in

Tidak Harus Video

Saya jarang buka YouTube yang berisi instruksi atau reparasi. Lebih sering, saya mempercepat video itu, sampai 2x speed. Atau mencari di mana intinya. Saya lebih suka baca transkrip video perkuliahan daripada menonton orang berbicara. Saya menghargai kejelasan dan kecepatan.

Sampai sekarang, saya belum menemukan daya tarik di balik “talk show” atau “podcast” yang disampaikan dalam bentuk video. Apakah saya harus menikmati pemandangan berupa wajah orang-orang itu? Atau saya tenggelam dalam emosi mereka?

Podcast menjadi sesuatu yang kabur.

Saya memilih teks jika harus teks, saya memilih image jika harus image, dan saya memilih video jika harus video.

Ketika membuka musik Jimi Hendrix, saya suka itu ditampilkan audio maupun video, karena musik maupun performance Jimi Hendrix bagus. Penjelasan instruksional, langkah demi langkah, tidak harus dalam bentuk video. Halaman berisi foto dan teks, sering lebih efisien.

Video yang kotor, di dalamnya terdapat noise. Tidak banyak menjelaskan alias intinya sedikit. Terutama pada video yang mengejar durasi dan disisipi, “Jangan lupa subscribe, comment, dan share..”.

Pilih tujuan kamu menyampaikan, sebelum keputusanmu mengatakan, “Ini harus dalam bentuk video”. Kemudahan strreaming, dalam bentuk video, banyak mengundang content yang tidak harus dalam bentuk video. Yang sangat menguras perhatian, bandwith, dan paket data.

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Setelah Tersesat, Terjadilah Interogasi

Sistem yang Menghasilkan Ide