in

Memperalat Orang Lain dengan “Berbagi Kebaikan”

Tren memperalat orang lain dengan dalih “berbagi kebaikan”.

Orang ingin membalas. Kebaikan dengan kebaikan. Bantuan dengan bantuan. Naluri ini bisa berubah menjadi egois, ketika orang ingin mendapatkan kebaikan (dan hasil yang lebih besar) dari orang lain.

Kebaikan menjadi pancingan. Interaksi, saling-balas, menciptakan kondisi “merasa bersalah”, “kurang sempurna”, jika tidak membalas kebaikan dengan kebaikan.

Namun, orang tidak suka buru-buru. Sekalipun kamu memakai kata “Tolong..”, “Maaf..”, “Terima kasih..”. Ketika kamu bersikap sopan, orang melihat ketergesa-gesaan. Seseorang yang ingin cepat mendapatkan hasil.

Kewajiban dalam hubungan timbal-balik “negatif” seperti ini, menjadi sesuatu yang ditanamkan (dari luar).

Tidak semua orang menilai secara sama. Sudut pandang orang yang sedang presentasi, dengan sulapan simulasi, skema viral, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Kalau mau berbeda, berikan sesuatu tanpa meminta imbalan. Datang dengan bangga, menunjukkan karya.

Biarkan orang lain menilai. Jika 1 orang menilai buruk, sebenarnya ia sangat baik hati, menjadi konsultan ahli yang mewakili sudut pandang konsumen, tentang apa yang buruk dari produk kamu.

Bisa jadi, cara kamu “meminta” perlu kamu ubah. Penilai dan pengkritik itu, membuatmu lebih berhati-hati. Kamu belajar mendengarkan apa kata orang lain.

Bukan hanya berbagi yang membutuhkan timbal-balik. Penilaian juga membutuhkan timbal-balik. [dm]

Memberikan Waktu

Bekerja dengan Deadline