(image credit: ariel davis)
in

Strategi Mengatasi Impostor Syndrome (Lebih Sering Terjadi pada Perempuan)

Kendalikan pemicunya. Buatlah manifesto kredibilitas. Lebih baik dari diri kamu sebelumnya. Hargai pencapaian, berani mengakui keburukanmu di catatan harian. Crowdsourcing. Self-care.

Impostor syndrome melihat orang lain lebih cerdas. Impostor syndrome merupakan ketidakmampuan untuk menginternalisasi pencapaian atau prestasi, merasa takut dianggap sebagai “penipu”, dan merasa tidak pantas atas kesuksesan yang mereka capai. Istilah ini dari psikolog klinis Pauline R. Clance dan Suzanne A, tahun 1978. Bukti kesuksesan mereka, tidak dianggap sebagai pencapaian hasil kerja-keras. Mereka mengatribusikan prestasi kepada keberuntungan, waktu yang tepat, atau sebagai hasil “menipu” orang lain.

Sering ditemukan pada perempuan, terutama perempuan berkarir.

Bentuk pengalaman yang memicu impostor syndrome: perfeksionisme, bekerja terlalu keras, mengurangi (membatasi) pencapaian, takut-gagal, dan mengabaikan pujian. Impostor syndrome bukan kelainan, sering terjadi, namun buruk bagi prestasi ke depan.

Mengatasi Impostor Syndrome

Impostor Syndrome mengarah kepada: “proscrastination” dan “overcompensation“.

Procrastination (Penundaan). Ini bisa dikerjakan nanti. Masih ada waktu. Deadline masih lama. Akhirnya, good bye. Waktu habis, pekerjaan tidak selesai. Tidak terjadi pencapaian.

Procrastination membuat kamu ragu sampai mental kamu menghalangi dirimu sendiri untuk ambil tindakan, mengabaikan peluang, menunda tugas, merasa butuh lebih banyak kualifikasi, habis merencanakan, menyusun strategi, terobsesi pada detail, dan [akhirnya] tidak melakukan apapun.

Overcompensation (Kompensasi Berlebihan). Apa yang kamu lakukan, tidak sepadan dengan hasil. Layanan dan kemampuan kamu tidak terjual. Kamu tidak bekerja, melainkan dikerjain klien. Akhirnya, kamu lelah bekerja namun hasilnya tidak memuaskan.

Strategi Mengatasi Impostor Syndrome

Impostor syndrome tidak sama dengan minder, berkecil-hati, atau tidak-percaya-diri. Impostor syndrome itu persoalan inner (batin)

Awasi Pemicu Impostor syndrome.

Tindakanmu terjadi karena pemicu. Membaca komentar negatif. Nilai menurun. Melihat orang yang terlalu jauh jarak kesuksesannya dibandingkan kamu. Sadari bahwa gejala impostor syndrome ada karena pemicu.

Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang mempengaruhi kamu, tetapi kamu bisa mengendalikan reaksi kamu jika pemicu itu datang. Sadari dulu kalau itulah pemicu tindakan kamu.

Buatlah “manifesto kredibilitas”

Misalnya: “Saya bisa mengubah ide dan gagasan kamu menjadi website”, atau “Saya bisa mempercepat Windows 10, kurang dari 15 menit”. Kamu punya kredibilitas, yang bisa kamu bangun, dan umpan-balik positif.

Yang penting, kamu melampaui diri kamu sebelumnya

Bukan melampaui orang lain. Siapapun memiliki pengalaman. Tujuan kamu bukanlah menjadi yang terbaik, bukan pula untuk mengalahkan orang lain, melainkan menjadi versi dirimu yang lebih baik daripada sebelumnya. Saya sudah membuat daftar-periksa agar lebih produktif dalam bekerja dan belajar.

Buatlah Gratitude Log dan Affirmation dalam Catatan Harian

Sangat berguna, menuliskan apa yang telah kamu capai hari ini di gratitude log, seperti ini: “Berhasil mendaftar 31 penyebab gagal memenuhi deadline”. Sangat berguna, kamu membuat pengakuan seperti: “Saya mudah mengatakan -jangan- dan menyalahkan orang lain”. Kamu bisa menulis catatan harian mulai sekarang.

Kamu tidak perlu memikirkan semuanya

Fokus pada yang sekarang, yang terberat, dan atasi masalah. Mulai dari mana? Fokus pada masalah dan kebutuhan klien. Fokus pada pertanyaan yang harus kamu selesaikan dalam pekerjaan ini. Membuat sesuatu adalah jalan terbaik untuk melakukan perbincangan dengan orang lain. Dengan membuat sesuatu (berkarya), orang lain bisa berkomentar dan menjadikan itu sebagai bahan perbincangan.

Berani melakukan crowdsourcing

Perlihatkan “kelemahan” kamu, jangan berorientasi kepada kesempurnaan, kabarkan apa yang sedang kamu buat. Saya bisa mendaftar 31 hal penyebab gagal memenuhi deadline, namun daftar ini terjadi dari wawancara melalui WhatsApp dengan kawan-kawan yang bekerja di media. Banyak salah-ketik sana-sini, belum saya periksa dengan cermat. Saya meminta perbaikan dan pendapat dari kawan-kawan lain. Mereka tidak anggap itu sempurna. Kritik mereka membuat saya mengerti di mana kelemahan saya. Dan lebih percaya diri. Tanpa berkarya dan bertindak, tidak ada bahan perbincangan menarik yang berasal dari diri kamu, untuk orang lain.

Self-care

Kamu itu unik, keren, dan bisa terlihat. Sayangi dirimu sendiri, jangan mengabaikan pencapaian dan prestasi yang kamu lakukan. [dm]

What do you think?

5447 points
Upvote Downvote