula mendekatkan para penikmatnya dengan hasil-hasil pertanian, seperti penggunaan janur, kelapa, dan beberapa hasil bumi.
Pemakaian kendi, “keprak” (kentongan), buah-buahan, yang masuk dan membentuk cerita di atas panggung, juga masih kental dalam pertunjukan ketoprak tradisional. Sayangnya, grup ketoprak tradisional di daerah pantura, semakin terkikis.

Kota Rembang, misalnya, yang pernah memiliki 20+ group ketoprak, semakin hari semakin kehabisan pemain dan tanggapan. Beberapa grup mencoba “beradaptasi” dengan memasukkan musik koplo dan organ tunggal di adegan “dagelan” atau “perang” di atas panggung.

Sekarang, acara perayaan terkait pertanian, mungkin karena dana ditanggung bersama, lebih memilih paket instan (siap saji) dan sedang ngetren, seperti koplo. Terlepas dari kontroversi moral dan estetika, musik koplo tidak memerlukan seni rupa pertunjukan yang berasal dari dunia pertanian. Sebatas adlib, pesan tuan rumah, dan pemajangan tulisan di banner, mungkin masih ada. Videonya tentu beredar ke mana-mana, orang melihat seperti apa tampilannya.

Seni Tradisional “Melawan” Seni Modern

Seni tradisional berpangkal pada keselamatan manusia dan sinergi hubungan manusia dan alam. Seni tradisional mengabadikan momen berbentuk pengulangan mitos, pada titik-titik waktu tertentu, agar manusia meresap ke dalam diri, memasuki kedalaman diri, dengan cara membangun hubungan triadik: manusia, alam, dan Yang Transenden.

Manusia tradisional mengalami hidup dan sejarahnya dengan mengulang dan mendalami. Manusia tradisional “menaklukkan” keganasan alam dengan memasuki alam sekaligus toleran terhadap alam.

Seni modern, sebaliknya, berpijak pada penjelajahan dan kebebasan. Seni modern bebas memasukkan “diksi” dan “narasi” baru, sekalipun itu asing bagi diri manusia. Seni modern lebih suka memadukan (kolaborasi), mengawinkan bentuk, dan menghasilkan karya-karya hybrid, hasil persilangan. Anda bisa melihatnya pada bentuk-bentuk “dance”, musik modern, seni rupa modern, teater kampus, dll.

Seni, Ritus, Gunung

Setiap hari, di tahun 204, saya berjalan-jalan, di Borobudur dan Magelang, kawasan yang terlalu banyak pepohonan dan pertanian. Sangat agraris. Ada ratusan kelompok kesenian tradisional. Mengukurnya, mudah saja: dalam acara parade budaya atau festival, setiap desa punya grup kesenian yang andil dalam acara.

Lebih dari 50% penduduk Borobudur merupakan pelaku seni, mulai dari kalangan anak muda sampai orang tua. Kesenian tradisional di Borobudur dan Magelang, terkelola dari tingkat Kabupaten dan Kota, sampai desa.

Seperti tampak di mata dunia, seni tradisional di sana sangat kental menampilkan ikon pertanian, dilihat dari moment, aksesories, “ritual”, seni rupa panggung (kebanyakan outdoor), dan interaksi dengan publik atau penonton. Orang bisa menikmati jathilan, topeng ireng, kubra siswa, truntung, warok bocah (dimainkan anak-anak), soreng, dll. dalam momen sepanjang tahun.

Kondisi ini bisa juga dilihat pada seni tradisional di gunung-gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Tidar, dan Menoreh. Mungkin Anda bisa sebutkan contoh kesenian tradisional yang masih kental bernuansa agraris. Bisa dibandingkan jumlahnya dengan kesenian yang tidak lagi berbau pertanian.

Sandyakala Negara Pertanian Indonesia

Tidak mengherankan, jika seni pertunjukan dan hiburan telah jauh dari icon dan narasi pertanian, maka generasi mendatang akan semakin dijauhkan dari tanah dan air di sekitarnya. Kuliner menjadi wisata, dedaunan menjadi aksesoris karnaval, sawah dan gunung menjadi background eksotis di tayangan film dan sinetron.

Jika seni tradisional telah kehilangan pijakan tempat kelahirannya, yaitu pertanian, orang semakin tidak mengenal Indonesia sebagai negara agraris.

Selamat menonton dan menyajikan kesenian agraris Indonesia. Mungkin Anda tidak bisa terlalu berharap pada televisi dan media yang sedang berpihak pada politik akhir-akhir ini. Berterimakasihlah pada televisi dan media yang diam-diam mengajak Anda langsung mendatangi para seniman, menari bersama mereka. Dan mematikan televisi. [dm]

What do you think?

6567 points
Upvote Downvote